Mengapa Semakin Banyak Orang Menghafal Al-Qur’an Sebulan?

Hafal Quran Sebulan

Mengapa Semakin Banyak Orang Menghafal Al-Qur’an Sebulan?

 

Banyak orang penasaran mengapa program Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional sedemikian efektif dan efisien dalam kegiatan menghafal Al-Qur’an Sebulan di Indonesia yang kemudian diikuti oleh beberapa negara tetangga.

Fakta mencengangkan bahwa semakin hari semakin banyak para calon penghafal Al-Qur’an membuka website www.hafalquransebulan.com. Karena di website ini Alhamdulillah dibuka lebar-lebar mengenai tips dan rahasia resep keberhasilan program kami sebelum akhirnya calon peserta memutuskan untuk ikut karantina tahfizh yang setiap bulan sekali dibuka diikuti biasanya oleh 130-an peserta lebih, atas izin Allah Subhanahu Wata’ala.

Ikhtiar yang kami lakukan terhadap peserta Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional diantaranya yaitu memenuhi seluruh Neuro Logical Level (NLL) dikembangkan oleh Robert Dilts berdasarkan pemikiran awal dari Gregory Bateson. NLL ini berguna sekali dipakai sebagai model dalam menerapkan berbagai teknik NLP.

Anda tidak perlu terlalu pusing dengan istilah-istilah NLP dan NLL. Cukup daftar karantina tahfizh dan mengikuti kegiatannya maka NLL tersebut dapat Anda rasakan aplikasinya sebagai berikut:

 

 

1. Purpose (Level Spiritual)
Para peserta karantina tahfizh diarahkan mengenai suatu keyakinan berdasarkan dalil dan hadits yang shahih bahwa untuk siapa Anda menghafalkan Al-Qur’an?…

Ketika niat peserta sudah sejalan dengan Level Spiritual ini maka akan menjadi puncak penyemangat hidupnya untuk menjalani proses menghafal Al-Qur’an.

2. Identity (Identitas)
Mengenal diri sendiri mengenai siapa saya?… Oh saya adalah penghafal Al-Qur’an yang setiap hari menambah atau muraja’ah hafalan Al-Qur’an. Jika seseorang yang telah menghafal Al-Qur’an tidak melabelkan dirinya sebagai penghafal Al-Qur’an maka kemungkinan besar sudah tidak menghafal Al-Qur’an lagi. Namun jika seseorang berhasil mengenal dirinya sendiri sebagai penghafal Al-Qur’an maka akan memiliki tanggung jawab untuk menghafal dan muraja’ah hafalan Al-Qur’an.

3. Value and Beliefs (Nilai-nilai dan keyakinan)
Para peserta memahami nilai-nilai keutamaan yang akan didapatkan dari menghafal Al-Qur’an. Keyakinan-keyakinan apa yang mendasari seseorang melakukan sesuatu yang dalam hal ini aktivitas menghafalkan Al-Qur’an 30 Juz target sebulan dan muraja’ah seumur hidup.

Pembahasan ini diuraikan lebih panjang dibandingkan dengan metode menghafal Al-Qur’an. Sebab pada bagian ini menjadi dasar bagi penentuan sikap/attitude dalam proses menghafal Al-Qur’an.

4. Capability (Kemampuan)
Bagaimana cara praktek menghafal Al-Qur’an Sebulan sehingga dimampukan untuk menghafal Al-Qur’an dengan maksimal.
Di Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional Anda akan dilatih kemampuan berikut ini:
1) Tahsin Tilawah Tuntas
2) SOP Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
3) Teknik Pengkondisian Psikologis, Hypnosis Memorizing Qur’an
4) Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

5. Behaviour (Perilaku)
Selama di Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional perilaku dan pikiran apa yang terlihat oleh orang lain selama proses menghafal Al-Qur’an. Pada bagian ini menjawab apakah prosesnya betul-betul dilakukan sesuai dengan pembekalan dalam aspek Capability atau belum maksimal?

6. Environment (Lingkungan)
Pengkondisian lingkungan agar mendukung program menghafal Al-Qur’an yaitu dengan sistem Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional yang sudah didesain sedemikian rupa tempat, waktu dan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan ini sehingga peserta mampu mendapatkan manfaat yang maksimal sesuai dengan potensinya.

Yadi Iryadi, S.Pd.
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *