Menghafal Al-Quran Pakai Tadabbur Tanpa Menafsirkan Sendiri

Hafal Quran Sebulan

Menghafal Al-Quran Pakai Tadabbur Tanpa Menafsirkan Sendiri

Proses menghafal Al-Quran pakai tadabbur tanpa menafsirkan sendiri. Itulah yang dilakukan oleh peserta karantina tahfizh di YKTN Pusat Kuningan Jawa Barat. Tadabbur artinya merenungkan, menghayati, dan memikirkan. Mentadaburkan Al-Quran berarti memahami, menghayati, dan memikirkan setiap kata dan setiap ayat di dalam Al-Quran.

Secara bahasa tadabbur berasal dari kata dabbara artinya belakang. Adapun tadabbur artinya  memikirkan, merenungkan, memperhatikan sesuatu di belakang.

Sejarah Larangan Menerjemahkan Al-Quran

Sejarawan dari Inggris yang meneliti perjuangan Pangeran Diponegoro, yaitu Peter Carey mengatakan, “Pernah ada upaya menerbitkan terjemahan Alquran dalam Bahasa Jawa, tapi dilarang pemerintah Hindia-Belanda. Memasuki abad ke-19, tidak ada lagi upaya menerbitkan terjemahan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.”

Penerjemahan Al-Quran pada bahasa Jawa justru diinspirasi oleh RA. Kartini yang meminta kepada Kyai Soleh Darat. Agar tidak dicurigai oleh penjajah belanda maka tulisan menggunakan Arab Pegon berbahasa Jawa. Klik Sumber.

Memahami Al-Quran dari terjemah bahasa Jawa atau bahasa Melayu dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda karena akan menjadi ancaman bagi penguasa saat itu. Penjajahan Belanda begitu lama sehingga sangat wajar apabila sampai saat ini masih ada beberapa orang yang berpendapat bahwa memahami Al-Quran tidak boleh melalui terjemah.

Idealnya menghafal Al-Quran diawali dengan mempelajari ilmu Nahwu Sharaf dan ulumul Quran lainnya namun tidak setiap orang berkesempatan untuk mondok bertahun-tahun di pondok pesantren. Namun sayangnya tidak setiap orang berkesempatan untuk belajar di pondok pesantren.

Al-Quran akan terasa keindahan ajarannya manakala umat Islam mengerti isi kandungannya. Keindahan susunan ayat Al-Quran dan pesan-pesannya hanya akan sampai pada hati apabila mentadabburi ayat-ayat yang dibaca.

Tujuan tadabbur Al-Quran yaitu agar saat membaca dan menghafal Al-Quran, mampu melakukan hal sebagai berikut:

  1. Dapat mengetahui makna dan maksud dari ayat yang dibaca.
  2. Merenungkan kembali apa yang ditunjukkan, apa yang dapat dipahami dari suatu konteks.
  3. Memperhatikan akibat dari hasil perenungan terhadap suatu ayat.
  4. Peran akal dan hati untuk mendapatkan hikmah, mengambil pelajaran dari sebuah pengalaman umat terdahulu.
  5. Mengamalkan hikmah yang didapatkan serta bisa mengembangkannya sebagai sebuah bentuk pengembangan diri seseorang.
  6. Bersikap penasaran dan ingin mendapatkan petunjuk/hidayah dari Allah melalui Al-Quran berdasarkan penjelasan para ulama.

Agar tujuan ini dapat dicapai maka cara paling memungkinkan yaitu membaca kitab-kitab yang ditulis oleh ulama terdahulu tanpa menafsirkan sendiri.

Memahami Teks Bahasa Al-Quran

Hambatan utama umat Islam Indonesia yaitu terkendala dengan kemampuan bahasa Arab. Tidak ada bahasa lain di dunia yang dapat mewakili secara pasti untuk bahasa Al-Quran. Oleh karena itu, ayat-ayat Al-Quran selalu disandingkan dengan terjemahan dari berbagai bahasa agar bahasa aslinya senantiasa terjaga.

Umat Islam diperintahkan agar memahami Al-Quran dari bahasa Al-Quran. Apabila bahasa Al-Quran dialihkan pada bahasa lain maka memerlukan penjelasan agar bisa menyesuaikan dengan apa yang dikehendaki oleh isi kandungan Al-Quran.

Setiap orang yang memahami teks pasti akan terjadi perbedaan interpretasi atau penafsiran. Menafsirkan Al-Quran tanpa dibarengi dengan ‘ulumul quran yang memadai maka hukumnya berdosa.

Oleh karena itu, kita hanya dibolehkan untuk mengikuti ulama tafsir yang mumpuni keilmuannya.

Perintah untuk Tadabbur Al-Quran

Apabila aktivitas menghafal Al-Quran dibarengi dengan tadabbur tafsir terjemah pasti proses menghafal Al-Quran akan lebih berkesan karena adanya hafalan yang disertai dengan pemahaman.

Akan tetapi, apabila itu dilakukan maka akan memerlukan waktu yang panjang. Solusi dari hal tersebut harus ada metode tadabbur yang meringkas pemahaman yang kompleks menjadi lebih sederhana untuk dipahami tanpa menyimpang dari apa yang dimaksudkan dalam Al-Quran.

Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan manusia untuk mentadaburkan Al-Quran agar dapat memahami dan mengamalkan isinya dengan benar. Istilah kata tadabbur berasal dari bahasa Al-Quran yakni merenungkan, memikirkan, dan menghayati sehingga dapat menginteraksikan nilai-nilai Al-Quran dalam diri pembacanya.

Orang kafir dan munafik juga diperintahkan untuk mengerti Al-Quran karena jika mereka mengerti maka akan beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berupa kitab suci Al-Quran. Ada ayat khusus yang memerintahkan agar mentadaburkan ayat-ayat Al-Quran. Hal ini umumnya ditujukan bagi kaum munafik dan kafir agar memahami Al-Quran sehingga tabir kebenaran Al-Quran akan terbuka dengan adanya tadabbur.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman pada surah An-Nisa’ ayat 82:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Artinya: “Maka tidakkah mereka mentadaburkan (menghayati dan mendalami) Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya” (QS. An-Nisa’: 82).

Adapun pada Al-Quran Surah Muhammad ayat 24:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْاٰنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ

Artinya: “Maka apakah mereka tidak mentadaburkan Al Quran, ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

Adapun pada surah Shad ayat 29:

كِتٰبٌ أَنزَلْنٰهُ إِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ اٰيٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ الْأَلْبٰبِ

Artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Muhammad: 29).

Internalisasi Nilai-nilai Al-Quran

Berdasarkan sejarah menunjukkan bahwa tadabbur adalah sebuah cara sebagai sebuah proses menanamkan sesuatu, keyakinan, sikap dan nilai-nilai yang menjadi perilaku diri sendiri dan sosial. Bahkan Rasulullah sebagai penerima wahyu Al-Quran sebagaimana dijelaskan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an.

Apabila tidak menadaburkan ayat-ayat Al-Quran maka dinding kejahiliahan akan ada dalam hati sehingga cahaya Al-Quran terhalang. Meruntuhkan dinding kejahiliahan ini dapat dilakukan dengan tadabbur Al-Quran agar hati tidak terkunci. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Artinya: “Mereka tidak mentadaburkan Al-Qur’an? Ataukah hati mereka sudah terkunci mati?” (QS. Muhammad: 24).

Upaya terbaik untuk mendapatkan keberkahan Al-Quran, pelajaran, intelektualitas, dan spiritualitas dapat dilakukan dengan tadabbur.

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya: “Ini adalah kitab yang kami turunkan kepadamu (Muhammad SAW.), penuh keberkahan agar mereka mentadaburkan ayat-ayatnya dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang menggunakan akalnya” (QS. Shaad: 29).

Perenungan terhadap ayat-ayat Al-Quran diharapkan terjadi proses internalisasi isi kandungan Al-Quran yang tertanam di dalam otak dan hati nurani kita sehingga membentuk karakter-karakter perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Al-Quran.

Kaidah Penafsiran Al-Quran

Adanya kekhawatiran untuk memahami tadabbur Al-Quran terjemah dari bahasa Indonesia merupakan alasan yang cukup mendasar. Dulu belum banyak Al-Quran terjemah di toko buku. Alasan ulama tidak menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Indonesia karena adanya kekhawatiran penafsiran terhadap Al-Quran tanpa diiringi dengan ulumul Quran yang memadai.

Apabila menafsirkan Al-Quran hanya sekadar akal tanpa dilandasi ilmu maka ini merupakan perbuatan yang haram. Kita tidak diperbolehkan berkata tentang Al-Quran hanya dengan akal saja. Bahkan meskipun penafsiran tersebut benar maka hal ini pun tetap berdosa apalagi salah dalam penafsiran. Menafsirkan Al-Quran harus dengan metodologi yang telah ditetapkan oleh para ulama sehingga tidak menyimpang dari ajaran Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Berikut ini menurut Prof. Dr. AG. H. Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A., ringkasan kaidah penafsiran Al-Quran:

  1. Quraniyah: kaidah penafsiran ayat Al-Quran dengan Al-Quran
  2. Sunnah: kaidah penafsiran ayat Al-Quran dengan Hadits sebagaimana penjelasan Rasulullah
  3. Kaidah kebahasaan
  4. Berdasarkan Ushul Fiqh
  5. Menggunakan Ilmu Pengetahuan dan Ulumul Quran

Cara yang paling mudah untuk mentadabburi tafsir Al-Quran yaitu dengan membaca karya-karya para ulama terdahulu maupun ulama masa kini.

Alternatif Tadabbur Al-Quran Tanpa Menafsirkan

Saat menghafal Al-Quran proses tadabbur menggunakan buku-buku tafsir Al-Quran cukup menyita waktu. Oleh karena itu, diperlukan metode agar dapat meringkas pemahaman menjadi lebih sederhana tanpa harus menafsirkan melainkan hanya mengikuti pemahaman berdasarkan makna yang paling mudah untuk dipahami.

Para ulama dengan berbagai keilmuannya mengembangkan tafsir Al-Quran agar sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh ajaran Rasulullah. Saat ini para penghafal Al-Quran tidak perlu menafsirkan apabila keilmuannya belum memadai.

Ada teknik sederhana untuk mendapatkan tadabbur terjemah. Gunakan Metode Yadain Litahfizhil Qur’an yaitu meringkas pemahaman bahwa Al-Quran isinya terdiri dari 2 bagian secara makna yaitu makna kiri dan kanan. Hanya bagi pemula, yang ingin mencicipi kenikmatan alur makna Al-Quran.

Mengenai hal ini sudah pernah dibahas dalam tulisan sebelumnya. Visualisasi Tadabbur Terjemah Metode Yadain Litahfizhil Qur’an.

Yadi Iryadi, S.Pd.
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Quran Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
www.hafalquransebulan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *