Reframing Karantina Tahfizh Al-Qur’an

Hafal Quran Sebulan

Reframing Karantina Tahfizh Al-Qur’an

Menghiasi ucapan buruk sehingga tampak baik dan mengembalikan ucapan baik sesuai haknya.
 
Jangan menghafal Al-Qur’an nanti kalau lupa dosa besar. Lebih baik tidak menghafal, jadi tidak berdosa.
 
Reframing: Bukankah pahala menghafal Al-Qur’an didapatkan dari banyaknya ayat yang dibaca?… sedangkan meninggalkannya berarti melupakan tanpa sempat menghafalkannya?…
 
Kesalahan membaca Al-Qur’an itu dosa besar sehingga lebih baik belajarnya tidak setengah-setengah atau tidak perlu belajar sama sekali itu lebih aman.
 
Reframing: Bukankah kewajiban kita adalah belajar sedangkan pintar itu urusan karunia Allah?…
 
Menghafal Al-Qur’an ini bukan pekerjaan mudah sehingga kalau merasa tidak sanggup lebih baik jangan coba-coba.
 
Reframing: Bukankah dengan mencoba menghafal dan terus muraja’ah itu artinya memantaskan diri untuk mendapatkan karunia Allah?…
 
Menghafal ayat baru saja sulit apalagi memuraja’ah hafalan yang sudah ditumpuk sebanyak 30 juz, itu lebih susah akhirnya banyak orang menyerah. Lebih baik jangan dicoba.
 
Reframing: Bukankah dalam pembekalan metode disampaikan bahwa 5 juz yang ditadaburi terjemahnya memudahkan hafalan berikutnya dan itu terbukti pada teman-teman lainnya?…
 
Hafal Al-Qur’an sebulan itu tidak mungkin, lebih baik menghafal sedikit-sedikit saja bersama bimbingan guru di pesantren. Jadi kalau tidak bisa masuk pesantren lebih baik tidak perlu terjun pada tanggungjawab beban berat ini.
 
Reframing: Bukankah alumni pesantren saja masih terus muraja’ah maka apalagi alumni karantina sebulan tentu muraja’ah sambil aktivitas sehari-hari.
 
Tugas pertama guru Al-Qur’an/muhaffizh-muhaffizhah yaitu mereframing pikiran murid-muridnya agar bisa lebih memberdayakan sehingga mau berinteraksi dengan Al-Qur’an baik dengan cara belajar membacanya, mengamalkannya, dan menghafalkan dengan semua proses berdasarkan bimbingan guru.
 
Untuk angkatan selanjutnya dimohon seluruh calon peserta mengikuti pembekalan metode dan sistem karantina tahfizh untuk mereframing ucapan-ucapan yang terbesit dalam hati akibat informasi yang tidak positif.
 
Yadi Iryadi, S.Pd.
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
www.hafalquransebulan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *