Fenomena Menghafal Al-Quran Sebulan 30 Juz

Hafal Quran Sebulan

Fenomena Menghafal Al-Quran Sebulan 30 Juz

Penulis ingin menampakkan fenomena paling mendasar agar pembaca mengetahui konsep dasar metodologi karantina menghafal Al-Qur’an sebulan 30 juz. Harapan penulis agar para pembaca memiliki gambaran sebelum kemudian mau mengakselerasi hafalan Al-Qur’an dengan sistem karantina tahfizh Al-Qur’an.

Pro dan Kontra

Berawal dari argumentasi program karantina hafal Al-Qur’an sebulan memiliki pandangan berbeda bagi setiap orang. Sebagian orang beranggapan bahwa jika sebulan tidak mampu mencapai hafalan 30 juz maka dianggap sebagai suatu kegagalan. Sebagian orang berpendapat, apabila sebulan mencapai hafalan 15 juz pun sudah dianggap berhasil. Sebagian pihak lagi beranggapan bahwa meskipun peserta menyelesaikan hafalan 30 juz sebulan kemudian dianggap sebagai perbuatan sia-sia karena hafalan belum tentu siap disimak. Pihak lain justru beranggapan bahwa berapa juz pun hafalan yang didapatkan, baik siap maupun belum siap disimak maka bacaan Al-Qur’an mendapatkan pahala. Adapun alumni-alumni karantina tahfizh yang telah merasakan langsung fenomena menghafal Al-Qur’an sebulan, mereka berpandangan berbeda dari orang-orang yang hanya menduga-duga. Biasanya alumni mampu memuraja’ah kembali hafalannya kurang lebih 5 sampai 15 menit per halaman, biidznillah.

Melalui wawancara terstruktur, penulis menjelajahi pemikiran dan perasaan para alumni karantina tahfizh, meliputi niat, identitas, nilai-nilai, keyakinan, kemampuan, tindakan, kebiasaan, karakter, dan lingkungan peserta karantina tahfizh untuk memunculkan esensi pengalaman tertentu yang dapat diduplikasikan pada setiap orang yang ingin menghafal Al-Qur’an dengan sistem akselerasi. Fenomena apakah yang sesungguhnya terjadi? Konsep dasar metodologi apa yang dapat diduplikasi? Melalui ikhtiar membaca artikel ini dapat memunculkan semangat, antusias, dan harapan positif bagi orang-orang yang ingin menghafal Al-Qur’an dalam waktu sebulan agar bisa diperoleh hafalan 30 juz.

Keberhasilan Peserta

Penulis bersama Ustadz Ma’mun Al-Qurthuby, S.Pd.I., Al-Hafizh mendirikan Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional (YKTN Pusat) sejak 25 Juli 2014 / 27 Ramadhan 1436 H. Saat ini alhamdulillah sudah sampai pada angkatan ke-43 dengan jumlah alumni sejak angkatan pertama sampai sekarang ada 9558 alumni dari 42 angkatan dan terus bertambah setiap bulannya rata-rata 200 peserta. Bahkan pada momen liburan mencapai 500 peserta dalam satu angkatan.

Keberhasilan pencapaian hafalan Al-Qur’an di Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional (YKTN Pusat) pada program karantina cukup variatif. Ada peserta yang berhasil mencapai hafalan Al-Qur’an sebulan sebanyak satu, dua, tiga juz, atau 10 juz, 15 juz, 20 juz, 25 juz, 30 juz maupun diantara itu, bahkan 30 juz kurang dari sebulan.

Potensi Hafalan Anda

  1. Level Tahsin hafalan yang diperoleh antara 1-5 juz sebulan
  2. Level Tahsin dan Tahfizh hafalan yang diperoleh antara 6-15 juz sebulan
  3. Level Tahfizh hafalan yang diperoleh antara 16-30 juz sebulan
  4. Level Muraja’ah dan Ziyadah hafalan 30 juz kurang dari sebulan
  5. Level Mutqin hafalan yang diperoleh 30 juz disimak per 10 juz

Alamat YKTN Pusat

Program menghafal Al-Qur’an sebulan bertempat di YKTN Pusat, alamat Jalan Raya Objek Wisata Cibulan, RT 017 RW 004, Desa Maniskidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Penulis memandang penting nilai-nilai yang terkandung untuk diangkat sebagai sesuatu yang ditampakkan apa adanya sehingga bermanfaat bagi masyarakat muslim yang ingin menghafal Al-Qur’an.

Aktivitas YKTN Pusat

Aktivitas karantina menghafal Al-Qur’an sebulan 30 juz mulai dari profil, segmentasi, publikasi, input, process, output, dan outcome. Hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu konsep dasar metodologi karantina menghafal Al-Qur’an sebulan; acara pembukaan dan tata tertib; pembekalan standarisasi tahsin dan pembekalan metode Yadain Litahfizhil Qur’an; tausiyah dan motivasi; bimbingan menghafal Al-Qur’an sebulan; hambatan dan penanganan kesulitan menghafal; klasifikasi keberhasilan level tahsin, tahfizh, muraja’ah, dan mutqin. Hal ini merupakan inti dari permasalahan yang diangkat sebagai fenomena yang diinformasikan pada para pembaca, baik pembaca sebelum maupun sesudah mendaftarkan diri menjadi Peserta Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional. Tentu saja, pada proses menghafal Al-Qur’an sebulan ada banyak fenomena yang membuat penasaran, unik, menarik untuk dikaji, bisa juga sebagai persiapan ketika ingin menghafalkannya.

Pembekalan Metode

Metodologi menghafal Al-Qur’an penting didahulukan sebelum benar-benar mempelajarinya. Pembekalan metodologi menjadi dasar dari tindakan-tindakan dalam mempelajari dan menghafalkan Al-Qur’an. Perbekalan metodologi diibaratkan orang yang ingin mendaki gunung. Tentu ia memerlukan persiapan mental, alat-alat yang dibutuhkan, juga keterampilan dasar yang harus dilatih sebelum melakukannya. Apabila kurang persiapan maka tidak jarang para pendaki yang kelelahan di pertengahan jalan. Ia tidak maju dan tidak pula mundur. Sementara jarak ke puncak masih jauh dan jarak untuk kembali pun sudah terlampau jauh. Akhirnya hafalan Al-Qur’an terkatung-katung, tidak menambah dan tidak pula muraja’ah. Karena itu, bersyukur penulis dapat bertemu dengan para pembaca, sebab di luaran sana ada banyak orang yang memerlukan energi tambahan untuk menyelesaikan hafalan. Semoga Allah mudahkan perjalanan kita menghafal Al-Qur’an.

Tulisan ini berdasarkan ringkasan penelitian ilmiah skripsi berjudul Fenomenologi Menghafal Al-Qur’an Sebulan di Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional di Universitas Islam Al-Ihya Kuningan Jawa Barat.

Yadi Iryadi, S.Pd
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Licensed Practitioner Neuro Linguistic Programming (NLP)
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

www.hafalquransebulan.com
Info pendaftaran WA +6281312700100

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Copyright 2014-2019.