Menata Ruang Fisik dan Mental Peserta Karantina Tahfizh

Hafal Quran Sebulan

Menata Ruang Fisik dan Mental Peserta Karantina Tahfizh

Tempat menghafal Al-Quran merupakan salah satu rahasia dari karantina tahfizh Al-Quran sehingga mampu mengoptimalkan seluruh waktu untuk menghafal Al-Quran tanpa rasa bosan 12 jam per hari. Ruangan tempat belajar memang penting, akan tetapi ruangan mental dalam pikiran para penghafal Al-Quran juga sangat penting. Ruangan fisik yang nyaman belum tentu menjadikan ruang mental mereka nyaman dalam menghafal Al-Quran. Apabila ruang mental sudah dikondisikan nyaman maka sekacau apa pun ruangan fisik tidak terlalu masalah. Motivasi menghafal Al-Quran senantiasa tumbuh dan saling menyemangati antara satu peserta dengan peserta lainnya karena menata ruangan mental dan ruang fisik untuk mendukung suasana kondusif hafalan Al-Quran.

Sebelum membahas mengenai membereskan ruang mental para penghafal Al-Quran, mari kita bahas terlebih dahulu ruang tempat fisik menghafalkannya. Ruang belajar merupakan sarana yang mendukung proses menghafal Al-Quran. Tidak semua ruangan cocok untuk menghafal Al-Quran. Karena itu, pada bagian ini akan dijelaskan ruangan yang cocok bagi aktivitas menghafal Al-Quran di karantina tahfizh. Berikut ini kriteria ruangan yang kondusif, yaitu:

  1. Suhu ruangan idealnya tertutup tapi tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin juga tidak pengap. Sirkulasi udara di ruangan karantina tahfizh harus lancar. Apabila ruangan pengap maka peserta akan kekurangan oksigen sehingga tidak akan betah berlama-lama di dalam ruangan. Ruangan ber-AC cukup bagus, akan tetapi lebih ideal apabila udara oksigen alami masuk dari luar.
  2. Ruang terbuka atau taman memang nyaman untuk menghafal Al-Quran. Akan tetapi apabila ruang mental belum disiapkan maka yang terjadi akan disibukkan oleh pemandangan yang membuat terlena dalam lamunan. Hendaknya di mana pun penghafal Al-Quran menghafal bisa memosisikan ruang mental khusus untuk fokus menghafal Al-Quran.
  3. Dalam satu ruangan semua peserta harus melakukan aktivitas yang sama yaitu menghafal Al-Quran. Apabila ada orang lain yang melakukan aktivitas lain maka merusak konsentrasi para penghafal Al-Quran. Namun hal ini tidak akan menjadi gangguan yang berarti apabila ruang mental penghafal Al-Quran sudah ditata rapi.
  4. Suasana ruangan yang berisik dengan bacaan Al-Quran tidak jadi masalah, bahkan justru menjadi penyemangat para peserta dalam menghafal Al-Quran. Akan tetapi, suara yang berisik membuat para penghafal Al-Quran cepat lelah dalam menghafal. Oleh karena itu, peserta sebaiknya menggunakan standar metode Yadain Litahfizhil Quran agar ketika menghafal bisa disuarakan dalam hati namun suara masih terdengar oleh suara masing-masing. Adapun suara yang mengganggu itu biasanya suara-suara lain yang tidak berkaitan dengan Al-Quran. Namun lagi-lagi, apabila ruang mental peserta sudah ditata rapi maka suara musik-musik dari tetangga yang kebetulan hajatan pun tidak menjadi gangguan yang berarti bahkan sama saja karena konsentrasi fokus menghafal Al-Quran.
  5. Menempatkan poster-poster motivasi ruhiyah sehingga peserta senantiasa memperbaiki niat dalam menghafal Al-Quran. Apabila niat menghafal Al-Quran lillahi ta’ala maka proses menghafal Al-Quran seringkali mengalami keajaiban di luar nalar manusia. Keberadaan poster-poster motivasi merupakan ikhtiar seperti halnya garpu tala yang dipukul maka akan menggetarkan dan membunyikan garpu tala lainnya yang satu frekuensi. Apabila seluruh peserta sudah berniat ikhlas karena Allah menghafal Al-Quran maka hal ini mudah bagi Allah untuk menjadikan seseorang hafal Al-Quran. Biidznillah dengan kemukjizatan Al-Quran.

Sandal yang ditata rapi mencerminkan ruang hati para penghafal Al-Quran kondusif. Begitu pula kebersihan tata ruangan dengan kesadaran membuang sampah pada tempatnya dan merapikan suasana halaqah merupakan cermin dari ruang mental peserta karantina tahfizh dalam keadaan rapi. Akan tetapi, apabila sandal berantakan dan halaqah banyak menghabiskan waktu dengan ngobrol tanpa efektivitas hafalan Al-Quran maka ini menandakan bahwa ada yang kurang beres dengan ruang mental para penghafal Al-Quran. Apa yang tampak di luar mencerminkan apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan mereka. Hal ini harus diwaspadai dengan hati-hati bahwa jika ada satu orang yang mengeluh maka akan merembet pada teman lainnya yang juga mengeluh. Oleh karena itu, pemanggilan terhadap peserta yang memerlukan penanganan khusus harus segera diatasi sampai tuntas. Biasanya hal ini terjadi di pekan pertama namun setelah diatasi maka pekan ke-2 dan seterusnya akan berjalan dengan akselerasi atas kemudahan yang dibuka oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Para penghafal Al-Quran khususnya bagi pemula biasanya akan merasakan kesulitan menghafal pada awal-awal menghafal Al-Quran. Apabila tahsin tilawah Al-Quran sudah bagus namun masih kesulitan juga maka biasanya karena membawa permasalahan pribadi dari rumah. Ini tidak boleh dibiarkan. Harus segera ditangani dengan konsultasi, konseling, coaching, bahkan training untuk kembali memahami dan mengaplikasikan sistem dan metodologi yang seharusnya dilakukan.

Membereskan ruang fisik memang mudah dan menjaga kebersihan dengan kesadaran bersama juga mudah dilakukan. Akan tetapi, untuk mendeteksi ruang mental para peserta penghafal Al-Quran memerlukan kepekaan muhaffizh/ah terhadap respon-respon idiomotorik mereka. Cara mudahnya yaitu amati tingkah laku peserta.

Indikator peserta yang memerlukan konsultasi khusus:

  1. Merasa gelisah ketika menghafalkan Al-Quran;
  2. Tergesa-gesa dan kurang sabar dalam proses menghafal Al-Quran;
  3. Menangis karena kesulitan menghafal Al-Quran;
  4. Banyak berkeluh kesah;
  5. Menghabiskan waktu dengan mengajak ngobrol teman lainnya;
  6. Banyak alasan untuk tidak hadir di halaqah;
  7. Menyendiri dan menyepi dengan alasan tidak konsentrasi;
  8. Merasa terganggu dengan bacaan Al-Quran temannya;
  9. Mengeluhkan segala sesuatu dan menyalahkan segala hal yang menurutnya bisa disalahkan atau dicari-cari kesalahannya;
  10. Terlihat ekspresi: stres, cemas, gelisah, frustrasi, minder, putus asa, mogok menghafal dan sebagainya.

Pengkondisian mental para penghafal Al-Quran di karantina tahfizh sudah disiapkan sejak hari pertama menghafal Al-Quran sehingga biasanya tidak terjadi. Adapun apabila terjadi gangguan ruang mental para penghafal Al-Quran seperti tersebut di atas biasanya disebabkan karena peserta tidak mengikuti secara langsung pembukaan dan pembekalan metodologi menghafal Al-Quran disebabkan suatu hal misalnya telat hadir di karantina tahfizh atau karena mengikuti program karantina tahfizh pada pekan berikutnya serta belum mengikuti pembekalan metode. Apabila hal ini terjadi pada Anda ketika di karantina tahfizh, maka hendaknya hubungi muhaffizh atau muhaffizhah untuk mendapatkan metodologi dan sistem karantina tahfizh yang seutuhnya.

Pembekalan sistem dan metodologi pada intinya merupakan tahap persiapan menempatkan ruang mental agar siap menyimpan hafalan Al-Quran sehingga menjadi hafalan yang lebih mudah dikembalikan kelancarannya, atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Nasihat KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA., Al-Hafizh, pernah menyampaikan bahwa hati yang bersih seperti tanah yang subur yang siap ditanami hafalan sehingga bisa tumbuh dengan baik. Menghafal Al-Quran merupakan amalan qalbu sehingga hendaknya para penghafal Al-Quran dapat memurnikan niat lillahi ta’ala dalam semua ibadah.

Yadi Iryadi, S.Pd.
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Quran Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Quran

www.hafalquransebulan.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *