Hafal Quran Sebulan Bukan untuk Mengejar Gelar Al-Hafizh atau Pujian Manusia

Hafal Quran Sebulan

Hafal Quran Sebulan Bukan untuk Mengejar Gelar Al-Hafizh atau Pujian Manusia

Wisuda Hafal Quran Sebulan

Kesalahan Niat Hafal Quran Sebulan

Kalau sekadar menginginkan nama ‘Al-Hafizh’ maka ubah saja akhiran nama Anda dengan ‘Al-Hafizh’. Namun tidak memiliki hafalan Al-Quran sama sekali karena tidak mau berproses untuk menghafalkanya. Jika sekadar gelar maka betapa banyak mahasiswa yang belajar hanya untuk mencari gelar-gelar akademik maupun gelar-gelar non akademik namun tidak disertai dengan ilmu yang seharusnya mereka pelajari. Malas membaca, malas hadir di kelas, malas mengulang kembali pelajaran yang seharusnya dipelajari, dan belajar hanya sekadar untuk memenuhi keperluan nilai-nilai ujian semester. Ini merupakan musibah akibat dari kesalahan niat hanya sebatas mencari gelar.

Program Hafal Quran Sebulan sebaiknya diniatkan untuk mendapatkan Ridha Allah, Surga tertinggi, dan dijauhkan dari api neraka. Adapun gelar Al-Hafizh merupakan identitas yang disematkan oleh orang lain pada para penghafal Al-Quran. Mereka telah berhusnuzhan terhadap para penghafal Al-Quran bahwa ia sudah menghafalkan Al-Quran 30 juz dan rajin menjaga hafalan juga menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Quran. Karena itu, gelar ‘Al-Hafizh’ ini merupakan pujian yang cukup berat dan harus ditanggung oleh para penghafal Al-Quran dengan senantiasa istikamah belajar dan mengajarkan Al-Quran agar menjadi mulia di sisi Allah Subhanahu Wata’ala.

Hafal Quran Sebulan Amalan Besar yang Sia-sia Jika Tidak Ikhlas

Meskipun menghafal Al-Quran memiliki keutamaan yang begitu besar di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala, apabila seseorang menghafal Al-Quran hanya berharap pujian dari manusia maka dia hanya mendapatkan pujian tersebut namun tidak mendapatkan pahala di sisi Allah. Bahkan hanya mendapatkan dosa dari riya’ yang dilakukannya. Terlebih riya’ ini merupakan syirik kecil yang menggugurkan pahala-pahala menghafal Al-Quran. Maka hendaknya penghafal Al-Quran menyadari hal ini dan memohon perlindungan dari Allah Subhanahu Wata’ala agar dikaruniakan keikhlasan dalam setiap beribadah, termasuk juga dalam ibadah menghafal Al-Quran.

Kejadian Nyata di Karantina Hafal Quran Sebulan

Kesalahan niat menghafal Al-Quran bukan saja menggugurkan pahala melainkan juga menjadi beban ketika proses menghafalkannya. Penulis pernah mendapati salah satu peserta karantina tahfizh yang begitu semangat menghafal Al-Quran namun sehari hanya mendapatkan satu atau dua halaman saja dari durasi belajar 12 jam setiap harinya. Bacaannya sudah sesuai kaidah tajwid, peraturan karantina tahfizh juga sudah dipatuhi dengan baik, metodologi juga sudah dipraktikkan semaksimal mungkin namun tetap saja dalam kesulitan menghafal Al-Quran. Ketika coaching penanganan kesulitan menghafal Al-Quran ternyata didapati bahwa dia semangat menghafal Al-Quran karena ibunya berkata bahwa, “Kamu harus selesaikan hafalan 30 juz sebulan karena ibu sudah membanggakan kamu di depan teman-teman ibu pada waktu arisan.” Sebagai anak tentu saja tidak mau membuat ibunya kecewa atau pun malu. Karena itu, ia begitu bersemangat dalam menghafal Al-Quran demi membahagiakan ibundanya. Akan tetapi, apa yang terjadi ternyata Allah tidak membukakan kemudahan itu. Justru yang ada adalah ia kesulitan menghafal Al-Quran karena selama proses menghafalkannya ia merasa stres, tertekan, minder, putus asa, malu, khawatir, dan perasaan lain yang merenggut fokusnya dari hafalan Al-Quran.

Coaching Penanganan Kesulitan Peserta Hafal Quran Sebulan

Setelah selesai curhat kemudian orang tuanya penulis telepon dan mengakui kesalahan niat yang dilakukannya. Setelah itu, barulah si anak yang sedang berada di karantina tahfizh merasakan terbebas dari niatan-niatan lain yang menghalangi fokus dari hafalan Al-Quran. Alhasil, setiap hari ia mampu menghafalkan Al-Quran belasan halaman kemudian di pekan ke tiga mampu menghafal Al-Quran di atas 20 halaman per hari dan di pekan ke empat mampu menghafal di atas 30 halaman per hari bahkan sesekali 40 halaman per hari di pekan ke lima. Alhamdulillah akhirnya ia mampu menghafalkan khatam perdana 25 juz dalam waktu sebulan. Pekan pertama ia merasakan kesulitan karena kesalahan niat yang kemudian ia perbaiki pada pekan kedua menjelang pekan ke-3.

Pendapat Para Ulama Terdahulu Mengenai Hafal Quran

Di dalam tafsirnya Al-Jami’ Lil Ahkam Al-Qur’an bahwa, “Hal pertama yang harus diperhatikan oleh shahibul-quran adalah mengiikhlaskan niat dalam mempelajari Al-Quran, yaitu semata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana telah kami sebutkan. Dan hendaknya ia mencurahkan jiwanya untuk membaca Al-Quran, baik malam maupun siang hari, dalam shalat maupun di luar shalat, agar tidak lupa.”

Jika menghafal Al-Quran karena berharap pujian manusia sebenarnya ia sedang beramal dengan amalan yang besar tetapi tidak memiliki pahala apa-apa di hadapan Allah. Bahkan itu diancam berdosa dengan siksa-Nya. Sebagaimana Imam Nawawi berkata di dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn Al-Hajjaj bahwa, “Amalan seseorang yang hanya menginginkan pujian dari orang lain adalah amalan yang batil, tidak berpahala bahkan ia akan mendapatkan dosa.”

Amalan hafalan Al-Quran mampu mengantarkan seseorang menuju surga Allah tetapi jika tidak ikhlas maka tidak akan masuk ke dalam surga bahkan mencium wanginya pun tidak akan bisa. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharapkan adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Seseorang bisa saja merasa sudah ikhlas dalam menghafal Al-Quran. Namun jika di dalam hatinya masih tersimpan keinginan untuk dihormati karena Al-Quran yang sudah dihafalnya maka sebenarnya keikhlasan tersebut telah tersingkirkan oleh harapan dan keinginannya. Beliau mengutip perkataan Ibn al Qayyim al-Jauziyyah (w 751), di dalam al-Fawa’id bahwa, “Ikhlas di dalam hati seseorang tidak mungkin menyatu dengan harapan akan pujian, sanjungan, dan keinginan terhadap apa yang dimiliki manusia, melainkan seperti air dengan api yang tidak dapat menyatu.”

Pujian Hanya untuk Allah

Seorang penghafal Al-Quran entah itu mengharapkan pujian dari orang lain maupun tidak, sebenarnya pujian itu memang pantas didapatkan. Betapa tidak, amalan menghafal Al-Quran merupakan amalan yang istimewa dan setiap mukmin pasti menginginkannya. Namun jika tujuannya hanya ingin mendapatkan pujian maka hendaknya mengikhlaskan diri bahwa apa yang diperolehnya merupakan karunia dari Allah Subhanahu Wata’ala. Allah yang lebih berhak untuk dipuji karena jika bukan karena kehendaknya maka tidak ada seorang pun yang dimampukan oleh Allah untuk menghafal Al-Quran.

Hendaknya para peserta Hafal Quran Sebulan maupun calon-calon peserta, harus sebisa mungkin memurnikan niat menghafal Al-Quran hanya karena berharap rida Allah. Adapun hal-hal lain yang didapatkan setelah menghafal Al-Quran dan mengajarkannya maka itu pun karunia Allah. Pujian lebih pantas kita berikan kepada para penghafal Al-Quran dalam arti kita ingin mendapatkan kemuliaan “Al-Hafizh” sebagaimana Allah memuliakan para penghafal Al-Quran.

Tunjukkan akhlak yang baik bahwa riya’ itu bukan untuk menghukumi hafalan Al-Quran orang lain, melainkan upaya cermin perbaikan niat sebagai introspeksi diri agar kita mampu mengikhlaskan niat lillahi ta’ala. Adapun jika menuduh semua peserta program Hafal Quran Sebulan itu riya’ maka ini pun su’uzhan yang harus dihindari. Terlebih menghindari hafalan Al-Quran karena takut riya’ maka ini pun salah kaprah yang harus dihentikan. Intinya kita harus menghafal Al-Quran karena berharap rida Allah.

Yadi Iryadi, S.Pd

Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Quran Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Quran

www.hafalquransebulan.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *