Tidak ! Bukan Aku yang Terbaik

Hafal Quran Sebulan

Tidak ! Bukan Aku yang Terbaik

Tidak ! Bukan Aku yang Terbaik

Testimoni Alumni

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

” Ta’awawudz terdengar lantunan ayat pun secara perlahan dibaca olehNya, tak genap satu ayat dibaca olehny, tiba-tiba terdengar isak tangis, semakin dia teruskan dalam membaca, semakin keras isak tangisnya, bukan pula karna dia memahami makna ayat tersebut, bukan pula karna dia teringat orang tua dirumah, melainkan Riya’ yang dia takutkan dan sulitnya untuk beristiqomah “.

ya, dia adalah aku, seorang mahasiswa di sekolah tinggi yang terletak tidak jauh dari rumahya, dan dia mengambil jurusan Matematika, dialah aku, Urwah bin Shaprialdi. Mahasiswa yang baru masuk di semester 3, dan mengambil untuk cuti kuliah demi menghafal Al-Quran.

Tiba di Yayasan Karantina Tahfizh Al-Quran Nasional pada tanggal 4 Agustus 2018, lalau ke esokan harinya mengikuti seluruh rangkaian pembukaan acara, yap, aku hanya seorang mahasiswa, yang dimana jurusanku pun jauh dari mempelajari Al-Quran.

Hari pertama aku berfikir dan bertekad bahwa aku harus menjadi yang terbaik, bahkan berfikir bahwa aku harus mengalahkan yang lain,

 ” Ha ha ha… akupun tertawa ketika melihat beberapa peserta lain ada yang sudah hafal 20 juz, 10 juz, 5 juz dan lainya….”

aku bukan memtertawakan mereka, melainkan menertawakan diriku sendiri, target yang ku pasang terlihat sangat konyol dan tidak mungkin setelah melihat beberapa peserta lainya, ini sangat mustahil, pun setelah itu aku tersadar, bahwa apa yang aku tekadkan diawal adalah salah. cukup jadi diri sendiri dan lakukan yang terbaik serta minta hidayah dan pertolongan dari Allah SWT.

Pembaca yang dirahmati Allah, akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengalahka mereka, tapi cukup kalahkan diri sendiri,kalahkan rasa malas, kalahkan rasa capek, kalakan bisikan-bisikan yang mengajak diri kepada hal-hal yang tidak bermanfaat, jika itu yang anda lakukan, dan anda berusaha dengan usaha terbaik,  maka anda adalah yang terbaik diantara yang lain, dan itu yang aku lakukan.

pada akhir minggu pertama, Ust. Yadi memberikan beberapa tips agar menghafal menjadi lebih nikmat, dan ketika itu, aku benar-benar memperhatikan dan mencatat apa yang beliau sampaikan dan mengamalkanya. Diantara yang beliau sampaikan ialah, saat ketika menghafal, peran terbesar yang memudahkan kita dalam menghafal ialah fikiran dan perasaan. Beliau menjelaskan bahwa ada beberapa poin penting yang terdapat pada 2 hal ini, yaitu Ikhlas, fokus, nyaman, disiplin, tenang, bahagia, syukur, dan yakin. Dan benar saja ketika saya mengikuti dan mengamalkan apa yang beliau sampaikan, dengan rahmat dan dari Allah dan keagunganya. dan Alhamdulillah saya menyelesaikan setoran 30 juz hanya dalam waktu 20 hari dengan modal stok hafalan 5 juz.

pada pertengahan minggu ke dua banyak peserta yang mendatangi saya untuk diajarkan cara menghafal denga cepat, lalu saya katakan, “tidak ada cara untuk menghafal dengan cepat, yang ada ialah bagaimana cara agar ketika menghafal, kita mudah atau cepat memahami kandungan ayat tersebut, yang dengan cara mengkondisikan pikiran dan perasaan, dengan kita memahami kandungan ayat, maka akan memudahkan dan mempercepat kita dalam menghafal.

 

Mengenali kelemahan diri juga penting dalam menghafal Al-Quran, sebagai contoh, saya tipe orang yang susah untuk fokus, maka saya ketika menghafal selalu menghadap dinding agar fokus saya hanya ke Al-Quran, dan beberapa metode dalam menghafal Al-Quran dari Ust. Yadi dan teman-teman saya rubah sedemikian rupa hingga cocok untuk diri saya.

Metode Menghafal ialah, pertama baca minimal 5 kali/halaman yang ingin di hafal, 2 kali secara lambar dan 3 kali secara cepat, lalu dibagi menjadi 3  bagian, dan mulai menghafal perbagian tersebut dengan menggunakan artinya, maka segala puji bagi Allah atas kebesaranya, saya selesai menyetorkan 30 juz dalam waktu 20 hari, terima kasih YKTN dan untuk semua kawan-kawan seperjuangan. disini kita di biasakan untuk berlama-lama dengan Al-Quran, dan pesan saya,

“Tidak penting seberapa banyak kita menghafal, tetapi seberapa konsisiten kita dalam menghafal….” to be continue…..

 

 

oleh : Urwah bin Shaprialdi, Mahasiswa STKIP Insan Madani, Indragiri Hulu Riau

Alumni Yayasan Karantina tahfizh Al-Quran Nasional Angkatan ke 34.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *