Ubahlah Target Menghafal Menjadi Membaca Alquran Berkali-kali

Hafal Quran Sebulan

Ubahlah Target Menghafal Menjadi Membaca Alquran Berkali-kali

Malaikat pun kagum terhadap kehebatan Nabi Adam yang dimampukan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk menyebutkan nama-nama benda. Sehingga malaikat mengakui potensi kehebatan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Sebagian besar orang biasanya akan tercengang dan kagum menyimak kisah tentang kekuatan dan hafalan para ulama terdahulu.

Terkadang sebagian orang belum memiliki bayangan sedikitpun untuk bisa memiliki kemampuan serupa. Padahal kakek nenek moyang kita sama-sama diberikan potensi yang sedemikian hebatnya oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

 وَعَلَّمَ ءَادَمَ الأَسْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَآءِ هَؤُلآءِ إِن كُنتُم صَادِقِينَ {31} قَالُوا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَآ إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ {32} قَالَ يَآءَادَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ فَلَمَّآ أَنبَأَهُمْ بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ {33}

Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:”Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika memang kamu orang yang benar!”, [31] Mereka menjawab:”Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [32] Allah berfirman:”Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya nama-nama benda itu, Allah berfirman:”Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan [33]”. (QS. Al-Baqarah: 31-33)

Berbagai alasan banyak yang melemahkan pikirannya sehingga tidak ada kemauan untuk belajar. Akibatnya ilmu yang sudah dipelajari dihapus kembali dengan perkataan-perkataan sugesti yang tidak bermanfaat.

Di bawah ini merupakan sugesti-sugesti negatif yang melemahkan daya ingat:

  • Daya ingat saya lemah
  • Saya mudah lupa dan susah mengingat
  • Saya mudah hafal tapi mudah lupa
  • Lebih susah mengulang hafalan dibandingkan hafalan baru
  • Lebih mudah hafalan baru dibandingkan mengulang hafalan muraja’ah
  • Saya tidak mampu menghafal Al-Qur’an
  • Saya malas menghafal Al-Qur’an karena daya ingat saya lemah
  • dan berbagai dalih lainnya

Dengan banyak alasan diantaranya faktor bawaan dan nasib kerap dijadikan jawaban pamungkas saat ingin berkilah dari motivasi untuk menghafal. Padahal, hasil yang para ulama, huffazh Al-Qur’an dan ahli di bidang suatu ilmu mereka dapatkan bukan serta merta didapatkan tanpa upaya. Tentu ada proses panjang yang sebenarnya kita pun terbuka kemungkinan untuk bisa menempuhnya saat ada kemauan melakukannya.

Kebiasaan para ulama terdahulu adalah membaca Alquran dan kitab-kitab secara berulang sampai hafal bahkan sambil mengajarkan pada murid-muridnya. Para ulama terdahulu kerap kali mengkhatamkan buku-buku tebal dalam waktu singkat dan mengulang-ulangnya.

Al-Faqih Kamaluddin Umar bin Abdurrahim Ibn Al-‘Ajami Asy-Syafi’i (w. 642 H) bahwa beliau membacakan Al-Muhadzdzab kitab fiqih madzhab Syafi’i karya Asy-Syirazi sebanyak 25 kali.

Sosok Abdul Ghafir bin Muhammad Al-Farisi (w. 448 H) mengajarkan Kitab Shahih Muslim lebih dari 60 kali.

Al-Khatib Al-Baghdadi (w. 463 H) khatam shahih Al-Bukhari dalam 3 kali pertemuan. Beliau hafal 100.000 hadits lebih, lengkap sanad dan matannya). Di Mekah beliau sempat membaca tuntas Shahih Al-Bukhari dalam 5 hari di depan Karimah binti Ahmad Al-Maruziyyah (w. 463H) seorang yang berilmu, memiliki kelebihan dan jeli mengecek kevalidan berita. Umurnya mencapai 100 tahun dan meinggal dalam keadaan belum menikah. Lihat Al-Muntazham (16/135-136) dan As-Siyar (18/233-235)

Abdullah bin Sa’id bin Lubbaj Al-Umawi (w. 436 H) satu pekan tuntas mengajarkan Shahih Muslim.

Al-Mu’taman As-Saji (w. 507) membaca kitab Al-Muhaddits Al-Fashil dalam sekali pertemuan.

Thalhah bin Muzhaffar Al-Altsi Al-Hanbali (w. 593 H) membaca kitab shahih Muslim dalam tiga kali pertemuan.

Al-Izz bin Abdussalam (w. 660 H) membaca Nihayah Al-Mathlab dalam 3 hari.

Ibnu Al-Abbar (w. 658 H) dalam 6 hari mengkhatamkan kitab Shahih Muslim

Syaikh Al-Alim Az-Sahid Shalih bin Abdullah bin Ja’far bin Ash-Shabbagh Al-Kufi Al-Hanafi (w. 727 H) mengajarkan kirab Al-Kasysyaf. Beliau pernah mengajarkan kitab karya Az-Zamakhsari tersebut dari hafalannya sebanyak 8 kali disertai pembahasan, penelitian dan pemberitahuan atas kejanggalan-kejanggalannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) pernah mengkhatamkan kitab Al-Ghailaniyat dalam sekali baca. Beliau menguasai berbagai ilmu keislaman.

Al-Faqih Az-Zahid Ismail bin Muhammad bin Isma’il bin Al-Farra’ Al-Harani dan Ad-Dimasyqi Al-Hanbali (w. 729 H) beliau membacakan Al-Muqni sebanyak 100 kali.

Al-Hafizh Al-Mizzi (w. 742 H) pernah membaca Al-Mu’jam Al-Kabir karya Ath-Thabrani dalam 60 pertemuan yang dihadiri oleh Al-Hafizh Al-Barzali.

Al-Hafizh Syamsuddin Adz-Dzahabi (w. 748 H) khatam membaca sirah Ibn Hisyam dalam 6 hari.

Sirajuddin Ibnul Mulaqqin (w. 804 H) membaca dua jilid kitab Al-Hakam dalam sehari.

Sirajuddin Al-Bulqini (w. 805 H) paling sedikit khatam membaca satu jilid kitab fiqih dalam sehari.

Al-Hafizh Zainuddin Al-Iraqi (w. 806 H) tuntas menyetorkan hafalan shahih Muslim dalam 6 kali pertemuan. Mengkhatamkan kitab Al-Musnad dalam 30 kali pertemuan.

Abdul Qadim bin Abdurrahman An-Nuzaili Al-Yamani pernah mengajarkan Al-‘Ubab dalam masalah fikih sebanyak 800 kali.

Majduddin Fairuz Abadi (w. 817 H) mengkhatamkan kitab Shahih Muslim dalam 14 kali pertemuan. Khatam Shahih muslim di hadapan Al-Bayani dalam empat belas pertemuan di masjid Al-Aqsa. Khatam kitab shahih muslim dalam 3 hari dihadapan gurunya Nashiruddin Abu Abdullah Muhammmad bi jahbal di antara 2 pintu utama pintu Nasr dan Faraj di depan bekas terompah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam di Damaskus.

As-Sakakini Asy-Syafi’i (w. 838 H) pernah membacakan kitab Al-Hawi sebanyak 30 kali.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) khatam membaca kitab Al-Musnad dalam 53 pertemuan. Khatam Shahih Bukhari dalam 10 pertemuan. Khatam Shahih Bukhari dalam lima kali pertemuan. Khatam As-Sunan Al-Kubra karya An-Nasa’i dalam 10 pertemuan. Khatam Ibnu Majah dalam 4 pertemuan. Mengkhatamkan Al-Mu’jam As-Shagir karya Ath-Thabrani dalam sekali pertemuan. Membaca 1000 juz hadits dan menulis 10 jilid dalam tempo 100 hari. Kitab yang dikhatamkannya ada yang tebal dan ada yang tipis. Jika dijumlahkan kira-kira menjadi 30 buku berjilid tebal memuat 450 juz hadits, itu di luar potongan-potongan hadits yang lain yang jumlahnya lebih banyak dari itu.

Al-hafizh Ad-Diyami (w. 908 H) khatam membaca Shahih Al-Bukhari dalam 4 hari.

Al-Alamah Al-Qashthalani (w. 923 H) mengkhatamkan kitab Shahih Al-Bukhari dalam lima kali pertemuan.

Ibrahim Al-Biqa’i Al-Hanbali (w. 935) mengkhatamkan kitab Shahih Al-Bukhari dalam 6 hari dan Shahih Muslim dalam 5 hari.

Kemudian yang mencengangkan adalah para ulama tersebut mempelajarinya dengan cara membacanya secara berulang-ulang baik dibaca sendiri maupun dihadapan murid-muridnya.

Mereka juga mengalami masa-masa sulit untuk menghafal. Mereka juga membutuhkan kesabaran ekstra, mengulang-ulang untuk menghafalnya, atau menjaga agar hafalan tidak hilang dari rekaman otaknya. Mereka semua pernah melakukan membaca Alquran berulang dan hal ini dilakukan pula pada kitab-kitab lainnya.

Ada baiknya mencoba cara serupa. Jika target hafalan dirasa berat, maka cukuplah target diturunkan menjadi ‘membaca sekian puluh kali’. Meski terkesan agak membutuhkan waktu lama, tapi beban pikiran terasa lebih ringan ketimbang beban ”harus hafal” hasilnya akan lebih bisa dirasakan. Simaklah bagaimana para ulama menghafal pelajaran yang didapatkan.

Abu lshaq al-Shirazy biasa mengulangi pelajaran yang ia dapatkan sebanyak seratus kali. AI-Hasan bin Abu Bakar an-Naisabury juga berkata, “Seseorang tidak akan hafal dengan baik sampai dia mengulanginya sebanyak lima puluh kali.”

Beliau juga bercerita tentang seorang faqih (ahli fiqh) yang mengulang pelajaran di rumahnya berkali-kali. Hingga seorang nenek tua di rumahnya berkata, “Cukup,. Demi Allah, akupun sampai ikut hafal.” Maka berkatalah si faqih, “Ulangilah apa yang telah nenek hafal.” Wanita tua itu mengulanginya dan betul-betul hafal. Setelah beberapa hari. si faqih berkata kembali, “Nek, ulangilah pelajaran yang waktu itu.” Si nenek pun berkata, “Aku tidak hafal lagi.” Si faqih itu berkata, “Aku selalu mengulanginya agar tidak menimpaku apa yang telah menimpamu (yaitu hilangnya hafalan)..”

Kesungguhan semacam ini pada akhirnya membuahkan kenikmatan dan kemudahan untuk menghafaIkan ilmu yang bermanfaat. Wallahu a’lam.

Para ulama terdahulu yang mempelajari Hadits biasanya diawali dengan menghafal Al-Qur’an. Sehingga benarlah bahwa untuk menguasai hafalan yang baik hendaknya perbanyak pengulangan membacanya. Alih-alih merasa terbebani dengan sulitnya menghafal justru dapat diatasi dengan banyaknya membaca berulang-ulang.

Mulai sekarang ubahlah target menghafal menjadi membaca alquran berkali-kali. Semoga Allah mudahkan kita dalam membaca Alquran secara berulang dan ilmu pengetahuan lainnya yang bermanfaat. Aamiin.

Yadi Iryadi
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Sumber bacaan:
Abu Umar Abdullah. 2016. “Muslim Hebat,” Ar-Risalah: Bandung
Ali bin Muhammad Imran. 2016, “Gila Baca ala Ulama,” Kuttab Publishing: Solo
dan berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *