Peranan Penting Guru Al-Quran dalam Mengoreksi Bacaan Murid

Hafal Quran Sebulan

Peranan Penting Guru Al-Quran dalam Mengoreksi Bacaan Murid

Setiap Muslim dan Muslimah yang akan membaca Al-Quran diharuskan mengerti cara membaca Al-Quran dengan benar dan baik. Bacaan yang benar menurut kaidah tajwid dan bacaan yang baik dalam keindahan membacanya. Apabila bacaan Al-Quran menggunakan kaidah tajwid maka otomatis akan indah, juga baik dalam pengucapan bacaannya.

Peranan penting Guru Al-Quran yaitu harus mampu mengoreksi bacaan Al-Quran. Saat ini, selain ‘manusia’ belum ada media belajar yang dapat mengoreksi bacaan Al-Quran secara tepat. 

Guru Al-Quran merupakan saluran ilmu pengetahuan yang bersambung dari guru-guru yang mengajarkan sebelumnya sampai tersambung pula pada Rasulullah yang belajar kepada Malaikat Jibril. Adapun Jibril merupakan Malaikat yang ditugaskan untuk menyampaikan Kalamullah. Singkatnya bahwa, mengajarkan Al-Quran merupakan menyampaikan kembali ajaran Kalamullah melalui proses pembelajaran.

Pentingnya Guru Al-Quran dan Media Belajar

Media belajar Al-Quran saat ini sudah cukup interaktif, misalnya keberadaan Al-Quran Digital, Aplikasi di Smartphone, e-Pen Al-Quran, video YouTube tutorial membaca Al-Quran dan sebagainya. Media tersebut tidak dapat menggantikan peranan guru Al-Quran.

Pentingnya Guru Al-Quran yaitu dapat mengoreksi ketepatan bacaan Al-Quran. Adapun media belajar apa pun hanyalah sebagai alat untuk membantu proses belajar mengajar. Namanya media belajar, itu hanya dapat berfungsi jika ada orang yang ahli dalam menggunakan alat belajar. Apabila peran guru ditiadakan maka besar kemungkinan akan terjadi kesalahan dalam bacaan Al-Quran.

Kesalahan dalam membaca Al-Quran bisa dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu lahnul jali dan lahnul khafi.

Lahnul Jali

Lahn Jali (اَللَّحْنُ الْجَلِيُّ) adalah kesalahan dalam pembacaan lafazh pada ayat-ayat Al-Quran dan kesalahan tersebut dapat diketahui oleh para ulama maupun kebanyakan orang. Lahnul Jali berpotensi dapat mengubah makna dari bacaan Al-Quran dan ada pula yang tidak.

Berikut ini contoh bacaan yang mengubah makna:

Bergantinya suatu harakat menjadi harakat lain (اِبْدَالُ حَرَكَةٍ بِحَرَكَةٍ). Contohnya lafazh:

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِم

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat pada mereka” (QS. Al-Fatihah: 7).

Apabila lafazh  اَنْعَمْتَ dibaca اَنْعَمْتُ , maka dhamir atau pelakunya berubah menjadi اَنَا (aku), sehingga artinya menjadi: (yaitu) jalan orang-orang yang telah aku anugerahkan nikmat kepada mereka… Atau bila dibaca اَنْعَمْتِ, maka dhamir-nya berubah menjadi اَنْتِ (kamu perempuan).

Padahal makna yang dimaksud adalah “Engkau”, yaitu Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan, yang dalam lafazh di atas menyandang kata ganti dhamir اَنْتَ.

Bergantinya sukun menjadi harakat (اِبْدَالُ سُكُوْنٍ بِحَرَكَةٍ). Contohnya lafazh:

… وَمِنَ اْلبَقَرِ وَالْغَنَمِ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُوْ مَهُمَا~ اِلآّ مَا حَمَلَتْ ظُهُوْرُهُمَا …

“… dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya…” (QS 6 Al-An’am: 146)

Jika lafazh حَمَلَتْ dibaca حَمَلَتُ, maka dlamir-nya berubah menjadi اَنَا (aku), sehingga artinya menjadi: “… dan dari sapi dan domba, kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang aku lekatkan di punggung keduanya…”

  1.     Bergantinya suatu huruf menjadi huruf lain (اِبْدَالُ حَرْفٍ بِحَرْفٍ). Contohnya lafazh:

وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ …

“… dan mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS 45 Al-Jatsiyah: 12)

Bila lafazh تَشْكُرُوْن dibaca تَسْكُرُوْنَ (huruf syin berubah menjadi sin), maka artinya menjadi: “… dan mudah-mudahan kamu mabuk.”

Adapun Lahn Jali yang tidak mengubah makna, contohnya ialah lafazh اَلْحَمْدُلِلَّهِ yang dibaca اَلْحَمْدُلِلَّهُ. Atau lafazh لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ yang dibaca لَمْ يَلِدُ وَلَمْ يُوْلَدْ. Walau tidak mengubah makna, keduanya tergolong sebagai Lahn Jali yang haram apabila dilakukan dengan sengaja.

Lahnul Khafi

Lahn Khafi (اَللَّحْنُ الْخَفِيُّ), yaitu kesalahan bacaan yang tersembunyi pada lafazh. Kesalahan ini hanya dapat diketahui oleh para ulama Qiraat atau kalangan tertentu yang mendalami Ilmu Qiraat. Misalnya Qiraat Imam Hafs ‘An Ashim. Diantara kesalahan yang tergolong sebagai Lahn Khafi adalah:

Menggetarkan (Takrir) huruf ra’ (ر) secara berlebihan, misalnya lebih dari dua getaran.

Mendengungkan suara tanwin pada saat bacaan Idzhar.

Menebalkan (taghlizh) suara huruf lam (ل) tidak pada tempatnya.

Memanjangkan suara secara berlebihan pada mad dan ghunnah.

Menambah atau mengurangi ukuran mad suatu bacaan secara tidak konsisten.

Mengabaikan ghunnah pada bacaan yang seharusnya dibaca ghunnah, menambah atau mengurangi ukuran ghunnah suatu bacaan.

Melafalkan harakat secara tidak jelas. Misalnya, mengucapkan dhammah yang cenderung bunyinya ke arah fathah atau mengucapkan kasrah yang cenderung bunyinya ke arah fathah.

Memantulkan huruf-huruf sukun selain huruf Qalqalah.

Lahnul khafi hanya dapat diketahui melalui proses pembelajaran langsung bersama orang yang ahli di bidang Al-Quran terutama yang telah memiliki sanad bacaan maupun hafalan.

Upaya memperbaiki bacaan murid dilakukan oleh Guru Al-Quran melalui koreksi bacaan. Ketelitian guru dalam mendengar dan mencontohkan bacaan Al-Quran mutlak diperlukan.

Guru yang mampu menggunakan media belajar dapat memaksimalkan potensi murid. Begitu pula, media belajar yang digunakan dapat membantu murid untuk belajar secara mandiri sebelum maupun setelah belajar dengan guru.

Peranan Penting Guru Al-Quran Agar Mendapatkan Derajat Manusia Terbaik

عَن عُثَمانَ رَضِىَ اللٌهُ عَنهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صٌلَى اللٌهُ عَلَيهِ وَسَلٌمَ خَيُركُم مَن تَعلٌمَ القُرانَ وَعَلٌمَهَ

رواه البخاري وابو داود والترمذي والنسائ وابي ماجه

Dari Utsman RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah).

Orang-orang yang mendapatkan derajat manusia terbaik yaitu orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya. Ini berarti pada proses belajar Al-Quran harus ada murid dan guru. Berkumpulnya murid-murid dan guru dalam suatu majelis maka akan mendapatkan keberkahan.

Peranan penting guru Al-Quran selain mengoreksi bacaan murid. Peranan guru Al-Quran bukan hanya mengajarkan bacaan Al-Quran, melainkan membimbing, menjadi teladan, penasihat, perencanaan pembelajaran, memantau perkembangan belajar, mengevaluasi proses belajar mengajar, mengarahkan akhlak murid menuju ke arah yang lebih baik.

Guru Al-Quran juga harus pencatat hasil belajar, menjadi contoh orang yang komitmen antara ucapan dan tindakan, memotivasi murid agar semangat dalam belajar, memperagakan metode belajar yang efektif dan menyenangkan, mampu menggunakan media belajar, memberikan pujian dan penghargaan pada murid yang berprestasi dan memberikan motivasi pada murid lainnya, totalitas dalam mendidik, memberikan kemudahan materi belajar pada peserta didik dari mulai materi yang paling sederhana sampai kompleks, memberikan teladan pengamalan Al-Quran dan Sunnah dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran Al-Quran dari sejak zaman Nabi, Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, sampai generasi saat ini yaitu dengan cara berkumpul antara orang yang belajar Al-Quran dengan guru Al-Quran. Tujuannya untuk belajar membaca Al-Quran, menghafal, atau mengkaji dari berbagai seginya.

Para sahabat Rasul merupakan manusia yang haus terhadap ilmu. Selama 23 tahun Al-Quran diturunkan, para sahabat belajar dari beliau. Kehadiran Rasulullah sebagai utusan terakhir tidak disia-siakan sehingga Al-Quran sebagai Kalamullah dapat terus lestari sampai hari kiamat melalui orang-orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.

Berkumpulnya halaqah Al-Quran mendapat keutamaan.

Rasulullah bersabda:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بَيُوْتِ اللَّهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللًّهِ وَيَتَدَارَسُوْنَ بَيْنَهُم 

إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَذَكَرَهُمُ اللُّه فِيْمَنْ عِنْدَهُ

Artinya: “Apabila suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) sambil membaca Al-Qur’an dan saling bertadarus bersama-sama, niscaya akan turun ketenangan atas mereka, rahmat Allah akan meliputi mereka, para malaikat akan melindungi mereka dan Allah menyebut mereka kepada makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya” (HR. Muslim).

Semoga kita senantiasa diberikan kesempatan rutin setiap hari untuk belajar Al-Quran dan mengajarkannya agar mendapatkan ketenangan, rahmat, perlindungan, dan Allah membanggakan di hadapan makhluk lainnya. Aamiin.

Yadi Iryadi, S.Pd
Founder Metode Yadain Litahfizhil Quran
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Quran Nasional

Informasi dan Pendaftaran

www.hafalquransebulan.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *