Menangis Karena Tidak Bisa Menangis ketika Membaca Ayat Al-Qur’an

Hafal Quran Sebulan

Menangis Karena Tidak Bisa Menangis ketika Membaca Ayat Al-Qur’an

Betapa menghafal Al-Qur’an membuat kesan yang mendalam bagi orang-orang yang dibukakan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk mengerti isi kandungannya melalui wasilah mendengarkan penjelasan guru ataupun karena menghafalkannya kemudian mengulang bacaannya sehingga berkesan dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari penghafalnya.

“..dan bahawasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”  (An-Najm : 43)

Menurut Ibnu Qayyim terdapat 10 Jenis Tangisan :

  1. Menangis kerana kasih sayang & kelembutan hati.
  2. Menangis kerana rasa takut.
  3. Menangis kerana cinta.
  4. Menangis kerana gembira.
  5. Menangis kerana menghadapi penderitaan.
  6. Menangis kerana terlalu sedih.
  7. Menangis kerana terasa hina dan lemah.
  8. Menangis untuk mendapat belas kasihan orang.
  9. Menangis kerana mengikut-ikut orang menangis.
  10. Menangis orang munafik yaitu pura-pura menangis.

Mari belajar dari tangisan Rasulullah, Shahabat, Tabi’in ketika mereka membaca Al-Qur’an. Dengan meneladani mereka ketika menghafal Al-Qur’an maka akan terasa betapa nikmatnya menghafal Al-Qur’an. Benar-benar menjadi penghilang penyakit pikiran berupa stres, frustrasi, cemas, gelisah dan sejenisnya. Bahkan Al-Qur’an juga akan menjadi obat penyakit hati dari bahaya riya, sum’ah, ujub, takabbur, hasad, bakhil dan sebagainya.

Orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah Subhanahu Wata’ala yang tertuang di dalam kitab suci-Nya maka tidak akan ada rasa sedih, khawatir dan tidak pula rasa takut.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman.

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya: “….. maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka besedih hati”. (QS. Al-Baqarah: 38)

Penulis mendengar penyampaian ilmu ini dari guru tahfizh sewaktu kultum menjelang setoran hafalan Al-Qur’an. Beliau mulai bercerita dan ceritanya persis sama dengan isi buku Karya Muhammad Syauman berjudul Nikmatnya Menangis bersama Al-Qur’an.

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, menuturkan, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “ Bacakan (Al-Qur’an) untukku!..” Aku pun bertanya, “Saya membacakan (Al-Qur’an) untuk Anda?” Beliau menjawab, “Aku ingin mendengarnya dari selain diriku.” maka ku bacalah surah An-Nisa, sehingga ketika sampai pada ayat:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاءِ شَهِيدًا

Artinya: “Maka bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu. (QS. An-Nisa: 41)

Beliau berkata, “Cukup!” (dalam riwayat lain berbunyi, “Hentikan bacaanmu.” Ku lihat kedua mata beliau melehkan air mata.

lbnu Bathal berkata, ”Nabi menangis saat dibacakan ayat ini karena beliau membayangkan kengerian hari Kiamat dan beratnya keadaan yang mengharuskan beliau bersaksi atas umat bahwa mereka benar-benar umat beliau. Juga, bahwa beliau akan memintakan syafaat bagi semua yang menunggu (Pengadilan Allah). Semua ini layak untuk membuat tangis beliau berkepanjangan.”

Al-Hafizh llbnu Hajar berpendapat, “Yang jelas, beliau menangis karena beliau mengasihi umatnya.

Beliau tahu bahwa beliau harus bersaksi atas semua amal mereka, padahal terkadang amal mereka tidak lurus; dan itu akan mengantarkan mereka kepada siksa. Wallahu a’lam.

Al-Maraghi menulis, “Lihatlah bagaimana sang saksi agung (Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam) merenungkan kesaksian ini, lantas dia menangis lantaran mengingat hari itu!

Maka apakah kita juga merenungkannya seperti dia? Apakah kita juga bersiap-siap menghadapi kengerian hari itu dengan mengikuti sunahnya dan bersungguh-sungguh menjauhi segala hal yang dilarangnya?…

Bersambung… berikutnya Insyaa Allah tangisan shahabat…, Tabi’in dan umat Islam masa kini.

Mulai sekarang bacalah beberapa ayat, renungi tadabbur maknanya dengan melihat terjemah kemenag dan terjemah per kata. Jika ada hal yang belum paham maka tanyakanlah kepada orang yang mengetahui maknanya yaitu para ulama yang mendalami bidang Al-Qur’an.

Saat membaca Al-Qur’an dijiwai sepenuh hati maka akan sangat terasa kenikmatannya yang luar biasa dan efeknya yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang mencobanya.

Jika belum mampu menangis ketika membaca Al-Qur’an maka menangislah ketika membacanya karena merasa tidak bisa menangis. Tentu dalam hal ini berbeda halnya dengan pura-pura menangis, meskipun ada sebagian ulama menganjurkan pura-pura menangis ketika membaca ayat tentang azab Allah karena berlatih takut dengan azab dan peringatan dari Al-Qur’an. Dengan suara murattal yang indah dan sedih tentu akan sangat nikmat, pikiran dan hati terasa plong dan semakin optimis menjalani kehidupan dunia untuk bekal akhirat.

Semoga Allah memberikan hidayah taufiq kepada kita semua, Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Yadi Iryadi
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Licensed Practitioner Neuro Linguistic Programming
Master Coach HypnoTahfizh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *