Ringkasan Adab Menghafalkan Al-Qur’an dalam keadaan Haid

Hafal Quran Sebulan

Ringkasan Adab Menghafalkan Al-Qur’an dalam keadaan Haid

 

Banyak calon peserta menanyakan atas keraguan mengenai bolehnya seorang wanita haid membaca dan menghafalkan Al-Qur’an. Terlebih dalam program menghafal Al-Qur’an dalam durasi satu bulan biasanya wanita sehat akan mengalami haid.

Sebelum membahas lebih lanjut mari kita bedakan hadats besar berupa haid dan junub. Haid atau mestruasi adalah keadaan normal wanita sebagai siklus bulanan, berupa keluarnya darah dari rahim yang bukan disebabkan oleh suatu penyakit dan bukan karena adanya proses persalinan, yang keluarnya darah itu merupakan sunnatullah yang telah ditetapkan oleh Allah kepada seorang wanita.

Junub secara bahasa adalah lawan dari qurb dan qarabah yang bermakna dekat, sehingga junub artinya jauh. Istilah junub secara syar’i, diberikan kepada orang yang mengeluarkan mani atau orang yang telah melakukan jima’. Orang yang demikian dikatakan junub dikarenakan menjauhi dan meninggalkan apa yang dilarang pelaksanaannya oleh syariat dalam keadaan junub tersebut.

Mengenai hal tersebut mayoritas ulama empat mazhab Ahlusunah Waljama’ah sepakat bahwa tidak boleh bagi seorang wanita yang sedang haid maupun junub untuk membaca dan menyentuh mushaf Al-Quran. Wanita yang membaca Al-Qur’an ketika Haid, Kebanyakan ulama menyatakan hal tersebut haram dengan alasan : Telah berkata Ibnu ‘Umar, sabda Nabi s.a.w. : “Tidak boleh membaca Qur’an orang yang junub dan tidak boleh (pula) perempuan yang berhaid”. (H.R. Abu Dawud, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Hadist lain: Telah berkata Ibbir : Sabda Nabi s.a.w. : “Perempuan yang berhaid dan bernifas tidak boleh membaca akan sesuatu dari pada Al-Qur’an”. (H.R. Daraquthni).

Menurut sebagian ulama hadist, kedua hadis tersebut lemah, dengan alasan hadits pertama itu tidak sah, karena di dalam isnadnya terdapat orang yang bernama  Ismail bin ‘Ayasy, dia dilemahkan oleh imam-imam seperti Ahmad, Bukhari dan lain-lain, dan pada Hadits yang kedua terdapat isnad­ yang bernama Muhammad bin Fadl-I. dia terkenal sebagai tukang memalsu Hadits. Tidak ada Hadits yang sah dalam hal ini. Oleh karena itu, pendapat yang mengharamkan perempuan yang masih berhaid atau bernifas membaca Qur’an itu, menjadi lemah. Adapun dalam masalah orang junub membaca Qur’an, Para ulama terbagi kedalam dua faham.

Dalil-dalil mengenai masalah ini diantaranya: Telah berkata ‘Ali bin Abi Thalib: Bahwa adalah Rasulullah .s.a.w. sering membacakan kita akan Qur’an di tiap­ tiap masa beliau itu keadaannya tidak berjunub. (H.R. Ahmad, Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Turmudzi, dan ia berkata :   Hadiets ini baik shahih).

Faham pertama, yang menyatakan Hadis di atas tidak sah

Imam Syafi’ie berkata : “Bahwa Ahlul-Hadits tidak semuanya sepakat menetapkan sahnya (Hadits ini)”. Berkata imam Nawawi : “Kebanyakan Ahlul-Hadits berlainan dengan Turmudzi ; dan mereka dla’ifkan Hadits itu.”

Hadis ini lemah karena di dalam isnadnya terdapat seorang yang bernama Abdullah bin Salimah dan ia itu dilemahkan oleh sekalian penganjur-penganjur Ahlul-Hadits. Alasan ia dilemahkan karena ingatannya sudah berubah. Demikian keterangan menurut imam Al­-Baihaqy, dan berkata Imam Syu’bah : “Bahwa Abdullah itu tatkala meriwayatkan Hadits ini, sesudah tua dan berubah.”

Alasannya, tidak ada pendapat yang menentang larangan tersebut. Pendapat itu berdasarkan hadis Nabi Muahmmad SAW berupa surat beliau kepada masyarakat Yaman yang dibawa oleh ‘Amr bin Hazm yang di antara isinya terdapat, “…. Hendaklah tidak menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci.” (HR Imam Malik, Ibnu Hibban, dan al- Baihaqi).

Mayoritas ulama berpendapat bahwa wanita yang sedang haid dilarang untuk membaca Al-Qur’an meskipun tanpa menyentuh mushaf sampai ia bersuci, kecuali ia membaca sebagian ayat Al-Quran dengan niat berzikir atau ber doa bukan dengan niat tilawah Al-Quran, seperti membaca bismillah dan rabbana aatina fiddunya hasanah ataupu doa-doa lainnya yang terdapat pada Al-Qur’an. Hal itu karena orang yang sedang haid dianalogikan (Qiyas) dengan orang yang sedang junub dengan alasan kedua-duanya adalah hadast besar yang menyebabkan mandi wajib. Orang yang sedang junub dilarang untuk membaca dan menyentuh Al-Qur’an maka wanita yang sedang haid juga dilarang untuk membaca Al-Qur’an.

Dijelaskan dalam satu riwayat. Dari Ali, ia berkata, “Rasulullah SAW selalu membacakan Al-Qur’an kepada kami dalam segala keadaan selama beliau tidak dalam keadaan junub.” (HR. Tirmizi dan Ahmad). Dalam riwayat lain disebutkan, “Ali meriwayatkan bahwa tidak ada yang menghalangi Rasulullah SAW dari membaca Al-Quran, kecuali beliau dalam keadaan junub.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, al-Nasa’i, al-Hakim, dan Ibnu Hibban).

Sedangkan, sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa boleh.

Yaitu bagi seorang wanita yang sedang haid untuk membaca Al-Qur’an tanpa menyentuhnya. Ini adalah pendapat Mazhab Maliki, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, salah satu pendapat dalam Mazhab Syafi’i, dan dipilih oleh Ibnu Taimiyyah. Hukum asal membaca Al-Qur’an adalah dibolehkan sampai ada dalil yang melarangnya dan ternyata tidak ditemukan dalil kuat yang melarang seorang wanita sedang haid membaca Al-Qur’an.

Menganalogikan (Qiyas) haid dengan junub adalah suatu analogi yang jauh (qiyas ma’a al-fariq) karena seorang yang sedang junub bisa dengan segera menghilangkan junubnya dengan segera mandi dan ia harus melakukan itu agar bisa menunaikan shalat sedangkan wanita yang se dang haid harus menunggu sampai haidnya berhenti terlebih dulu yang terkadang memakan waktu berhari-hari. Melarang wanita yang sedang haid untuk membaca Al-Qur’an itu akan menghalangi mereka mendapatkan pahala tilawah Al-Qur’an dalam jangka waktu yang lama dan mungkin juga akan menyebabkan mereka lupa akan hafalan Al-Qur’an.

Seandainya membaca Al-Qur’an dalam keadaan haid dilarang tentu akan menghalangi ustadzah-ustadzah dalam belajar dan mengajar Al-Qur’an. Sehingga membaca Al-Qur’an dalam keadaan haid lebih maslahat diperbolehkan, inilah pendapat yang kuat. Bahkan, Ibnu Taimiyyah dan sebagian ulama Mazhab Maliki berpendapat bahwa wanita yang sedang haid membolehkan menyentuh mushaf Al-Qur’an jika dalam keadaan mendesak, seperti untuk menghafal agar tidak lupa atau untuk belajar dan mengajar.

Menyikapi ikhtilaf tersebut dengan tetap mengakomodir berbagai perbedaan pendapat maka di Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional memilih kebijakan sebagai berikut :

1. Wanita haid boleh membaca Al-Qur’an dengan niat menambah hafalan dan muraja’ah Al-Qur’an agar hafalan tidak lupa.
2. Wanita haid boleh memegang mushaf Al-Qur’an dengan menggunakan Al-Qur’an terjemah yang lebih banyak tulisan latinnya atau seimbang.
3. Laki-laki dan Wanita dalam keadaan junub karena keluar mani, mimpi jima’ ataupun berjima’ dengan suaminya maka diharuskan mandi besar. terlebih dahulu untuk kemudian bisa menghafal Al-Qur’an lagi.

4. Jika belum puas berikut ini rujukan bacaan yang kami rekomendasikan untuk dipelajari :

  • Fikih Islam, H. Sulaiman Rasjid, Penerbit: Sinar Baru Al Gensindo
  • Soal-Jawab (1) Tentang Berbagai Masalah Agama, A. Hassan, Moh. Ma’sum, dan H. Mahmud Aziz, Penerbit: Cv Penerbit Diponegoro Bandung
  • Fikih Sunnah Jilid 1,Sayid Sabiq, alih bahasa oleh Mahyudin Syaf, Penerbit PT Al Ma’arif Bandung

3 Responses

  1. Ana berkata:

    Alhamdulillah sangat membantu sekali. Menghilangkan kebingungan saya.
    Sekali lagi terima kasih

  2. Sri Adi Tiyanti berkata:

    Terimakasih atas penjelasa, Alhamdulillah saya mendapat ilmu dan informasi nya . Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *