Syahid di Atas Meja Bersama Al-Qur’an (Testimoni)

Hafal Quran Sebulan

Syahid di Atas Meja Bersama Al-Qur’an (Testimoni)

Hafal Quran Sebulan - Karantina Tahfidz AlQuran Nasional

Sungguh, sabar itu indah

Surga itu indah

Dan menghafal Al-Quran pun akan menjadi mudah hanya dengan izin-Nya

Meski harus dibayar dengan syahid di atas meja!

 

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah Allah maha pengasih, Allah maha pemurah, Allah maha penyayang, dan Allah Maha segalanya. Tiada daya dan upaya melainkan atas pertolongan Allah. Tiada kenikmatan yang hakiki melainkan kenikmatan yang Engkau berikan saat ini, sehingga saya bisa sampai ke tahap ini ya Robb. Yakni kenikmatan ketika saya merasakan manisnya buah dari kesabaran. Ya, tak lain dan tak bukan adalah kesabaran saya selama satu bulan ini di karantina tahfizh untuk menghafal Qur’an.

Hari-hari awal di karantina tahfizh yang saya rasakan dan termasuk tantangan tantangan yang harus saya hadapi adalah ketika rasa semangat sedang begitu membara, namun rasa kantuk yang luar biasa datang bagaikan huru-hara yang sedang melakukan sayembara. Namun, dalam benak saya tiba-tiba mengatakan bahwa saya harus bersabar, kerana ini adalah salah satu dari ujian yang Allah berikan. Hari demi hari berjalan semakin saya rasakan seperti mendaki gunung, semakin saya melangkah semakin banyak kerikil bahkan bebatuan menghadang. Begitu halnya dengan menghafal Al-Quran, menghafal kalamullah tidak semudah membalik telapak tangan. Kuncinya harus bersabar.. .

 

Hafal Quran Sebulan - Karantina Tahfidz AlQuran Nasional

 

Bertemu dengan ayat yang mudah saya ucap alhamdulillah tak terhingga. Bertemu dengan ayat yang susah saya selalu berdoa “Allah mohon ridho-Mu, mohon berikan keikhlasan dan kesabaran yang tiada batas, agar hamba bisa menghafal firmanMu yang indah, mohon berikan ridho-Mu Ya Allah..” Mengapa demikian? Karena saya manusia biasa yang banyak dosa, maka satu hal pertama doa yang saya panjatkan adalah saya mohon Ridho dan pertolongan Allah. Jika Allah sudah Ridho maka apapun jalannya, bagaimanapun tantangan dan rintangannya, Insya Allah Allah Permudah.

Saya pasrah. Apapun yang terjadi di karantina tahfizh nanti itu semua atas kehendak Allah. Saya belajar tentang makna keikhlasan, kesabaran, rasa tanggung jawab dan rasa perjuangan berjihad di jalan Allah. Hidup mulia atau mati syahid itu prinsip saya termasuk “Syahid di atas meja ketika menghafal Al-Quran”. Jika pada zaman Rosulullah para sahabat berjihad membela Islam dengan berperang melawan kaum kafir Quraisy, dan saat ini yang sedang saya rasakan selama di karantina adalah berjuang berjihad melawan godaan syetan untuk menjaga Al-Quran di dalam dada, menghafalkannya.

Saya memohon kepada Allah pertolongan, kemudahan dalam tekad serta kesungguhan usaha saya menghafalkan Al-Qur’an. Hingga saya pun pasrah dan ridho, jikapun Allah mentakdirkan ajal menjemput saya atas kelelahan, kepayahan, dan keletihan saat menghafal Qur’an, saya ridho Allah matikan saya di atas meja saat menghafal Al-Qur’an.

Alhamdulillah, atas izin Allah, Allah perkenankan saya untuk bisa menghatamkan firman-Nya. Menyelesaikan setoran hafalan 30 juz dalam waktu 33 hari. Semoga Engkau permudah kami Yaa Robb dalam menjaga dan istiqomah dalam muraja’ah.


Fitami Alumni Karantian Tahfizh AlQuran Nasional XXVII

Testimoni oleh : Fitami

(22th, Alumni Karantina XXVII 1 Oktober – 5 November 2017, Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an – IIQ Jakarta , Oku Timur Sumatera Selatan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *