Isti’adzah Berlindung Kepada Allah Agar Pahala Menghafal Al-Quran Tidak Sia-sia

Hafal Quran Sebulan

Isti’adzah Berlindung Kepada Allah Agar Pahala Menghafal Al-Quran Tidak Sia-sia

Isti’adzah atau yang dikenal juga dengan ta’awwudz adalah doa untuk memohon perlindungan, pemeliharaan, dan penjagaaan. Adapun menurut istilah, yaitu lafazh yang dimaksudkan oleh pembaca Al-Qur’an untuk memohon atau meminta penjagaan, pemeliharaan, dan perlindungan kepada Allah dari berbagai macam bentuk godaan-godaan setan.

Membaca alquran diawali dengan membaca lafazh berikut:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya: “Aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Terkadang saat mau menghafal Al-Quran lupa mengawali dengan isti’adzah dan basmalah. Hal ini tidak dapat dipersalahkan karena bukan merupakan kewajiban, namun itu berarti meninggalkan kesunnahan sebelum membaca Al-Quran. Perintah tentang membaca isti’adzah tersebut tertuang di dalam Al-Quran surah An-Hahl ayat 98:

فَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ ٩٨

Artinya: “Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk” (QS. An-Nahl[16]: 98).

Menurut Ibu Katsir, membaca isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an hukumnya sunnah. Membaca isti’adzah sebelum membaca Al-Quran ini tidak wajib melainkan sunnah seperti yang sudah disepakati oleh para ulama. Begitu pula bacaan isti’adzah, tidak terbatas mau membaca Al-Quran saja melainkan dapat dibaca sebagai doa untuk menghindari godaan setan.

Membaca isti’adzah berarti berlindung kepada Allah dari godaan setan dari golongan jin dan manusia yang memungkinkan dapat merusak pahala membaca Al-Quran. Perusakan pahala membaca Al-Quran dapat terjadi misalnya dengan adanya riya’, membaca Al-Quran tanpa mendapatkan nasihat, membaca Al-Quran dengan kesalahan bacaan namun tidak ada upaya untuk memperbaiki bacaan, membaca Al-Quran untuk niatan lain yang tidak bernilai pahala, membaca Al-Quran namun tidak kuat bertahan lama membacanya. Saat membaca isti’adzah hendaknya dibarengi dengan keyakinan berlindung kepada Allah dari hal-hal tersebut.

Selain membaca isti’adzah, juga disunnahkan membaca Al-Quran diawali dengan basmalah. Ini merupakan sunnah nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam saat turun wahyu pertama surah Al-Alaq ayat 1:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al-‘Alaq/96:1).

Saat nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam diperintahkan untuk membaca wahyu Allah yang pertama kali turun, malaikat Jibril menyuruh Nabi Muhammad agar membaca namun beliau kesulitan, dan setelah disebut nama Allah maka beliau pun mampu membacanya dalam hafalan dan dimudahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Mayoritas ulama sepakat mengenai kesunnahan membaca basmalah di awal surah-surah Al-Quran. Namun diantaranya berbeda pendapat apabila membaca basmalah di pertengahan surah.

Apabila di awal surah maka awali dengan isti’adzah dan basmalah. Namun apabila di tengah surah bisa cukup dengan bacaan isti’adzah saja. Tetapi jika membaca isti’adzah dan basmalah di tengah surah, ini pun tetap mendapatkan kesunnahan. Sebab segala pekerjaan yang baik padahal yang terbaik adalah Al-Quran maka awali juga dengan bacaan basmalah.

Manfaat membaca basmalah sangat banyak, karena lafazh tersebut mengandung tiga kali asma-Nya. Asmaul Husna ada 99, dan Allah adalah sebuah nama yang mencakup dan meliputi kesembilan puluh sembilan Asmaul Husna yang mengandung segala keutamaan, rahasia, dan pahala-nya.

Allah merupakan yang pertama dari seluruh nama dalam seluruh kitab suci. Oleh karena itu, nama Allah banyak disebut dan terucap oleh lidah manusia dalam seluruh persoalan. Allah SWT berfirman:

يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْااذْكُرُوْااللّهَ ذِكْرًاكَثِيْرًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya” (QS. Al-Ahzab: 41).

Ayat ini memotivasi kita untuk menyebut asma Allah. Nama yang menjadi pembuka setiap surah di dalam Al-Quran. Pada lafazh basmalah terdapat makna rahasia dari keberadaannya sebagai awal nama-nama, sementara rahmat Allah adalah awal segala sesuatu.

Bacalah lafazh isti’adzah dan basmalah:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Artinya, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

Basmalah merupakan sebuah doa. Bahwa seseorang yang mengawali setiap pekerjaan dengan basmalah maka dia menyadari kehadiran Allah dalam setiap pekerjaan yang dia lakukan dan mengharap Rida dari-Nya.

Aktivitas membaca Al-Quran yang diawali basmalah berharap bahwa Allah menyaksikan bacaan Al-Quran tersebut dan memberikan balasan dari-Nya.

Ada ulama berpendapat, bahwa Al-Fatihah bisa disarikan menjadi ucapan basmalah. Dan basmalah jika didalami lagi maka yang paling inti adalah Ar-Rahim, yaitu kasih sayang Allah yang tidak terbatas bagi mereka yang beriman dan beramal saleh.

Basmalah bisa jadi sebagai kunci segala hal dan tempat para makhluk mencari segala maksud dan tujuan. Suatu pekerjaan baik maka awali dengan basmalah. Menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang sesuai tidak hanya mengundang pengabulan doa, bahkan mampu melahirkan optimisme dalam jiwa orang yang menyebutnya, jika penyebutan itu lahir dari keyakinan bahwa ia menyebut nama Tuhan yang memiliki sifat yang dimaksud.

Bacalah isti’adzah dan basmalah setiap kali akan membaca, menghafal, mengkaji, dan mengajarkan Al-Quran. Mengucapkan isti’adzah dan basmalah berarti berlindung pada Allah agar pahala menghafal Al-Quran tidak sia-sia.

Semoga Allah menilai ibadah kita lillahita’ala dengan diawali memohon perlindungan pada Allah dari godaan setan dan memulai dengan asmaul husna yang terkandung pada lafazh isti’adzah dan basmalah.

Yadi Iryadi, S.Pd.

Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Quran Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Quran

3 Responses

  1. Safinah berkata:

    Saya suka Dengan pembelajaran ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *