Ringkasan Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Hafal Quran Sebulan

Ringkasan Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Halaqoh Hafal Quran Karantina Tahfizh

Ada banyak metode menghafal Al-Qur’an di Indonesia dan salah satunya yaitu metode Yadain Litahfizhil Qur’an. Kata metode yaitu berasal dari bahasa Yunani, yaitu “meta” artinya sepanjang dan kata “hodos” artinya jalan. Sehingga metode berarti suatu ilmu tentang cara atau langkah-langkah yang ditempuh dalam suatu disiplin tertentu untuk mencapai tujuan tertentu pula. Adapun metode Yadain Litahfizhil Qur’an yaitu berasal dari kata “Yadun” yang artinya tangan, sedangkan “Yadain” yaitu dua tangan. Sedangkan menurut istilah berarti suatu cara untuk memudahkan menghafal Al-Qur’an dengan tujuan untuk mengetahui buyi ayat Al-Qur’an, nama surat, terjemah, nomor ayat, nomor halaman, letak kiri kanan, dan letak juz dengan visualisasi tadabur dua tangan.

Proses menghafal Al-Qur’an menggunakan metode Yadain menjadi lebih cepat dan mudah hafal atau mudah dikembalikan kelancarannya karena disertai tadabur terjemah. Berikut ini gambaran metode Yadain:

  1. melibatkan seluruh potensi pancaindra dalam menghafal Al-Qur’an. Menggunakan potensi panca indra dalam menghafal yaitu penglihatan (visual), bunyi (auditory), gerak (kinesthetic), pembau (olfactory) dan perasa (gustatory) sebagaimana telah dijelaskan;
  2. membuat kesan objek yang akan diingat secara imajinatif dan dikatikan dengan bunyi kata, terjemah, pemahaman dan nomor ayat dengan jari ayat disertai visualisasi tadabur dalam imajinasi;
  3. melibatkan emosi yaitu membuat kesan yang mendalam dalam setiap ayat yang dibaca misalnya yang bermuatan cinta, kebahagiaan, kesedihan, siksaan, adzab dan sebagainya;
  4. memori imajinasi, asosiasi dan visualisasi digunakan untuk membayangkan seolah tulisan dalam mushaf terbayang dan terdengar sehingga hafalan menjadi kuat disertai dengan pemahaman terjemahnya;
  5. menggunakan keyword atau kata kunci untuk menghafal Al-Qur’an sehingga jika terlupakan ditengah ayat maka dapat mengulangi hafalan tersebut berdasarkan awal ayat yang masih dapat diingat;
  6. jika visualisasi tadabur sudah dapat dilakukan secara otomatis maka gerakan tangan sudah tidak diperlukan lagi.

Semua metode menghafal Al-Qur’an pasti dibaca diulang-ulang. Pengulangan hafalan membuat hafalan menjadi lebih lancar. Perbedaannya dalam metode Yadain yaitu menghafal Al-Qur’an disertai pemahaman tadabur yaitu saat bacaan diulang-ulang ayatnya sambil dibayangkan visualisasi alur maknanya:

  1. siapa pelaku? Aku, kamu, kalian, dia, mereka, kami, nama, dan asmaul husna.
  2. bagaimana sifat? Baik atau jahat.
  3. di mana letak benda? langit, dunia-akhirat, dan surga-neraka.

Jawaban pertanyaan tersebut disingkat menjadi dua bagian yaitu:

  1. tangan kiri (keburukan);
  2. tangan kanan (kebaikan).

Inilah intisari metode Yadain Litahfizhil Qur’an meringkas isi
Al-Qur’an berdasarkan kebaikan di sebelah kanan dan keburukan di sebelah kiri. Efeknya saat ayat dibaca terasa menikmati bacaan Al-Qur’an melebihi nikmatnya baca cerita novel ataupun melebihi menonton film. Berikut ini langkah nyata menghafal Al-Qur’an dengan menggunakan metode Yadain Litahfizhil Qur’an.

  1. Membaca terjemah Al-Qur’an satu halaman penuh. Tujuannya untuk memahami siapa pelakunya, bagaimana sifatnya dan di mana letak bendanya? Melalui pemahaman metode Yadain yaitu ‘kiri’ untuk keburukan dan ‘kanan’ untuk kebaikan.
  2. Membaca ayat sambil memahami terjemah per kata, memvisualisasikan siapa, sifatnya dan letak bendanya sebagaimana tahap pertama.
  3. Satu kata dihafal dalam satu kedipan mata atau satu detik saja dan mengulang-ulang satu baris target hafal dalam waktu satu menit.
  4. Ulangi membaca ayat tersebut hanya dengan melihat terjemahnya saja sedangkan ayat sambil ditutup menggunakan kertas/buku.
  5. Target dalam waktu 15 menit selesai satu halaman.
  6. Membaca kembali tiga hingga lima kali sebanyak satu halaman dalam waktu kurang lebih lima menit.
  7. Ulangi membaca ayat dengan bantuan terjemah Kementrian Agama RI sedangkan ayat ditutup sebanyak satu halaman penuh.
  8. Jika terjadi kesalahan atau lupa maka perbaiki dengan cara mengintip ayat tersebut pada mushaf.
  9. Ulangi langkah ketujuh dan delapan sebanyak lima hingga 10 kali.
  10. Tutup mushaf dan hafalkan sampai lancar satu halaman.
  11. Simak hafalan oleh muhaffizh atau muhaffizhah
  12. Targetkan mampu menghafal dalam waktu 30-60 menit dengan lancar.

Apabila metode ini dilakukan secara terus-menerus maka akan terjadi akselerasi karena banyaknya ayat yang mirip dalam Al-Qur’an. Bagi pemula yang menghafal Al-Qur’an pada juz 30, 29, 28 memerlukan waktu rata-rata tiga hingga tujuh jam per halaman untuk bisa disimak hafalan satu halaman. Biasanya para pemula dalam waktu 12 jam mampu menyimakan hafalan satu hingga empat halaman/hari pada juz ini. Kecuali jika tiga juz ini merupakan hafalan muraja’ah, biasanya satu sampai tiga hari selesai disimak kembali.

Saat peserta menghafal juz satu sampai juz lima memerlukan waktu kurang lebih satu sampai dua jam per halaman sehingga dalam 12 jam mampu menyetorkan hafalan antara delapan sampai 12 halaman per hari. Jika hafalan muraja’ah biasanya satu sampai lima hari selesai lima juz ini.

Selanjutnya menghafal juz enam sampai juz 10 memerlukan waktu kurang lebih 30 menit sampai 60 menit per halaman sehingga dalam 12 jam mampu menyetorkan hafalan antara 15-24 halaman per hari untuk hafalan baru sedangkan hafalan muraja’ah biasanya satu sampai lima hari untuk selesaikan menyimak hafalan lima juz ini.

Ketika menghafal juz 11 sampai 18 biasanya terjadi akselerasi yang signifikan. Biasanya memerlukan waktu kurang lebih 20-30 menit per halaman sehingga dalam 12 jam mampu menyetorkan hafalan 20 sampai 30 halaman per hari untuk hafalan baru. Dilanjutkan juz 19 sampai juz 27 biasanya di luar dugaan terjadi akselerasi menghafal Al-Qur’an memerlukan waktu kurang lebih lima sampai 20 menit per halaman sehingga dalam 12 jam mampu menyetorkan hafalan di atas 30 halaman per hari.

Metodologi karantina menghafal Al-Qur’an sebulan menargetkan hafalan selesai 30 juz dalam waktu sebulan. Namun itu pun hafalan yang dihasilkan masih harus di-muraja’ah dengan cara seperti di bawah ini:

tahap ke-1 : proses menghafal Al-Qur’an di karantina tahfizh dengan target menghafal per halaman sampai selesai 30 juz atau semampunya;

tahap ke-2 : proses melancarkan hafalan Al-Qur’an dengan target setoran hafalan per lima halaman sekali setoran sampai selesai 30 juz;

tahap ke-3 : melancarkan hafalan per 10 halaman sekali majelis 30 juz;

tahap ke-4 : proses melancarkan hafalan per 20 halaman sekali majelis 30 juz;

tahap ke-5 : proses melancarkan per dua juz sampai 30 juz

tahap ke-6 : proses melancarkan per lima juz sampai 30 juz

tahap ke-7 : proses melancarkan per 10 juz sampai 30 juz

tahap ke-8 : proses melancarkan per 15 juz sampai 30 juz

tahap ke-9 : proses melancarkan per 30 juz dalam satu majelis

Tahapan muraja’ah seperti di atas hanya cocok dilakukan dalam program karantina mutqin tiga bulan. Sedangkan untuk menghafal Al-Qur’an di luar karantina tahfizh disesuaikan dengan keterbatasan waktu.  Misalnya per hari target mutqin lima halaman sebagai berikut: Senin lima halaman, Selasa lima halaman, Rabu lima halaman, Kamis lima halaman, Jumat muraja’ah halaman satu juz, Sabtu setoran muraja’ah satu juz, Ahad muraja’ah tilawah seluruh juz. Sedangkan hari Senin kemudian mulai menghafal juz selanjutnya sampai kemudian menjadapatkan hafalan Mutqin lima juz andalan, 10 juz andalan, 15 juz andalan sampai mutqin 30 juz, Insyaa Allah.

Memahami bahasa Arab dapat menambah kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an hal ini merupakan janji Allah (QS. Maryam: 97). Allah Subhanahu Wata’ala memudahkan Al-Qur’an dengan bahasa yang digunakan oleh Nabi Muhammad tujuannya agar dapat memberi kabar gembira bagi orang-orang yang bertakwa dan peringatan kepada kaum yang membangkang dari perintah dan larangan-Nya.

Peserta karantina tahfizh yang belum mahir bahasa Arab tidak dituntut untuk menerjemahkan ayat-ayat Al-Qur’an tanpa bantuan Al-Qur’an terjemah per kata. Bahkan penafsiran pun tidak diperbolehkan melainkan cukup dengan memahami alur makna yang bisa dipahami secara jelas saja. Fokus metode Yadain hanya terbatas pada menghafal Al-Qur’an disertai tadabur terjemah untuk memudahkan orang yang belum pandai bahasa Arab.

 

Yadi Iryadi, S.Pd

Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional (YKTN Pusat)

Licensed Practitioner Neuro Linguistic Programming (NLP)

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Info www.hafalquransebulan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *