Modalitas Gaya Belajar dalam Menghafal Al-Qur’an

Hafal Quran Sebulan

Modalitas Gaya Belajar dalam Menghafal Al-Qur’an

Ada banyak metode menghafal Al-Qur’an menggunakan potensi pancaindra. Berbagai Gaya belajar dapat dibedakan menjadi Visual (penglihatan), Auditory (pendengaran), Kinesthetic (peraba). Mengenai cara kerja pancaindra menyerap informasi dibahas dalam buku berjudul Brain Management Series: Be an Absolute Genius karya Widura (2008: 25). Selain itu, untuk mengakses memori berpikir diserap dan dipicu menggunakan Olfactory (pembau) dan Gustatory (perasa)(Nikolay, 2018: 372).

Al-Qur’an pun berbicara mengenai pancaindra. Firman Allah Subhanahu Wata’ala:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَاَن

“Sesungguhnya pendengaran (Auditory), penglihatan (Visual), dan hati (Kinestetik), semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban” (QS. Al Isra’: 36).

Kemudian dalam ayat lain Allah berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah (Kinestetik), dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) (Visual), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah (Auditory). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Q.S. Al-A’raf : 179).

Setiap orang yang melihat pasti dia bisa menyimpan ingatan dalam bentuk warna, gambar, film, gerakan, bentuk, dan sebagainya. Begitu pula orang yang bisa mendengar akan dapat menyimpan ingatan dalam bentuk suara, bunyi, nada, intonasi, tempo, ritme, volume, dan sebagainya. Adapun semua orang yang bisa bergerak, maka bisa menyimpan ingatan dalam bentuk rasa, perasaan, bentuk, gerakan, ekpresi, dan sebagainya. Ditambah lagi dengan indra hidung untuk bernafas, mengindrai bau, dan wangi. Begitupula lidah berfungsi untuk mengecap dan mengucapkan kata-kata.

Setiap orang yang telah menghafal Al-Qur’an 30 juz secara alami pasti menghafal menggunakan beberapa indra berikut ini, yaitu Visual (penglihatan), Auditory (pendengaran), Kinestetik (gerakan), Olfactory (perasaan), dan Gustatory (pengecapan) atau yang kemudian disingkat dengan VAKOG. Pengindraan ini setiap orang berbeda-beda namun dari lima indra tersebut biasanya ada indra yang fungsinya lebih dominan. Meskipun dominan tetapi tidak menghilangkan fungsi dari lainnya. Bahkan orang buta sekalipun, meskipun matanya buta tetapi mata hatinya (visual) masih bisa mengenali huruf-huruf Al-Qur’an dalam hafalannya.

Rincian metodologi menghafal Al-Qur’an berdasarkan dominasi seseorang dalam pengindraannya. Adapun penerapan metode Yadain pada hafalan Al-Qur’an tidak terikat dengan dominasi gaya belajar tertentu. Semua gaya belajar dapat dipelajari dan dioptimalkan fungsinya melalui latihan.

Agar lebih memahami bagaimana kebiasaan Anda belajar, berikut ini penulis paparkan berbagai macam gaya belajar dalam tahfidz Al-Qur’an.

Gaya Belajar Visual

Orang yang dominan visual lebih menyukai belajar menggunakan indra penglihatan sebagai alat utama untuk menghafal Al-Qur’an.

Kelebihan menghafal menggunakan indra visual diantaranya:

  1. Al-Qur’an dihafal dengan cara dilihat huruf-hurufnya pada mushaf;
  2. Al-Qur’an mampu dibaca cepat (hadr) tanpa kehilangan huruf;
  3. hafalan dibaca perlahan karena mengingat tulisan kata per kata;
  4. huruf-huruf per kata dibayangkan pada saat ayat dihafal;
  5. kemampuan menuliskan ayat dengan tepat sesuai bentuk aslinya;
  6. lebih mengandalkan mushaf dibandingkan dengan pemutar MP3;
  7. hafalan Al-Qur’an dapat dibantu warna-warni hukum tajwid;
  8. pencahayaan ruangan yang nyaman untuk membaca sangat diperlukan;
  9. tadabur ayat Al-Qur’an seolah sedang menonton cerita film;
  10. menyukai hafalan Al-Qur’an digambar pada peta konsep (mind mapping).
  11.  

Gaya Belajar Auditory

Berbeda dengan dominasi gaya belajar visual, justru gaya auditory lebih mengandalkan indra pendengaran. Berikut ini gaya belajar dominasi auditory, diantaranya:

  1. lebih menyukai menirukan nada bacaan guru atau syeikh tertentu atau belajar Al-Qur’an dengan cara mendengarkan bacaan guru kemudian mengikuti bacaan sesuai dengan intonasi yang dicontohkan;
  2. lebih menyukai membaca Al-Qur’an secara bersama-sama;
  3. lebih cepat hafal ayat Al-Qur’an dengan bacaan suara nyaring;
  4. mampu membaca dengan mulut bergumam namun berteriak dalam hati ketika menghafal Al-Qur’an atau pun saat aktivitas muraja’ah;
  5. lebih mudah mengingat ayat yang didengar;
  6. merasa sedang membacakan cerita maupun dibacakan cerita saat membaca ataupun dibacakan ayat Al-Qur’an yang ditadaburinya;
  7. menyukai hafalan Al-Qur’an dengan bantuan voice recorder atau pemutar ulang dalam ingatan tanpa voice recorder;
  8. menyukai belajar dengan cara tanya jawab atau sambung ayat;
  9. menyukai tempat sepi ketika menghafal Al-Qur’an dan sebaliknya mampu konsentrasi pada suara sendiri walaupun saat di keramaian;
  10. senang mempresentasikan atau menyimakkan hafalan pada beberapa orang agar hafalan lancar;
  11. tempo bacaan, kecepatan bacaan cenderung sedang (tadwir);
  12. menyukai aktivitas menyimak hafalan orang lain.
  13.  

Gaya Belajar Kinesthetic

Gaya dominasi belajar kinesthetic lebih menyukai belajar dengan melibatkan gerak tubuh, kepala, tangan, dan kaki. Tandanya sebagai berikut:

Gaya dominasi belajar kinesthetic lebih menyukai belajar dengan melibatkan gerak tubuh, kepala, tangan, dan kaki. Tandanya sebagai berikut:

  1. lebih menyukai menghafal Al-Qur’an sambil aktivitas fisik dengan berjalan kaki maupun menggerak-gerakkan tangan;
  2. merasa nyaman menghafal Al-Qur’an sambil berjalan maupun beraktivitas atau sambil menggerakan tubuh;
  3. merasa lebih mudah menghafal dengan menggerakkan ekspresi dari suatu ayat yang sedang dihafal;
  4. melibatkan seluruh perasaan dan emosi tertentu ketika menghafal
    Al-Qur’an disertai tadabur terjemah;
  5. lebih mudah merasa tersentuh dengan alur makna ayat Al-Qur’an;
  6. lebih mengingat gerakan fisik di mulut, lidah, hidung pada saat pengucapan makharijul huruf;
  7. pergerakan bola mata cenderung bergerak ke bawah ketika berfikir;
  8. menyukai penulisan huruf-huruf Al-Qur’an di udara atau pun pada kertas dengan tujuan mengingat gerakan penulisan hurufnya;
  9. membaca Al-Qur’an cenderung menggunakan pernafasan perut;
  10. tempo bacaan Al-Quran biasanya lambat, yaitu at-tahqiq;
  11. merasakan seolah menjadi tokoh dalam alur makna tadabur;
  12. menggunakan mind mapping lebih mudah mengingat saat proses menggambarnya.
  13.  

Gaya Belajar Olfactory

Gaya belajar menggunakan indra hidung sehingga saat menghafal
Al-Qur’an mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  1. cenderung waqaf (berhenti membaca) dan ibtida’ (memulai bacaan
    Al-Qur’an) sesuai dengan kebiasaan ia membaca dan batas nafas terpanjang sesuai dengan kemampuannya;
  2. memperhatikan idzhar, gunnah, idgham, iqlab, ikhfa, tafkhim, tarqiq, gharib dan makharijul huruf serta sifatul huruf berdasarkan ada atau tidak adanya getaran pada rongga hidung;
  3. mampu membaca tahqiq, hadr dan tadwir dalam keadaan tartil dengan pengaturan nafas yang tepat.
  4.  

Gaya Belajar Gustatory

Gaya belajar menggunakan indra gustatory merasakan pembelajaran melalui indra lidah atau pengecapan. Karakteristiknya sebagai berikut:

  1. bacaan Al-Qur’an mampu dibaca secara cepat hadr, tadwir, dan tahqiq;
  2. mampu membaca atau menghafal ayat dengan lancar walaupun dalam keadaan kurang konsentrasi karena gerakan otomatis pada lidah yang biasa dilatih untuk mengucapkan ayat-ayat Al-Qur’an;
  3. merasakan sensasi tadabur ayat Al-Qur’an berkaitan dengan rasa ketika kisah tentang makanan dunia, surga, maupun neraka;
  4. pengucapan huruf yang fasih membantu kelancaran proses hafalan yang ringan dan lancar dalam pengucapan.

Metode Yadain Litahfizhil Qur’an sebagai standar metodologi yang diterapkan dalam program Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional, didesain agar mengoptimalkan semua potensi gaya belajar yang ada pada setiap penghafal Al-Qur’an. Begitupula digunakan ‘Al-Qur’an Yadain’ sebagai alat bagi penghafal Al-Qur’an dalam program Hafal Quran Sebulan target 30 juz, menghafal Al-Qur’an 2 pekan target 10 juz, dan seminggu 5 juz.

Hasil hafalan yang diharapkan dalam program Hafal Quran Sebulan yaitu memiliki Al-Qur’an Virtual sejenis Al-Qur’an digital dalam ingatan para penghafalnya. Mampu membayangkan huruf-huruf yang dibaca, merasakan tadabur terjemah dan untuk level mutqin berikutnya menghafal penomoran ayat.

Bagaimana mata ini difungsikan untuk memotret sehingga satu kata bisa dihafalkan dalam waktu satu detik, satu baris dihafalkan dalam waktu satu menit sehingga 15 menit hafal satu halaman dan 15 menit kemudian melancarkan sehingga tersimpan dalam long term memory (ingatan jangka panjang). Bisa dikatakan bahwa ini merupakan metode hafal Al-Qur’an tercepat. Adapun muraja’ahnya tentu saja menjadi kewajiban individu seumur hidup.

Semoga Allah senantiasa memudahkan kita semua dalam berbagai macam urusan, Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

Informasi dan pendaftaran karantina tahfizh hafal quran 30 hari 30 juz dapat dilihat di www.hafalquransebulan.com atau hubungi WhatsApp +6281312700100.

Sumber bacaan:
Al-Makhtum, Saied, Yadi Iryadi. 2017. Karantina Hafal Al-Qur’an Sebulan. Ponorogo: CV Alam Pena.
Nikolay, Hingdranata. 2018. Selling  Easily and Smart. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Widura, Sutanto. 2008. Brain Mgt Series: Be an Absolute Genius. Jakarta:
PT Elex Media Komputindo.

Yadi Iryadi, S.Pd
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Licensed Practitioner Neuro Linguistic Programming (NLP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *