Hafal Quran Sebulan Bukan untuk Mengejar Gelar Al-Hafizh atau Pujian Manusia

Hafal Quran Sebulan

Hafal Quran Sebulan Bukan untuk Mengejar Gelar Al-Hafizh atau Pujian Manusia

Karantina-Hafal-Quran-Sebulan-8

Mistakes of Intentions to Memorize Al-Quran for a Month

If you just want the name ‘Al-Hafizh’ then just change the ending of your name to ‘Al-Hafizh’. But they don’t have memorized the Koran at all because they don’t want to go through the process of memorizing them. If it is just a degree, how many students study only to seek academic degrees or non-academic degrees but are not accompanied by the knowledge they should learn. Lazy to read, lazy to attend class, lazy to repeat lessons that should be studied, and studying just to meet the needs of semester exam grades. This is a disaster as a result of the wrong intention to only seek a title.

One month’s Quran memorization program should be intended to get the Ridha of Allah, the highest Heaven, and be kept away from the fires of hell. The title Al-Hafizh is an identity that is pinned by other people to memorizers of the Koran. They have persuaded the memorizers of the Al-Quran that they have memorized the 30 juz Al-Quran and are diligent in memorizing and maintaining the values ​​contained in the Al-Quran. Therefore, the title ‘Al-Hafizh’ is quite a compliment and must be borne by the memorizers of the Koran by always studying and teaching the Koran to be glorious in the sight of Allah Subhanahu Wata’ala .

Memorizing Al-Quran for a month of great deeds that are in vain if you are not sincere

Although memorizing the Al-Quran has such great virtue in the presence of Allah Subhanahu Wata’ala,  if someone memorizes the Koran only hoping for praise from humans then he only gets that praise but does not get reward with Allah. Even just getting a sin from  riya ‘  he did. Moreover,  riya ‘  is a small shirk that aborts the rewards of memorizing the Koran. So the Al-Quran memorizer should be aware of this and ask for protection from Allah  Subhanahu Wata’ala  so that he will be granted sincerity in every worship, including in the worship of memorizing the Quran.

Real events in the one-month Al-Quran memorization quarantine

The mistake of intending to memorize the Al-Quran not only abuses merits but also becomes a burden when memorizing it. The author once found that one of the participants in the tahfizh quarantine was very enthusiastic about memorizing the Al-Quran but a day only got one or two pages of the 12 hour study duration per day. The reading is in accordance with the rules of tajwid, the rules for quarantine tahfizh have also been followed properly, the methodology has also been practiced as much as possible but still in difficulty memorizing the Al-Quran. When  coaching In handling the difficulty of memorizing the Al-Quran, it turned out that he was enthusiastic about memorizing the Koran because his mother said that, “You have to finish memorizing 30 juz a month because I made you proud in front of your friends during the social gathering.” As a child, of course, he didn’t want to make his mother disappointed or embarrassed. Because of that, he was so passionate about memorizing the Koran to make his mother happy. However, what happened was that Allah did not reveal the ease. In fact, what exists is that he has difficulty memorizing the Al-Quran because during the memorization process he feels stressed, depressed, insecure, hopeless, embarrassed, worried, and other feelings that take his focus away from memorizing the Koran.

Coaching for the Handling of Difficulties for Participants to Memorize the Quran for a Month

Setelah selesai curhat kemudian orang tuanya penulis telepon dan mengakui kesalahan niat yang dilakukannya. Setelah itu, barulah si anak yang sedang berada di karantina tahfizh merasakan terbebas dari niatan-niatan lain yang menghalangi fokus dari hafalan Al-Quran. Alhasil, setiap hari ia mampu menghafalkan Al-Quran belasan halaman kemudian di pekan ke tiga mampu menghafal Al-Quran di atas 20 halaman per hari dan di pekan ke empat mampu menghafal di atas 30 halaman per hari bahkan sesekali 40 halaman per hari di pekan ke lima. Alhamdulillah akhirnya ia mampu menghafalkan khatam perdana 25 juz dalam waktu sebulan. Pekan pertama ia merasakan kesulitan karena kesalahan niat yang kemudian ia perbaiki pada pekan kedua menjelang pekan ke-3.

Pendapat Para Ulama Terdahulu Mengenai Hafal Al-Quran

Di dalam tafsirnya Al-Jami’ Lil Ahkam Al-Qur’an bahwa, “Hal pertama yang harus diperhatikan oleh shahibul-quran adalah mengiikhlaskan niat dalam mempelajari Al-Quran, yaitu semata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana telah kami sebutkan. Dan hendaknya ia mencurahkan jiwanya untuk membaca Al-Quran, baik malam maupun siang hari, dalam shalat maupun di luar shalat, agar tidak lupa.”

Jika menghafal Al-Quran karena berharap pujian manusia sebenarnya ia sedang beramal dengan amalan yang besar tetapi tidak memiliki pahala apa-apa di hadapan Allah. Bahkan itu diancam berdosa dengan siksa-Nya. Sebagaimana Imam Nawawi berkata di dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn Al-Hajjaj bahwa, “Amalan seseorang yang hanya menginginkan pujian dari orang lain adalah amalan yang batil, tidak berpahala bahkan ia akan mendapatkan dosa.”

Amalan hafalan Al-Quran mampu mengantarkan seseorang menuju surga Allah tetapi jika tidak ikhlas maka tidak akan masuk ke dalam surga bahkan mencium wanginya pun tidak akan bisa. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharapkan adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Seseorang bisa saja merasa sudah ikhlas dalam menghafal Al-Quran. Namun jika di dalam hatinya masih tersimpan keinginan untuk dihormati karena Al-Quran yang sudah dihafalnya maka sebenarnya keikhlasan tersebut telah tersingkirkan oleh harapan dan keinginannya. Beliau mengutip perkataan Ibn al Qayyim al-Jauziyyah (w 751), di dalam al-Fawa’id bahwa, “Ikhlas di dalam hati seseorang tidak mungkin menyatu dengan harapan akan pujian, sanjungan, dan keinginan terhadap apa yang dimiliki manusia, melainkan seperti air dengan api yang tidak dapat menyatu.”

Pujian Hanya untuk Allah

Seorang penghafal Al-Quran entah itu mengharapkan pujian dari orang lain maupun tidak, sebenarnya pujian itu memang pantas didapatkan. Betapa tidak, amalan menghafal Al-Quran merupakan amalan yang istimewa dan setiap mukmin pasti menginginkannya. Namun jika tujuannya hanya ingin mendapatkan pujian maka hendaknya mengikhlaskan diri bahwa apa yang diperolehnya merupakan karunia dari Allah Subhanahu Wata’ala. Allah yang lebih berhak untuk dipuji karena jika bukan karena kehendaknya maka tidak ada seorang pun yang dimampukan oleh Allah untuk menghafal Al-Quran.

Hendaknya para peserta Hafal Quran Sebulan maupun calon-calon peserta, harus sebisa mungkin memurnikan niat menghafal Al-Quran hanya karena berharap rida Allah. Adapun hal-hal lain yang didapatkan setelah menghafal Al-Quran dan mengajarkannya maka itu pun karunia Allah. Pujian lebih pantas kita berikan kepada para penghafal Al-Quran dalam arti kita ingin mendapatkan kemuliaan “Al-Hafizh” sebagaimana Allah memuliakan para penghafal Al-Quran.

Tunjukkan akhlak yang baik bahwa riya’ itu bukan untuk menghukumi hafalan Al-Quran orang lain, melainkan upaya cermin perbaikan niat sebagai introspeksi diri agar kita mampu mengikhlaskan niat lillahi ta’ala. Adapun jika menuduh semua peserta program Hafal Quran Sebulan itu riya’ maka ini pun su’uzhan yang harus dihindari. Terlebih menghindari hafalan Al-Quran karena takut riya’ maka ini pun salah kaprah yang harus dihentikan. Intinya kita harus menghafal Al-Quran karena berharap rida Allah. Karena itu hafal Quran sebulan bukan untuk mengejar gelar Al-Hafizh atau pujian manusia, melainkan hanya karena Allah saja.

Yadi Iryadi, S.Pd

Board of Trustees of the National Tahfizh Al-Quran Quarantine Foundation
Founder of the Yadain Litahfizhil Quran Method

www.hafalquransebulan.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *