Pengkondisian Kesehatan Fisik, Mental, dan Spiritual di Karantina Tahfizh

Hafal Quran Sebulan

Pengkondisian Kesehatan Fisik, Mental, dan Spiritual di Karantina Tahfizh

Pengkondisian Kesehatan Fisik, Mental, dan Spiritual di Karantina Tahfizh

Pengkondisian kesehatan fisik, mental, dan spiritual di Karantina Tahfizh Al-Quran sangat diperlukan agar proses menghafal Al-Quran tidak mengalami gangguan yang berarti.

Menghafal Al-Qur’an harus didukung oleh kesehatan yang prima. Menurut WHO yang merupakan badan kesehatan dunia didirikan pada tahun 1948, mendefinisikan bahwa kesehatan meliputi kondisi sejahtera secara jasmani, rohani, sosial dan ekonomi. Kesehatan meliputi kondisi sejahtera secara jasmani, rohani, sosial, dan ekonomi.

Kesehatan Fisik

Sehat jasmani atau fisik merupakan hal yang paling mudah diidentifikasi. Manusia sehat cirinya berpenampilan fisik rapi, kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir rapi, mengenakan pakaian rapi, berotot, tidak terlalu gemuk, badan dan nafas tidak bau, berselera makan, tidur terasa nyenyak, gerakan tubuh gesit dan semua manfaat fisiologi badan berjalan normal termasuk seluruh panca indra berfungsi secara normal.

Orang yang melakukan aktivitas fisik seperti bekerja menggunakan ototnya akan cenderung lebih percaya diri dan mudah berkonsentrasi. Mampu bekerja sama atau beradaptasi dengan baik bersama teman-teman di lingkungannya.  Serta tidak ada masalah dalam sistem pencernaan, pernafasan, dan sirkulasi darah sehingga sudah siap untuk melakukan aktivitas menghafal Al-Quran tanpa hambatan fisik.

Kesehatan Mental

Selain kesehatan fisik, juga memerlukan kondisi mental yang kuat. Ciri mental sehat yaitu rasa senang atas apa yang ada pada dirinya, tidak sempat menyesali sesuatu, menyayangi diri dan orang lain, perasaan bahagia menjalani kehidupan dan tidak terdapat tanda-tanda konflik kejiwaan.

Orang sehat mental dapat bergaul dengan baik, mampu menerima kritik, dan tidak mudah tersinggung maupun geram atas suatu keadaan. Ia memiliki rasa pengertian serta toleransi pada keperluan emosi orang lain.

Mampu mengontrol diri ditandai dengan tidak mudah emosi dan tidak mudah merasa takut, tidak mudah cemburu buta, serta mampu menyelesaikan persoalan dengan cerdik dan bijaksana.

Kesehatan berikutnya ditandai dengan kesejahteraan secara sosial ekonomi. Meskipun batasan standarnya berbeda-beda setiap negara bergantung kepada kultur, kebudayaan serta tingkat kemakmuran penduduk setempat.

Makna sesungguhnya dari kesejahteraan yang hakiki yaitu kesejahteraan sosial ekonomi berupa situasi kehidupan berbentuk perasaan aman, damai, sejahtera, berkecukupan dalam hal pangan, pakaian serta tempat tinggal yang layak. Kehidupan masyarakat sejahtera, mereka hidup secara teratur, saling menghormati kebutuhan orang lain dan masyarakat umum.

Kesehatan Spiritual

Berikutnya yaitu kesehatan spiritual berupa kondisi ruhiyah, tingkat keimanan seseorang terhadap ajaran agama. Kesehatan rohani ini diperoleh malui pendidikan agama sehingga memenuhi seluruh keimanan berupa ketenangan di dalam hatinya.

Siraman rohani berupa nasehat, ceramah agama diperlukan untuk keseimbangan jiwa yang dinamis serta tak monoton. Terlebih dalam kegiatan menghafal Al-Qur’an maka diperlukan keimanan sehingga setiap ayat yang dibaca menambah zikir kepada Allah sehingga bertambahlah ketenangan dan keimanannya.

Yadi Iryadi, S.Pd.
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Licensed Practitioner Neuro Linguistic Programming
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *