“Tuhan-tuhan” (Ilah) Lain Yang Menggoda Penghafal Al-Qur’an

Hafal Quran Sebulan

“Tuhan-tuhan” (Ilah) Lain Yang Menggoda Penghafal Al-Qur’an

Sebagaimana diketahui bahwa ada sebagian manusia yang menuhankan uang, jabatan, manusia, perempuan, organisasi, bahkan apapun bisa dituhankan oleh mereka.

Jika seseorang bergerak melakukan sesuatu demi sesuatu, digerakkan oleh motivasi sesuatu untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu demi sesuatu itu maka itulah tuhan mereka.

Bahkan dalam ajaran Islam apabila mengamankan duri di jalan raya dilakukan dengan niat karena Allah maka berpahala. Bagi seorang muslim melakukan suatu kebaikan itu harus karena Allah juga meninggalkan suatu keburukan itu karena Allah Subhanahu Wata’ala apalagi dalam menghafal Al-Qur’an Al-Karim.

Ilah atau Ma’bud sering juga diartikan sebagai “Tuhan”, namun sebenarnya arti Ilah adalah “segala sesuatu yang diabdi, ditaati, atau disembah” Ilah bisa berupa manusia, barang, kesenangan atau hal-hal yang mendatangkan kesenangan maupun ketenangan.

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya: Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali-Imran: 18)

Allah Subhanahu Wata’ala telah menurunkan kibat suci berupa Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an. Sebagai seorang muslim mari menjaga Al-Qur’an Al-Karim melalui mempelajari cara membacanya, menghafalkannya, memahami dan berusaha mengamalkannya semampu batas maksimal yang bisa kita lakukan dengan mengharapkan pertolongan dan Ridha dari-Nya.

Tauhid yang benar-benar mengesakan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai tuhan yang berhak untuk disembah, ditaati dalam kehidupan sehari-hari di dunia untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Sedangkan menuhankan selain Allah akan berakibat sengsara yang berkepanjangan baik di dunia maupun di akhirat.

Terlebih seorang calon penghafal Al-Qur’an yang saat ini membaca tulisan ini semoga dapat memurnikan niat menghafal Al-Qur’an hanya karena Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan memurnikan niat hanya karena Allah maka kesulitan apapun dalam menghafal Al-Qur’an menjadi tidak berarti.

Saya menasehati diri saya sendiri dan juga pembaca tulisan ini hendaklah seorang penghafal Al-Qur’an tidak seperti mereka yang dipikulkan kepadanya kitab Taurat. Yaitu mereka mengetahui kebenaran namun mereka mendustakannya dengan tidak mengamalkan isi kandungannya. Berikut ini firman Allah Subhanahu Wata’ala:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya: Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tidak memikulnya (mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS. Al-Jumuah: 5)

Menuhankan Allah Subhanahu Wata’ala akan tercermin dalam ketaatan kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya yang semua itu terangkum di dalam Al-Qur’an, Hadits dan penjelasan para shahabat, tabiin, tabiut tabiin dan ijma, qiyas para ulama yang semuanya berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnahnya.

Sebenarnya siapapun dapat menghafalkan Al-Qur’an dalam waktu singkat bahkan oleh orang kafir dan munafik sekalipun. Namun perbedaan pastinya hanya orang-orang beriman saja yang mampu meluangkan waktunya secara khusus untuk muraja’ah membaca Al-Qur’an karena kecintaan pada Allah Subhanahu Wata’ala.

Jika motivasinya karena uang, jabatan, harta, benda, kendaraan, perempuan dan hal yang bersifat duniawi maka menghafal Al-Qur’an hanya sebatas mendapatkan apa yang diniatkannya. Namun apabila niatnya karena Allah maka Allah akan memberikan segala kebaikan dunia akhirat kepada orang yang menghafalkan Al-Qur’an bahkan lebih baik dibandingkan orang-orang lain yang berdoa meminta fasilitas duniawi.

Memohon petunjuk dan pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala semoga segala aktivitas kita mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an mendapatkan Ridha-Nya dan dijauhkan dari gangguan yang bersifat duniawi. Biarkanlah uang, jabatan, harta, benda, sawah, ladang, kendaraan, dan berbagai fasilitas tersebut hanya ada di tangan namun tidak masuk ke dalam hati. Mari bersama berdoa.

رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُولًا

Artinya : Saya ridha Allah sebagai Rabb (Tuhan) kami, Islam sebagai agama kami dan Muhammad SAW. sebagai Nabi dan Rasul kami.

Yadi Iryadi
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Licensed Practitioner Neuro Linguistic Programming

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *