Profil Ketua Dewan Penasehat Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional

Hafal Quran Sebulan

Profil Ketua Dewan Penasehat Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional

Dr. K.H. Ahsin Sakho Muhammad, MA Al-Hafizh adalah seorang pakar bidang Qiraat dan ilmu-ilmu Al-Qur’an. Putra pasangan K.H. Muhammad dan Nyi Umi Salamah ini lahir di Arjawinangun, Cirebon, 21 Februari 1956. Sejak kecil ia telah menunjukkan bakatnya dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an. Sewaktu duduk di kelas IV SD dan belum lagi dikhitan, ia telah hafal tiga juz Al-Qur’an (juz 28, 29, dan 30). Karena itu kakeknya dari pihak ibu, K.H. Syathori, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Arjawinangun, sangat menyayanginya.

Ayah lima anak ini menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD dan SMP Arjawinangun. Dasar-dasar ilmu agama ia pelajari di pesantren milik keluarganya. Selama tiga tahun sejak 1970 ia melanjutkan pelajaran di Pesantren Lirboyo, Kediri, sambil belajar di SMU. Di pesantren terkemuka itu ia belajar fiqih dan ilmuilmu alat, seperti nahwu, Sharaf, dan sebagainya. Sementara saat libur panjang, ia menimba ilmu di pesantren lain. Antara lain, ia pernah mengaji tabarruk kepada K.H. Umar Abdul Manan (Solo) dengan menyetorkan hafalan Al-Qur’annya. Meski tidak lama belajar kepadanya, tidak sampai dua bulan, ia merasa sangat beruntung, karena bisa memperoleh syahadah sanad dari sang guru.

Keinginannya yang kuat untuk mendalami AlQur’an membawanya meneruskan belajar di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta (1973-1976). Ia juga sempat belajar kepada K.H. Arwani (Kudus). Tetapi, baru berjalan sekitar dua bulan, ia diminta pulang ke Cirebon untuk menyiapkan keberangkatannya ke Makkah.

Tahun 1976-1977, ia mengaji Al-Qur’an di Masjidil Haram di bawah bimbingan Syekh Abdullah Al-‘Arabi, seorang Mesir yang didatangkan oleh jamaah Tahfizh Al-Qur”an. Sore harinya ia menuntut ilmu di Markaz Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyyah. Karena sudah hafal AlQur’an, ketika belajar ia hanya “menyetor” hafalan dan mendalami bacaannya. Pada akhir tahun, ia mengikuti ujian dan lulus mendapat syahadah yang menyatakan kemampuannya membaca Al-Qur’an secara hafalan dari awal hingga akhir.

Pada 1977 ia berangkat ke Madinah untuk mengikuti kuliah di Fakultas Kulliyatul-Qur’an wa Dirasah Islamiyyah dari Al-Jami’ah Al-Islamiyah. Akhirnya ia meraih gelar doktor dengan yudisium Mumtaz Syaraful “Ula (summa cumlaude) pada 1989. Praktis selama 12 tahun ia menghabiskan masa mudanya di Jam’iah AlIslamiyah, Madinah.

Penguasaannya yang mendalam tentang ilmu-ilmu Al-Qur’an menarik perhatian banyak kalangan. Pada 1992, ia diajak K.H. Syukron Makmun, pengasuh Pesantren Darul Rahman, Jakarta Selatan, untuk ikut mendirikan Institut Islam Darul Rahman. Pada tahun itu juga ia mengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) dan di IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Beberapa tahun kemudian ia diangkat sebagai pengajar tetap di IAIN hingga kini.

Selain dipercaya menjadi anggota dewan pendiri Organisasi Tahfizh Al-Quran Internasional di Jedah, ketua Tim Revisi Terjemahan dan Tafsir Al-Quran Departemen Agama, dan rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ), Jakarta (2005-2014), kini beliau menjadi sekretaris Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran Kementerian Agama RI dan Rais Majelis Ilmi Jami’yatul Qurra Wal Huffazh Nahdlatul Ulama.

Pengasuh Pondok Pesantren Dar Al-Qur’an Arjawinangun, Penasehat Yayasan Daarut Tauhid Bandung, (Aa Gym), Dewan Penasehat Pondok Pesantren Dar Al-Tauhid di Arjawinangun, Cirebon, Dewan Pembina Pondok Pesantren Husnul Khatimah Kuningan, Penasehat Indonesia Mengaji, Sekretaris Lajnah Pentashihan Al-Qur’an kementerian agama RI, Ketua Dewan Panasehat Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional yang biasa membuka program Karantina Hafal Al-Qur’an Sebulan.

Buku karya DR. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA Al-Hafizh best seller berjudul Oase Al-Qur’an dapat dipesan di 081312700100 (Admin: Pak Jajang).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *