10 Pertanyaan untuk Menguji Keinginan Menghafal Al-Qur’an

Hafal Quran Sebulan

10 Pertanyaan untuk Menguji Keinginan Menghafal Al-Qur’an

Membaca Menghafal AlQuran Karantina Tahfizh AlQuran Nasional

Banyak masyarakat ingin menghafal Al-Qur’an di Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional untuk menyetorkan hafalan Al-Qur’an sebulan target 30 Juz sebagaimana ribuan alumni telah merasakan manfaatnya. Namun keinginan tersebut baru sebatas keinginan yang belum diambil tindakan nyata.

Telah banyak dibahas bahwa Al-Qur’an itu sudah dimudahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala namun mengapa sebagian calon penghafal Al-Qur’an masih kesulitan menghafalkannya.

Beberapa pertanyaan di bawah ini akan menguji seberapa benar kemauan untuk menghafalkan Al-Qur’an 30 Juz. Dengan harapan semoga semakin bergerak termotivasi untuk menghafalkan Al-Qur’an sampai tuntas 30 Juz dan muraja’ah seumur hidup.

Pembahasan ini akan dibagi menjadi 10 hal:

1. ATAS KEMAUAN SENDIRI

Adakalanya kemauan menghafal Al-Qur’an bukan dari keinginan pribadi. Hal ini bukan hanya berlaku pada anak-anak bahkan orang dewasa pun demikian masih ada karena tuntutan dari pihak lain. Misalnya:

  • Anak-anak yang dipaksa oleh orang tuanya untuk menghafal Al-Qur’an;
  • Remaja yang dipaksa oleh lingkungan untuk menghafal Al-Qur’an;
  • Pemuda yang dituntut untuk menghafal Al-Qur’an karena ingin menikahi seseorang;
  • Ustadz yang dipaksa oleh muridnya karena muridnya sudah hafal 5 Juz sementara ustadznya juga 5 juz;
  • Seorang yang ingin naik pangkatnya dituntut oleh atasannya di sebuah yayasan pondok pesantren;
  • Ibu-ibu yang dipaksa oleh suaminya untuk menghafalkan Al-Qur’an;
  • Seseorang yang dipaksa ngafal Al-Qur’an karena termotivasi tren sesaat
    dan silakan apa yang terjadi di sekeliling Antum contoh lainnya.

Alangkah lebih baiknya jika seorang guru Al-Qur’an dan orang tua cukuplah mencontohkan, mengarahkan, menyampaikan bagaimana dalil-dalil keutamaan menghafal Al-Qur’an.

Jika seorang muslim sudah tertarik, terdorong dan antusias untuk menghafalkan Al-Qur’an dengan hidayah Allah Subhanahu Wata’ala maka proses menghafal Al-Qur’an akan menjadi lebih nikmat dan menyenangkan.

Apabila masih ada unsur paksaan maka prosesnya sangat menyiksa dan menyakitkan. Karena nikmatnya menghafal Al-Qur’an hanya akan bisa dirasakan oleh orang-orang yang dengan kesadaran sendiri benar-benar ingin menghafalkan Al-Qur’an atas dasar keimanan terhadap Allah dan Rasulnya melalui pemahaman yang didapatkan dari penjelasan para guru Al-Qur’an mengenai keutamaan-keutamaan mempelajarinya.

Jadi apakah Antum benar-benar tertarik, terdorong, termotivasi dan antusias untuk terus menghafalkan Al-Qur’an dari minat Antum pribadi

2. MEMBAYANGKAN HASIL AKHIR KETIKA HAFAL AL-QUR’AN

Seorang yang ingin berangkat ke suatu tujuan pasti sebelumnya mengkhayalkan telah sampai di tujuan tersebut. Misalnya seseorang ingin pergi ke Jakarta maka melalui penjelasan seseorang Antum akan mampu membayangkan kondisi Jakarta di dalam pikiran Antum walaupun kondisi kenyataan dan khayalan bisa jadi agak berbeda.

Seseorang yang berkeinginan untuk menghafalkan Al-Qur’an pasti mampu membayangkan seandainya tujuan tersebut sudah dijalankan sehingga akan menggerakkan motivasi untuk menghafalkan Al-Qur’an 30 Juz.

Apakah Antum mampu membayangkan hasil akhir dari tujuan menghafalkan Al-Qur’an karena Allah Subhanahu Wata’ala sehingga Antum termotivasi untuk terus menghafalkan Al-Qur’an?

3. FOKUS MELAKUKAN IKHTIAR DAN TAWAKAL PADA ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA

Seringkali ada beberapa orang ada yang beranggapan bahwa dirinya bisa disulap menjadi hafal Al-Qur’an tanpa adanya daya upaya. Mereka menganggap bahwa ada suatu sistem tanpa usaha kemudian bisa hafal Al-Qur’an 30 Juz. Itu adalah ilusi menipu diri sendiri.

Kenyataannya untuk bisa menghafal Al-Qur’an setidaknya seseorang harus memiliki 4 kemampuan sebelum mengikuti karantina tahfizh yaitu:

  • Kemampuan membaca Al-Qur’an Sesuai dengan kaidah tajwid
  • Kemampuan mengulang bacaan hafalan tanpa melihat mushaf dengan menghafal 1 kata per detik dan 1 baris per halaman
  • Kemampuan untuk mengikuti jadwal agenda karantina tahfizh 10-13 jam menghafal Al-Qur’an setiap hari
  • Mempraktikkan metodologi menghafal Al-Qur’an agar mampu mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an sehingga hafalan Al-Qur’an lebih kuat dan berkesan

Kemampuan tersebut dapat dilatih baik sebelum maupun setelah mengikuti karantina tahfizh. Akan tetapi kami lebih menyarankan bahwa untuk menuntaskan setoran hafalan Al-Qur’an 30 Juz setidaknya calon peserta harus mampu membaca Al-Qur’an dengan tahsin yang berkualitas / bacaan sudah sesuai kaidah tajwid.

Apakah Antum sudah mampu membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid sebagai ikhtiar awal untuk bisa menghafalkan Al-Qur’an?…

4. MEMAKSA, MENDORONG, MENARIK SECARA SADAR DAN SUKARELA UNTUK MEMPERJUANGKAN HAFALAN AL-QUR’AN

Seringkali beberapa orang merasa terpaksa dalam menghafalkan Al-Qur’an apalagi saat muraja’ah hafalan Al-Qur’an. Hal ini merupakan pertanda bahwa kemauan menghafal Al-Qur’an masih perlu ditingkatkan.

Sedangkan kerelaan hati dengan perasaan bahagia mengorbankan waktu beberapa jam perhari untuk menghafalkan Al-Qur’an dan muraja’ah merupakan bukti bahwa Antum benar-benar berkemauan kuat untuk menghafalkan Al-Qur’an 30 Juz.

Apakah Antum merasa ada motivasi yang tidak terbendung untuk berupaya menghafalkan Al-Qur’an?…

5. MEMPUNYAI STRATEGI YANG JELAS KETIKA INGIN MEWUJUDKAN MENGHAFAL AL-QUR’AN 30 JUZ

Ingin hafal Al-Qur’an namun tidak mempunyai strategi apapun yang dijalankan agar bisa menghafalkan Al-Qur’an itu seperti mimpi di siang bolong. Tidak jelas bagaimana perwujudannya. Oleh karena itu hal ril seperti apakah upaya yang benar-benar dilakukan agar bisa hafal Al-Qur’an.

Apakah Antum berada di pondok pesantren, rumah tahfizh, karantina tahfizh, lembaga tahfizh atau majelis taklim yang meluluskan para penghafal Al-Qur’an dengan kualitas yang baik. Jika belum maka lakukan strateginya dengan lebih maksimal. Misalnya menggunakan metode tertentu yang ditiru dari orang-orang yang hafal Al-Qur’an.

Apakah Antum memiliki strategi yang jelas untuk menghafal Al-Qur’an?

6. SERTAKAN ORANG LAIN UNTUK SAMA-SAMA MEWUJUDKAN IMPIAN HAFAL AL-QUR’AN

Manusia membutuhkan komunitas agar mampu mencapai cita-cita yang diharapkan. Berkumpul bersama dengan orang yang berminat sama terlebih dalam menghafal Al-Qur’an bersama para penghafal Al-Qur’an bagaikan naik gerbong kereta ke tujuan yang sama sehingga bisa sama-sama menghafalkan Al-Qur’an jika Antum benar-benar berkemauan kuat untuk menghafalkannya.

Apakah Antum berada di Pondok Pesantren Tahfizh, Sekolah Tahfizh, Karantina Tahfizh, Rumah Tahfizh atau lembaga tahfizh?…

7. BERSEDIA MEMBAYAR DENGAN UANG, WAKTU, TENAGA DAN SEGALA DAYA UPAYA UNTUK MEWUJUDKAN KEINGINAN MENGHAFAL AL-QUR’AN 30 JUZ

Kegiatan apapun pasti membutuhkan biaya, waktu, tenaga apalagi untuk menghafalkan Al-Qur’an. Tentu inilah pengorbanan yang tidak akan pernah rugi karena bernilai pahala yang luar biasa.

Apakah Antum bersedia membayar biaya untuk ikhtiar bisa menghafalkan Al-Qur’an?…

8. MEMILIKI KEGIGIHAN UNTUK MENGHAFALKAN AL-QUR’AN DAN KEGIATAN ANTUM SEMAKIN MENDEKATKAN DIRI PADA PROSES MENGHAFAL AL-QUR’AN

Karena kemauan menghafal Al-Qur’an kurang kuat akibatnya tidak memiliki kegigihan dan ketekunan untuk bisa konsentrasi menghafalkan Al-Qur’an. Minat yang kuat dalam menghafalkan Al-Qur’an menghasilkan daya juang yang tidak mengenal lelah dalam proses menghafalkannya. Bahkan alih-alih merasa tersiksa justru merasa menikmati perjuangan menghafalkan Al-Qur’an. Bagi para penghafal Al-Qur’an proses menghafal merupakan tujuan mereka sedangkan hasil dari hafalan Al-Qur’an adalah bonus dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Mengapa di Palestina dan Suriah masyarakat di sana bisa menghafal Al-Qur’an dengan mudah?… Bukan karena mereka berbahasa Arab karena negeri Arab pun tidak semuanya hafal Al-Qur’an. Mereka itu karena gigih memperjuangkan hafalan Al-Qur’an mereka karena sewaktu-waktu kematian bisa saja menjemput tanpa di duga. Padahal di negeri aman seperti Indonesia pun kematian tidak ada yang tahu kapan waktunya.

Apakah Antum memiliki kegigihan untuk menghafalkan Al-Qur’an?

9. BAHAGIA, SEMANGAT, INSPIRATIF, PENUH ENERGI MENJALANI PROSESNYA

Banyak orang yang ingin meraih keinginannnya, harapan dan cita-citanya namun mereka menyerah sebelum mencapainya. Bahkan proses pencapaiannya dianggap melelahkan sehingga menyerah begitu saja.

Sebaliknya ciri-ciri seorang yang bersungguh-sungguh menghafalkan Al-Qur’an mereka selalu merasakan kebahagiaan, semangat, penuh energi untuk terus menghafalkan Al-Qur’an.

Pada saat orang lain menghafalkan Al-Qur’an dia juga menghafalkan Al-Qur’an dan bahkan dia mencuri-curi waktu walaupun hanya lima menit dia sempatkan untuk membaca beberapa ayat Al-Qur’an entah sebagai tambahan hafalan maupun muraja’ah.

Apakah Antum telah memiliki kebahagiaan, semangat dan penuh energi untuk menghafalkan Al-Qur’an?…

10. MENYADARI BAHWA MENGHAFALKAN AL-QUR’AN ITU BERMANFAAT UNTUK ANTUM, KELUARGA, MASYARAKAT, BANGSA, NEGARA DAN TERUTAMA AGAMA

Menyadari pentingnya menghafal Al-Qur’an membuat energi semangat semakin berlipat-lipat. Bahkan kesadaran bahwa menghafal Al-Qur’an berefek multi dimensi ini akan membuat semangat itu kian membara karena menghafal Al-Qur’an akan berefek kebaikan terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan yang paling penting adalah kebaikan pada keislaman penghafalnya. Tentu saja berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits bahwa menghafalkan Al-Qur’an pasti berefek kebaikan di dunia dan akhirat.

Apakah Antum telah tergerak untuk menjemput efek kebaikan dunia dan akhirat dari menghafalkan Al-Qur’an?….

Pendaftaran di www.hafalquransebulan.com semoga menjadi awal baru semangat menghafalkan Al-Qur’an.
Informasi hub. 081312700100

Yadi Iryadi, S.Pd.,
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Licensed Practitioner Neuro Linguistic Programming

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *