Resensi Buku, “Karantina Hafal Al-Qur’an Sebulan”

Hafal Quran Sebulan

Resensi Buku, “Karantina Hafal Al-Qur’an Sebulan”

  1. Judul buku : “Karantina Hafal Quran Sebulan”
  2. Penulis : Saied Al-Makhtum dan Yadi Iryadi
  3. Penerbit : CV. Alam Pena
  4. Tahun terbit : 2017 cetakan ke-3
  5. Dimensi buku : 15 cm x 20 cm
  6. Jumlah halaman : 130 halaman
  7. ISBN : 978-602-74382-3-1
  8. Harga buku : Rp 37.000,-
  9. Beli buku ini pesan via WhatsApp di nomor 081312700100

Buku ini berisi kisah nyata yang bisa terjadi pada siapapun untuk mampu menghafal Al-Qur’an dalam waktu sebulan. Penulisnya merupakan alumni Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional bernama Saied Al-Makhtum Al-Hafizh berkolaborasi dengan Ustadz Yadi Iryadi, Al-Hafizh penyusun metode Yadain Litahfizhil Qur’an yang juga Dewan Pembina di yayasan tersebut.

Pakar ilmu Qira’ah Sab’ah dan Qira’ah Asyrah, aktif di Lajnah pentashih Al-Qur’an kemenag Republik Indonesia sekaligus penasehat Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional DR. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA Al-Hafizh memberikan pengantar pada buku ini bahwa program karantina tahfizh diprioritaskan untuk menambah hafalan Al-Qur’an. Kegiatan intinya menyetorkan hafalan hafalan perhalaman dengan lancar dan disertai pemahaman tadabbur. Sehingga setelah setoran 30 Juz selesai akan lebih mudah untuk muraja’ahnya. Rahasianya adalah banyaknya ayat yang mirip atau sama yang ditunjang dengan metode Yadain Litahfizhil Qur’an. Alhamdulillah kami sangat mengapresiasi buku ini, yang ditulis oleh salah satu alumni yang berhasil menyelesaikan hafalan 30 Juznya dalam waktu sebulan dan memantapkan kelancaran hafalannya dalam waktu 2 bulan. Biidznillah.

Dalam buku ini Mudir Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional ustadz Ma’mun Al-Qurthuby, S.Pd.I Al-Hafizh menyampaikan bahwa dalam perjalanannya saat ini banyak peserta yang mampu menyelesaikan setoran dan menghafal 30 Juz dalam waktu sebulan atau bahkan kurang dari 20 hari. Kami bersyukur kepada Allah karena banyak santri yang belajar di yayasan ini ketika kembali ke pesantren mampu mengulang 30 juz tersebut dalam waktu relatif lebih singkat. Adapun keberhasilan yang sesungguhnya adalah manakala pasca karantina tahfizh peserta semakin rajin mempelajari dan memuraja’ah Al-Qur’an.

Pada bagian awal buku ini berisi keistimewaan penghafal Al-Qur’an membuka kesadaran bahwa betapa dimuliakannya penghafal Al-Qur’an di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Hal ini menggugah kesadaran ingin segera menghafalkan Al-Qur’an dan memperoleh keistimewaannya.

Penulisnya mengarahkan agar pembaca menjadikan hafalan Al-Qur’an sebagai cita-cita tertinggi sebab menghafal Al-Qur’an dan memahami maknanya berarti menguasai dasar-dasar seluruh ilmu pengetahuan. Saat hafalan Al-Qur’an telah menjadi impian tertinggi maka menghafal Al-Qur’an menjadi agenda utama dan bukan agenda sampingan.

Penulis buku ini telah membuktikan bahwa menghafal Al-Qur’an itu mudah sebagaimana janji Allah di dalam surah Al-Qamar: 17. Bahkan disampaikan pula dalam buku ini bahwa semua orang bisa hafal Al-Qur’an termasuk pembaca buku ini jika mempraktekkannya.

Pembaca buku akan diajak untuk melangkah awal menghafal Al-Qur’an mulai dari meluruskan niat dan segala macam persiapan pikiran dan perasaan untuk menghafalkan Al-Qur’an. Selain itu juga faktor-faktor pendukung apa saja yang dibutuhkan dalam menghafal Al-Qur’an.

Penulisnya menyampaikan metode yang umum mudah dilakukan oleh para penghafal Al-Qur’an tanpa menggunakan sistem karantina. Juga disampaikan bagaimana cara menjaga hafalan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Pada halaman 81 mulai dengan Mindset yang menentukan untuk mengambil keputusan menghafalkan Al-Qur’an dengan sistem karantina tahfizh.

Rahasia keberhasilan Karantina Hafal Al-Qur’an Sebulan menjadi bagian yang membuat penasaran calon pembacanya. Sebab pada bagian ini disampaikan mengenai seluk beluk karantina tahfizh sehingga meluluskan para penghafal Al-Qur’an dalam waktu relatif singkat. Meskipun lulusannya tidak seluruhnya mencapai 30 Juz tetapi anehnya alumni merasa puas dan bersyukur dengan hafalan yang dimilikinya berapa juz pun di karantina tahfizh sehingga bisa muraja’ah dan menambah pasca karantina tahfizh sebab pola-pola karantina tahfizh sudah bisa dipraktekkan secara mandiri.

Dibongkar pula berbagai tipe manusia dalam menghafalkan Al-Qur’an. Sehingga memungkinkan bagi setiap orang untuk mampu menghafalkan Al-Qur’an atas kehendak Allah Subhanahu Wata’ala.

Ikhtiar menghafalkan Al-Qur’an di karantina tahfizh diantaranya:

  1. Belajar Tahsin tilawah Al-Qur’an

  2. Menyiapkan faktor psikologis

  3. Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

  4. Mengikuti SOP Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional

Seluk beluknya dijelaskan dalam buku ini secara gamblang. Namun kelemahnnya untuk hal-hal yang bersifat praktek harus melalui praktek secara langsung mengikuti panduan yang ada dalam buku ini.

Melatih tadabbur dengan menggunakan daya imajinasi sehingga bisa masuk ke dalam alur makna-maka Al-Qur’an seolah pembaca Al-Qur’an berada pada posisi pelaku-pelaku yang diceritakan dalam Al-Qur’an.

Pada bagian akhir buku ini terdapat testimoni kesaksian alumni peserta karantina tahfizh yang mampu menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dalam program Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional.

Sebelum membeli buku ini alangkah lebih baiknya membaca terlebih dahulu sampul depan, sampul belakang, daftar isi sebagaimana dilampirkan di bawah ini.

Kelemahan buku ini adalah:

Membaca buku ini tidak otomatis menyebabkan Anda mampu menghafalkan Al-Qur’an. Tetapi dengan mengaplikasikan isinya baik di karantina tahfizh maupun di luar karantina tahfizh insyaa Allah membuka mindset Anda bahwa Anda pun mampu berproses untuk menghafalkan Al-Qur’an dengan lebih dimudahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *