Perjuangan di Pondok Pesantren Alhamdulillah Tuntas di Karantina Tahfizh, Kuningan

Hafal Quran Sebulan

Perjuangan di Pondok Pesantren Alhamdulillah Tuntas di Karantina Tahfizh, Kuningan

Alhamdulillah semoga keberkahan Al-Qur’an senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Perjalanan hidup saya serius menghafal Al-Qur’an diawali ketika berhasil memenuhi persyaratan lulus dari pondok pesantren yaitu harus khatam tafsir Al-Qur’an, Riyadhussolihin, dan Bulughul Maram. Selain itu juga harus hafal 7 juz. Alhamdulillah saat itu saya dimampukan oleh Allah untuk menyimakkan hafalan lebih dari target yaitu 14 juz meskipun tidak dalam waktu sekali majelis.

Setelah lulus dari pondok pesantren dengan mengemban hafalan itu terus disibukkan dengan pekerjaan dan kuliah. Saya tidak pernah lagi muraja’ah atau setidaknya jarang sekali muraja’ah, hal ini membuat perasaan saya tidak tenang. Saya kemudian masuk lagi ke sebuah pondok pesantren namun hanya dua minggu lalu keluar karena suatu hal.

Setelah saya browsing, saya menemukan program Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional. Saya sangat bersyukur dan akhirnya masuk dengan perasaan bahagia karena bisa mengulang hafalan dan alhamdulillah menambah hafalan Al-Qur’an sampai selesai 30 juz.

Saya ingin berbagi pengalaman saya ketika belajar di Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional dalam program hafal quran sebulan.

Ketika menghafal Al-Qur’an lakukanlah dengan senang, bahagia apalagi ketika menghafal ayat-ayat mengenai kabar gembira bagi orang yang beriman.

Menghafal Al-Qur’an harus didahului dengan memperbaiki bacaan agar sesuai kaidah tajwid sebab ini sangat membantu memperindah bacaan Al-Qur’an yang sedang dihafalkan.

Jangan abaikan tadabur terjemah sebab itu akan membantu memudahkan urutan letak setiap halaman melalui alur pemahaman ayat yang dihafalkan.

Tahapan saya menghafal Al-Qur’an untuk mendapatkan target satu halaman yaitu dengan cara:

  1. Membaca terjemah disertai penghayatan
  2. Membaca ayat dari halaman tersebut antara satu sampai tiga kali bahkan bisa lebih apabila kata-katanya asing
  3. Memulai menghafal
  4. Saya biasa membagi satu halaman dibagi dua sehingga menghafal dilakukan setengah halaman atas kemudian setengah halaman bagian bawah kemudian disatukan menjadi satu halaman utuh. Adapun pada ayat-ayat cerita biasanya langsung dihafalkan satu halaman sekaligus.

Alhamdulillah atas izin Allah Subahnahu Wata’ala di Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional saya dianugerahkan oleh Allah untuk berhasil memuraja’ah 14 juz dari jumlah hafalan yang sudah dihafalkan sebelumnya dan 16 juz hafalan baru.

Awalnya saya merasa bahwa hafalan Al-Qur’an saya sudah hilang seluruhnya namun setelah dimuraja’ah 15 menit per halaman kemudian saya mampu menyimakkan hafalan kepada muhaffizh dengan lebih cepat. Ketika saya memulai menghafal ayat yang belum pernah dihafalkan saya harus bersabar sampai 45 menit per halaman. Kemudian seiring dengan terbiasa menghafal Al-Qur’an di karantina tahfizh, hari-hari berikutnya saya dimampukan oleh Allah untuk menghafal Al-Qur’an 30 menit per halaman bahkan 15 menit per halaman untuk ayat-ayat baru yang belum saya hafalkan sebelumnya. Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan kepada saya dan teman-teman di sini.

Event bulan Ramadhan ini waktu menghafal Al-Qur’an di karantina tahfizh berkurang satu jam karena terpotong oleh waktu shalat tarawih. Saya menghafal Al-Qur’an 10 jam per hari dari 11 jam yang disediakan oleh karantina tahfizh.

Kesulitan menghafal Al-Qur’an kadang terjadi ketika belum berhasil memahami makna ayat. Solusinya saya membaca antara satu sampai lima kali lalu menghafalkannya dengan suara pelan dan bersuara.

Insyaa Allah di rumah sambil aktivitas kuliah saya akan memuraja’ah pada waktu shalat lima waktu. Menyiapkan waktu khusus untuk memuraja’ah hafalan Al-Qur’an. Strateginya dengan cara pergi ke masjid awal pagi sampai sore kemudian pulang. Mencari suasana yang tenang untuk memuraja’ah hafalan Al-Qur’an.

Teman-teman yang mau menghafal Al-Qur’an hendaknya berkomitmen penuh untuk menghafal Al-Qur’an dengan senang hati, disertai tajwid dan terjemah juga mencari lingkungan yang kondusif untuk menghafalkannya.

Moch. Ashabul Yamin (22 tahun)
Mahasiswa, Sidoarjo Jawa Timur
Alumni YKTN Pusat Angkatan ke-40

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *