API SEJARAH: Ulama dan Santri Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Hafal Quran Sebulan

API SEJARAH: Ulama dan Santri Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Api Sejarah Jilid Satu dan Dua

Ahmad Mansur Suryanegara merupakan seorang sejarawan sekaligus penulis asal Indonesia yang lahir Maret 1935. Indonesia mengakui bahwa ia merupakan salah satu tokoh yang menceritakan kembali tokoh-tokoh ulama dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Karya yang monumental berjudul Api Sejarah dan Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam Indonesia.

Ahmad Mansur Suryanegara menelusuri sejarah dari pesantren ke pesantren sehingga didapatkan data perjuangan peran utama umat Islam dalam memerdekakan kemerdekaan Republik Indonesia yaitu atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa.

Salah satu tokoh ulama rujukan sejarah misalnya Aden Kiai Haji Abdullah Bin Nuh, pembina Majlis Al Gozali, Bogor, bukan hanya sebagai sosok Ulama yang menguasai Kitab Kuning melainkan sebagai seorang pelaku sejarah juga sebagai sejarawan yang mampu menuliskan Sejarah sebagai ilmu – History as Written. Analisisnya bertolak dari fakta atau data yang diangkat dari referensi buku-buku yang di dalamnya membahas Sejarah sebagai Peristiwa — History as Actually Happened. Terlalu langka untuk kita jumpai perpaduan dua kemampuan yang dimiliki seorang Ulama dan pembina pesantren, sekaligus sejarawan yang mampu memberikan koreksi terhadap kesalahan penulisan Sejarah Islam Indonesia dalam penulisan Sejarah Indonesia

Wajar apabila ulama mampu menuliskan Islam sebagai ajaran, misalnya kitab fiqih atau tauhid. Akan tetapi, menuliskan Sejarah Islam di Jawa Barat hingga Zaman Keemasan Banten dapat memberikan koreksi terhadap kesalahan penafsiran penulisan sejarah. Ternyata R.K.H. Abdullah bin Nuh memiliki kemampuan dan perhatiannya terhadap penafsiran dan penulisan ulang reinterpretation and rewrite – sejarah Islam Indonesia sama seperti Haji Agus Salim, Prof. Dr. Buya Hamka, Prof, Osman Raliby, dan Prof. Dr. Abubakar Atjeh.

Ahmad Mansur Suryanegara menuliskan sejarah secara ilmiah mengenai Kesoeltanan Banten yang dijadikan contoh Wali Soenan Goenoeng Djati atau Sjarif Hidajatoellah sebagai pembangunnya. Biasanya, dalam menuliskan sejarah Sjarif Hidajatoellah sebagai salah seorang wali dari Wali Sembilan tidak dituliskan wawasan politik-nya dalam membangun tiga kekuasaan politik Islam di Jawa Barat: Banten, Jayakarta, dan Cirebon. Dikisahkan pula Soeltan Baaboellah dari Kesoeltanan Ternate, memiliki garis keturunan dari Sjarif Hidajatoellah.

Selain itu, dituturkan pula bersama Fatahillah sebagai pembangun Jayakarta, 22 Juni 1527 M atau 22 Ramadhan 933 H. Nama Jayakarta diangkat dari Al-Quran Surah 48:1, Inna Fatahna laka Fathan Mubina. Makna Fathan Mubina adalah Kemenangan Paripurna atau Jayakarta. Di kemudian hari lebih dikenal dengan sebutan Jakarta.

Nama Jayakarta melambangkan rasa syukur kepada Allah atas kemenangannya dalam menggagalkan usaha penjajahan Keradjaan Katolik Portoegis di Pelabuhan Kalapa atau Soenda Kalapa. Kedatangannya sebagai pelaksana Testamen Imperialisme Paus Alexander VI dalam Perjanjian Tordesilas 1494 M. Kisah heroik Wali Sanga memelopori melawan penjajah Keradjaan Katolik Portoegis, terlupakan. Wali Sanga lebih banyak dikenang dengan kisah dongengnya.

Pergantian nama di atas seperti peristiwa sejarah tanpa makna, hanya mengubah nama pelabuhan Kalapa menjadi Fathan Mubina atau Jayakarta, atau Jakarta, 22 Juni 1527 M atau 22 Ramadhan 933 H. Namun, empat ratus tahun kemudian bangkit kembali, Fathan Mubina-]ayakarta-]akarta, dan menjadi nama Iboe Kota Repoeblik Indonesia pada 17 Agoestoes 1945, Djoemat Legi, 9 Ramadhan 1364. Sebelumnya, menjadi nama Piagam Djakarta, 22 Djoeni 1945, Djoemat Kliwon, 1 1 Radjab 1364 H. serta dikukuhkan pula sebagai nama ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia – NKRl,17 Agustus 1950 M, Kamis Pahing, 2 Dzulhijjah 1369 H.

Ternyata, nama Jayakarta sebagai karya salah seorang wali dari Wali Sanga dan bersumberkan Al-Quran dan terjadi bertepatan pada Ramadhan. Nama Fathan Mubina atau Jayakarta sebagai jawaban Ulama dan Santri melawan keputusan Paus Alexander VI dalam Perjanjian Tordesilas, 1494 M, yang memberikan kewenangan Keradjaan Katolik Spanjol dan Portoegis untuk memelopori penegakkan imperialisme atau penjajahan Barat di dunia.

Tanggal 9 Ramadhan 1364 H, seorang Ulama bernama Wachid Hasjim dari Nahdlatoel Oelama, Ki Bagoes Hadikoesoemo dan Mr. Kasman Singodimedjo – keduanya dari Persjarikatan Moehammadijah – bersama pemimpin Islam lainnya, yaitu Mohammad Teoekoe Hasan dari Aceh. Hasil perumusannya dilaporkan kepada Drs. Mohammad Hatta. Kemudian diserahkan untuk disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 18 Agoestoes 1945, Sabtoe Pahing, 10 Ramadhan 1945.

Mungkinkah dasar negara dalam Oendang Oendang Dasar 1945, terumuskan menjadi Negara Berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa, dan ditempatkan pada Bab XI Pasal 29 yang berjudul Agama, jika perumus pertama setelah proklamasi bukan Ulama. Ternyata karena Ulama maka bangsa dan negara Indonesia memiliki ideologi Pantjasila dan konstitusi Oendang Oendang Dasar 1945.

Mungkinkah Proklamasi 17 Agoestoes 1 945, Djoemat Legi, 9 Ramadhan 1 364, dibacakan dalam Bahasa Indonesia, jika para wirausahawan dan Ulama sejak abad ke – 1 H / 7 M tidak menjadikan Bahasa Melayu Pasar sebagai bahasa komunikasi niaga dan dakwah antar wirausahawan atau wiraniagawan di pasar, dituliskan dalam HurufArab Melayu, bukan dengan Huruf Pallawa atau Pra Nagari? Kemudian kelanjutannya berubah menjadi Bahasa limu di pesantren dan Bahasa Diplomatik – bahasa hubungan kenegaraan antar kekuasaan politik Islam dengan kerajaankerajaan lain dalam dan luar negeri. Oleh karena itu, satu-satunya bangsa terjajah di Asia Tenggara yang proklamasinya dengan bahasanya sendiri, bukan dengan bahasa penjajah, hanyalah bangsa Indonesia. Dengan kata lain, hanya karena mahakarya Ulama dan Santri bangsa Indonesia memiliki Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.

Mungkinlah bangsa Indonesia memiliki Sang Saka Merah Putih, jika Ulama tidak membudayakan warna Merah Putih yang berasal dari Bendera Rasıılullah Saw? Dihidupkan di tengah masyarakat melalui simbol-simbol budaya: SekapurSirih artinya kapur dan sirih melahirkan warna Merah. Seulas Pinang artinya jika pinang di belah, pasti berwarna Putih. Demikian pula upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih saat pembangunan kerangka atap di bagian suhunan. Merupakan bahasa doa memohon Syafaat dari Rasulullah Saw. Dibudayakan pula dalam upacara saat pemberian nama bayi atau Tabun Baru İslam dengan membuat bubur merah putih.

Bangsa dan negara Indonesia, tidak hanya memiliki bahasa dan bendera, tetapi juga berkat perjuangan Ulama menjadikan Indonesia memiliki Tentara Nasional Indonesia — TNI- pada 5 Oktober 1945, Djoemat Kliwon, 24 Sjawwal 1364. Ada sementara pimpinan nasional saat itu, menolak negara dan bangsa Indonesia punya TNI, mereka ingin negara tanpa tentara. Cukup hanya dengan polisi semata. Mengapa demikian? Karena TNI dibangun dari mantan Tentara Pembela Tanah Air-Peta. Sedangkan 68 Batalyon – Daidan, mayoritas Daidancho – Komandan Batalyon Tentara Peta adalah Ulama. Keinginan penentang pembentukan Tentara Keamanan Rakjat -TKR atau TNI di atas oleh Letnan Djenderal Oerip Soemohardjo dijawab “aneh soeatoe negara zonder tentara.” Konsolidasi selanjutnya, Soedirman mantan Daidancho – Dan Yon Tentara Peta Purwokerto dan guru Moehammadijah, diangkat menjadi Panglima Besar.

Selain itu, jawaban Ulama terhadap Makloemat X 3 November 1945 dalam waktu relatif singkat hanya empat hari sesudahnya, lahirlah Partai Islam Indonesia Masjoemi, 7 November 1945, Rabo Pon, 1 Dzulhidjah 1364. Selain sebagai parpol tercepat lahirnya, terbesar jumlah anggotanya, juga berani mengeluarkan pernyataan: 60 Miljoen Moeslimin Indonesia Siap Berdjihad Fi Sabilillah. Perang di djalan Allah oentoek menentang tiap-tiap pendjadjahan. Pernyataan demikian ini lahir karena Ulama dan Santri merasa berkewajiban melanjutkan perjuangan para Ulama terdahulu, membebaskan Nusantara Indonesia dari segala bentuk penjajahan.

Kemudian karena perjuangan Perdana Menteri Mohammad Natsir sebagai intelektual, Ulama, dan politikus dari Partai Islam Indonesia Masjoemi, Persatoean Islam – Persis, Jong Islamieten Bond – JIB, Partai Islam Indonesia – PII, melalui Mosi Integral, berdirilah Negara Kesatuan Republik Indonesia – NKRI – pada 17 Agustus 1 950, Kamis Pahing, 2 Dzulhidjah 1 369, sebagai jawaban terhadap gerakan separatis.

Angkatan Perang Ratu Adil – APRA pimpinan Westerling di Bandung, Pemberontakan KNIL Andi Aziz di Makasar, dan Republik Maluku Selatan Soumokil di Ambon, yang didalangi oleh van Mook. Sekaligus sebagai jawaban terhadap Proklamasi Negara Islam Indonesia, 7 Agustus 1 949, oleh S.M. Kartosoewirjo. Dengan demikian berakhir pula Republik Indonesia Serikat – RIS – hanya berlangsung dari 27 Desember 1949  1 7 Agustus 1950 M atau 6 Rabiul Awwal i l 369 – 2 Dzulhidjah 1369 H. Berkat perjuangan Ulama maka Republik Indonesia Serikat – RIS diubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia – NKRI.

Dari fakta sejarah, terbaca betapa besarnya peran kepemimpinan Ulama dan Santri dalam perjuangan menegakkan kedaulatan bangsa dan negara dalam menjawab serangan imperialis Barat dan Timur. Diikuti pula dengan perjuangan Ulama dan Santri mempertahankannya serta membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, tepatlah kesimpulan ESF.E. Douwes Dekker Danoedirdjo Setiaboedhi dari Indische Partij: djika tidak karena sikap dan semangat perdjuangan para Ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan.

Daftar Isi Buku Api Sejarah Jilid 1 Edisi Revisi – Ahmad Mansur Suryanegara

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR PENERBIT    vii

SEKAPUR SIRIH       xi

REINTERPRETASI DEISLAMISASI SEJARAH INDONESIA  xxvii

DAFTAR ISI  xxxiii

PEMBUKA PERDANA  1    

Penyebaran Wirausahawan Arabia  3

Penguasaan Pasar  5  

Penemuan Mata Uang Islam  8         

Dampak Penyebaran Islam dari Maritim dan Pasar   13

Luas Wilayah Pulau di Indonesia dan Negara Barat  17

Dua Puluh Lima Nabi dan Rasul Pembawa Ajaran Islam 20 Koreksi Al-Qur’an Terhadap Taurat, Zabur dan Injil 22

GERBANG PERTAMA  25

KEBANGKITAN ISLAM DAN PENGARUHNYA DI NUSANTARA INDONESIA  25

Proses Islamisasi Nusantara Melalui Pasar    26                               

Testamen Penguasaan Kelautan  28                                                  

Peta Bumi Nusantara di Abad Kejayaan Islam  30               

Profesi Muhammad bin Abdullah Pra Kerasulan       34                   

Muhammad SAW Diangkat Sebagai Utusan Allah   39                   

Musuh-musuh Rasulullah SAW  43                                                  

Piagam Madinah         45                                                       

Pengalihan Arah Kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram  46       

Jawaban Perang Untuk Menciptakan Perdamaian  46                      

Pengangkatan Derajat Wanita Islam  48                                                       

Melepaskan Himpitan Nasrani Konstantinopel dan Majusi Persia 51

Pengembangan Daerah Pengaruh Islam         54                                           

Keempat Khalifah Pilihan – Khulafaur Rasyidin 56 

Abu Bakar Ash Shidiq (11-13 H / 632-634 M)     56                   

Umar Ibn Al Khattab (13-24 H / 634-644 M)      57                               

Usman bin Affan (24-26 H / 644-656 M) 59                                           

Ali bin Abi Thalaib (36-41 H / 656-661 M)   63                               

Khilafah Ummayah I dan II  65

Khilafah Abbasiyah  68

Khalifah Fatimiyah    72

Kesultanan Turki        72

Perang Dinasti Genghis Khan dalam Penyebaran Agama Islam       75

Kelahiran dan Pengaruh Mazhab Fikih  84

Pengaruh Islam Terhadap Bangsa Arab , Mogol, dan Barat  86       

Eksistensi Kesultanan Turki (1055-1924)      88                               

Nusantara Indonesia Dipersimpangan Khilafah Islam  89                

GERBANG KEDUA  93

MASUK DAN PERKEMBANGAN AGAMA ISLAM DI NUSANTARA INDONESIA  93

Dakwah Rasulullah saw Menghadapi Lawan 94

Masuknya Agama Islam ke Nusantara  99    

Teori Gujarat Prof. dr. C. Snouck Hurgronje  101

Teori Makkah Prof. dr. Buya Hamka  101

Teori Persia Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat           102

Teori Cina Prof. Dr. Slamer Muljana  102    

Teori Maritin N.A. Baloch  104                    

Perkembangan Kekuasaan Politik Islam  105

Perkembangan Tasawuf  105            

Sumber Eksternal  106                      

Pengembangan Islam di Nusantara Indonesia            117

Kebangkitan kekuasaan Politik Islam  121   

Toleransi Beragama  123                   

Budaya Masyarakat Non Muslim      124     

Dongeng Media Pemecah Belah 125

GERBANG KETIGA  129

JAWABAN KEKUASAAN POLITIK ISLAM TERHADAP TANTANGAN IMPERIALISME BARAT  129

Multi Strategi Rasulullah saw Penciptaan Pembaharuan       130                             

Nilai keagungan Pernikahan  131                                                                                          

Landreform Kaum Anshor  132                                                                                            

Tiga Kategori Sikap Beriman, Kafir dan Munafik 132                                         

Kewajiban Bela Negara  133

Jawaban Rasulullah saw Terhadap Tantangan Kehidupan    134

Jawaban Islam Terhadap Imperialisme Barat 140

Kekuasaan Politik Islam di Timur Tengah Pasca Rasulullah saw  144

Kekuasaan Politik Islam di Luar Jazirah Arabia        146

Pengaruh Turki Terhadap Dinasti Genghis Khan      146

Pengaruh Islam Terhadap Arab, Turki, Mongol dan Cina     149

PERKEMBANGAN KEKUASAAN POLITIK ISLAM DI NUSANTARA             149

Pengaruh Pernikahan Islami Prabu Siliwangi Terhadap Dinastinya 150

Pasar, Pesantren, dan Kekuasaan Politik Islam          154

Perkembangan Imperialisme Barat  158

Perlawanan Bersenjata Terhadap Imperialis Katolik Portugis  160

Pemindahan Perang Katolik Kontra Protestan di Eropa ke Nusantara          162

Lahirnya Imperialisme Modern, Komunisme dan Zionisme  165

Pengaruh Revolusi Protestan terhadap Kelahiran Amerika Serikat  171

Imperialism Kuno Katolik dan Imperialisme Modern Protestan       174     

Pemberlakuan Ordonansi Agama 1651 di Indonesia 177                                         

PERANG AGAMA SEGITIGA DI NUSANTARA INDONESIA  178                  

Perlawanan Bersenjata Pribumi Islam Terhadap Penjajah VOC       181     

Pembunuhan Cina oleh VOC di Batavia (1740)        188                                         

Dampak Perang Napoleon di Nusantara Indonesia                190                                         

Penduduk Perancis dan Inggris di Pulau Jawa                       194                                                     

Perlawanan Bersenjata Pra dan Masa Tanam Paksa  201                             

Keuntungan Tanam Paksa bagi Keradjaan Protestan Belanda          210     

Upaya Penjajah Mematahkan Pendukung Ulama      210                                         

Prangreh Pradja Kontra Ulama dan Santri  211                                                                                

Ketergantungan Pangreh Pradja Terhadap Taokeh    213                                         

Gerakan Politik Kaum Tarekat  214                                                                                      

Pembangunan Tata Kota Penjajah di P. Jawa 220                                                                 

Residensi Hunian Penjajah Belanda  222                                                                                          

Kereta Api Sebagai Benteng Stelsel Penjajah            224                                                     

Departemen Perang Penjajah di Bandung  226                                                                                 

Wilayah Hunian Pribumi Muslim  230                                                                                             

Sub Area Hunian dan Sekolah Etnis  232                                                                                         

Strategi Penjajah Pembodohan Pribumi Muslim       233                                         

PERLAWANAN BERSENJATA DI LUAR PULAU JAWA          235                             

Perang Padri di Sumatera Barat  236                                                                                    

Perang Lampung  236                                                                                    

Perang Banjarmasin  240                                                                                           

Perang Batak  242                                                                                          

Perubahan Peta Politik di Eropa dan Timur Tengah              246                                         

Dampak Perjanjian London 1870 dan Perjanjian November 1871    250

Peringatan Jalaluddin Al Afghany  251                                                                                            

Islam Pembangkit Gerakan Nasionalisme di Indonesia  256                        

Perang Aceh  260                                                                                          

  

Perang Snouck Hurgronje dalam Perang Atjeh         272

Pasar Sebagai Gerbang Kebangkitan Nasional          278

GERBANG KEEMPAT  281

ULAMA PEMBANGKIT GERAKAN KESADARAN NASIONAL INDONESIA (1900-1942)  281

Islam Sebagai Simbol Pembangkit Nasionalisme  285                                 

R.A. Kartini Menolak Politik Kristenisasi  285                                            

Pengaruh Karya Pakar Belanda Terhadap kebijakan Politik Penjajahan       292

Perubahan Sistem Politik Penjajahan 308                                         

Tujuan Politik Pendidikan Penjajah  309

                                               

Politik Pecah Belah Melalui Pendidikan  310                                               

Middle Onderwijs (Pendidikan Menengah)   313                                         

Hoger Onderwijs (Pendidikan Tinggi)           313                                         

Vakonderwijs (Pendidikan Kejuruan)            314                                                     

Target Politik Etis Melemahkan Pengaruh Ulama     315                             

Upaya Pendangkalan Ajaran Agama dan Perubahan Budaya            316     

Pasar Sebagai Arena Kebangkitan Kesadaran Nasional  321           

Faktor Eksternal Penyebab Kebangkitan Nasional  325                               

Gerakan Tasawwuf dan pengaruhnya Terhadap Kebangkitan Nasional

331

Tujuan Trio Politik Pemerintah Kolonial Belanda     334                             

Pengaruh Gerakan Reformasi di Timur Tengah        336                             

Gerakan Kontra Nasionalisme di Timur Tengah       339                             

Islam Sebagai Faktor Utama Pembangkit Kesadaran Nasional Indonesia  343

Keputusan Ahistoris Kabinet Hatta Tentang Harkitnas  344            

Kongres BO Menolak Pelaksanaan Tjita2 Persatoean Indonesia  347         

Boedi Oetomo pengimbang Djamiatul Choir  351                            

SJARIKAT DAGANG ISLAM  357                                                            

Sarekat Dagang Islamijah Bogor Kontra Sjarikat Dagang Islam Solo  359

SJARIKAT ISLAM  375                                                                   

Tiga Kota Centraal Sjarikat Islam  384                                                         

National Congres Centraal Sjarikat Islam Pertama di Bandung        388     

Indie Weerbaar Actie  398                                                                

National Congres Centraal Sjarikat Islam kedua di Jakarta   400     

Makna Nasionalisme dari Pandangan Sjarikat Islam  401                            

Penghinaan BO Terhadap Rasulullah saw     401                                         

National Congres Centraal Sjarikat Islam Ketiga di Surabaya          403     

Volksraad Sebagai Komidi Omong  404                                                       

National Congres Centraal Sjarikat Islam Keempat di Surabaya  408         

Politik Pecah Belah  409                                                                   

Aliran kebatinan Kontra Islam  410                                                              

H.J.F.M. Sneevliet Pemecah Belah Sjarikat Islam  412                                

Konsolidasi Sjarikat Islam  418                                                                    

Kristenisasi, Kebatinan, Kapitalisme, Komunisme dan Korupsi       419     

Sjarikat Islam pelopor Pertama pendiri Partai Politik Islam  420     

Koreksi O.S. Tjokroaminoto Terhadap Ajaran Sosialisme   423                 

PERSJARIKATAN MOEHAMMADIJAH   432                                         

PERSJARIKATAN OELAMA  459                                                             

PERGERAKAN TARBIJAH ISLAMIYAH  462                                         

MATLAOEL ANWAR LIL NO  462                                                                       

NAHDLATOEL OELAMA  462                                                                  

Kongres Al Islam dan Kongres Luar Biasa  465                               

Utusan ke Muktamar Khalifah di Kairo         468                             

Persiapan Muktamar Al Islam Se Dunia        471                             

Utusan Hijaz dan Hari Lahir Nahdlatoel Oelama      471                 

Nahdlatoel Wathan Pancor Lombok  473                             

Problema Taqlid  476                                                

PONDOK PESANTREN MODERN GONTOR        479                 

PERSATOEAN ISLAM  487                                                

  1. Hassan Menolak Asas Kebangsaan 498

Kesatuan Gerak Juang Jihad  503                                                      

KEBANGKITAN JONG ISLAMIETEN BOND-JIB  512              

ORGANISASI WANITA, KEPANDUAN, dan PEMUDA  515     

COMITE PERSATOEAN INDONESIA        515                             

  1. SOEKIMAN PSH dan IR. SOEKARNO PNI, PENDIRI P.P.P.K.I 517

MADJLIS OELAMA INDONESIA PERTAMA (1347 H / 1928 M)  519  

PENGARUH KONGRES JONG ISLAMIETEN BOND TERHADAP KONGRES PEMOEDA     522

Bahasa Melayu Pasar dan Huruf Arab Melayu          528                 

Tiga Soempah Pemoeda  529                                                

Sang Saka Merah Putih Bendera Rasulullah saw  531                      

Kepeloporan Pemuda Pemudi Islam  535                             

Dr. Soekiman Wirjosandjojo dan Perhimpoenan Indonesia  537     

MADJLIS ISLAM A’LA INDONESIA – MIAI  543                      

PARTAI ISLAM INDONESIA  544                                                

BAPEPPI  547                

Penghinaan Parindra terhadap Rasulullah saw           554                 

Pengaruh Nasionalisme di Timur Tengah Terhadap Gerakan Nasionalisme Islam Indonesia        557

KAII Menjadi KMI  563                                                       

Tuntutan Parlemen Berdasarkan Hukum Islam         566                 

AKTIVITAS ULAMA MENJELANG PERANG DUNIA II            568     

MADJELIS RAKJAT INDONESIA  572 

Kudeta Mr. Sartono Terhadap MRI    573

PSII, PII, MIAI keluar Dari GAPI dan MRI  573

MASAAKHIR PENJAJAHAN KERADJAAN PROTESTAN BELANDA  574

DAFTAR PUSTAKA  577

INDEKS          587

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *