Mau Lebaran Belanjakan Uang Rupiah Recehan di NKRI

Hafal Quran Sebulan

Mau Lebaran Belanjakan Uang Rupiah Recehan di NKRI

Jangan tolak kembalian uang recehan dan jangan tabungkan uang recehan apalagi menginfakkannya. Uang recehan harus diedarkan untuk jual beli sehingga nilai tukarnya terus berfungsi.

Belanjakan Recehan

Mungkin Anda pernah belanja di minimarket atau supermarket dan ada kembalian 100 rupiah, 200 rupiah, 500 rupiah, 1000 rupiah. Biasanya orang akan menolak kembalian uang 100 rupiah, 200 rupiah. Mungkin menurut Anda itu bukan masalah padahal itulah akar permasalahan mengapa uang rupiah menjadi semakin tidak berharga.

Jika Anda membeli mie instan 1 karton 40 bungkus Rp 65.900,- kemudian Anda memberikan uang senilai Rp 66.000,- maka secara langsung Anda telah menaikkan harga mie instan tersebut senilai 100 rupiah. Mungkin itu bukan masalah bagi Anda namun sebenarnya Andalah yang membuat nilai uang 100 rupiah menjadi tidak berharga.

Jika Anda membeli mie instan 1 karton 40 bungkus Rp 66.300,- kemudian Anda memberikan uang senilai Rp 66.500,- maka secara langsung Anda telah menaikkan harga mie instan tersebut senilai 200 rupiah. Mungkin itu bukan masalah bagi Anda namun sebenarnya Andalah yang membuat nilai uang 200 rupiah menjadi tidak berharga.

Bayangkan jika ada orang membeli mie instan 1 bungkus seharga Rp 2500,- tetapi karena masyarakat tidak mau menerima uang Rp 500,- maka penjual akan menaikkan harga 1 bungkus tersebut menjadi Rp 3000,- yang itu artinya uang Rp 500,- sudah tidak ada harganya lagi.

Hilangnya Uang Pecahan Kecil

Lihatlah peredaran uang Rp 1000 rupiah pun bisa jadi sebentar lagi akan kehilangan nilai tukarnya karena uang Rp 2000 lebih banyak beredar. Kemanakah perginya uang pecahan terkecil Rp 25, Rp 50, uang itu hilang karena masyarakat merasa enggan menerima atau membelanjakannya padahal hitungan di Fried Chicken tertentu masih ada pecahan Rp 20.454, masih ada pecahan 50 rupiah.

Terima saja dan belanjakan kembali uang recehan Rp100, Rp 200, Rp 500, tersebut agar nilainya tetap berfungsi sebagai alat tukar menukar di wilayah NKRI. Jangan tabungkan uang recehan sebab hal ini akan menghambat peredarannya. Jangan infakkan uang recehan karena uang recehan lebih pantas untuk dibelanjakan agar tetap bertahan nilainya.

Belajar Infaqkan Uang Besar

Jika ingin berinfak sebaiknya mulailah dari uang Rp 2000,-. Jika Rp 2000,- sudah ringan maka tingkatkan menjadi Rp 5000,-. Jika infak Rp 5000 sudah terasa ringan maka tingkatkan menjadi Rp 10.000. Tingkatkan terus menjadi Rp 20.000,-, Rp 50.000,- tingkatkan lagi Rp 100.000,- latihan terus meningkatkan jumlah per setiap kali infak harian Anda. Allah akan mengganti apa yang Anda keluarkan.

Orang kaya yang semakin berkah hidupnya biasanya menginfakkan antara 10-30 % penghasilan bulanannya. Contoh jika Anda gaji/penghasilan Rp 3.000.000,- / bulan x 20% = Rp 600.000,-. Maka uang yang harus diinfakkan harian yaitu Rp 600.000/30 = Rp 20.000,- per hari.

Infakkanlah uang ribuan Anda dan terus tingkatkan karena Allah akan memberikan peningkatan baik berupa kesehatan, kebahagiaan, ketenangan, keimanan, keharmonisan, kemudahan rejeki, dan lain sebagainya.

Dari Abu Hurairah Rhadiallahu ‘anhu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. memberitahukan kepadanya :

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : يَاابْنَ آدَمَ! أَنْفِقْ عَلَيْكَ

“Allah Yang Mahasuci lagi Maha Tinggi berfirman : Wahai anak Adam!’ berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberik rejeki) kepadamu” (HR. Muslim).

Alokasi keuangan dari gaji/penghasilan bulanan
Infak 20%
Konsumsi 50%
Putar untuk modal/pendidikan 20%
Simpanan 10%
Tanpa utang

Infakkanlah uang ribuanmu atau ratusan ribumu bahkan jutaan rupiahmu maka Allah akan membalas berinfak kepada untuk kebutuhan hidupmu tanpa harus berutang.

Sementara itu, untuk uang recehan jangan ditabungkan, jangan diinfakkan tetapi belanjakanlah beserta uang ribuanmu.

Ada perniagaan yang tidak merugi. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur’an), mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dengan diam-diam maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 30).

Perniagaan tersebut alhamdulillah dilakukan secara terang-terangan oleh 8600-an alumni Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional (YKTN Pusat) Kuningan Jawa Barat. Perniagaan itu diantaranya:

  1. Membaca Al-Qur’an dan menghafalkannya
  2. Mendirikan shalat
  3. Menginfakkan sebagian harta

Semoga Allah Subhanahu Wata’ala meridhai seluruh perbuatan baik kita semua. Karena tanpa ridha Allah, tidaklah bermanfaat semua yang kita lakukan.

Yadi Iryadi
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Licensed Practitioner Neuro Linguistic Programming
www.hafalquransebulan.com
www.karantinatahfizh.id

www.yadiiryadi.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *