Menghafal Al-Qur’an Ber-Juz-Juz di Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional

Hafal Quran Sebulan

Menghafal Al-Qur’an Ber-Juz-Juz di Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional

Keyakinan terhadap Allah Subhanahu Wata’ala yang telah menganugerahkan kemampuan menghafal Al-Qur’an dan Al-Qur’an dijadikan mudah untuk dipelajari mendominasi keberhasilan menghafal Al-Qur’an.

Jika berfikirnya menggunakan akal tentu tidak akan sampai pada pemahaman akal namun jika dijangkau dengan keimanan maka tidak ada yang mustahil jika Allah membukakan kemampuan kepada orang yang meyakininya.

Di Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional sering terjadi kejadian unik yaitu adakalanya menghafal Al-Qur’an tidak sampai satu halaman seharian pun. Namun adakalanya beberapa halaman mampu dihafalkan dalam tempo yang sangat cepat.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang dibukakan kemudahan oleh Allah Subhanahu Wata’ala diantaranya yaitu:

  1. Kemampuan membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid

  2. Keyakinan psikologis dan ruhiyah yang memberdayakan

  3. Ikhtiar Metode Yadain Litahfizhil Qur’an atau metode apa pun yang melibatkan pemahaman terjemah Al-Qur’an

  4. Mengikuti seluruh jadwal kegiatan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional

Perkara niat, ikhlas, tawadhu, zuhud, iffah (menjaga diri dari dosa), istiqamah, mujahadah, khauf, raja’, tawakkal hal tersebut masuk ke dalam ranah psikologis dan ruhiyah sehingga sangat sulit untuk dideteksi kecuali dengan wawancara konsultasi secara langsung dengan peserta yang bersangkutan.

Biasanya kemudahan menghafal Al-Qur’an belum terbuka pada saat awal-awal karantina tahfizh. Namun begitu sudah selesai Al-Baqarah dan Ali Imaran semakin terbuka kemudahan menghafalkan Al-Qur’an.

Dalam Metode Yadain Litahfizhil Qur’an dijelaskan bahwa ada zona merah dan ada zona hijau. Zona merah adalah pada saat banyak orang yang merasakan kesulitan menghafalkan Al-Qur’an dan menyerah sehingga tidak mau menghafalkannya lagi. Sedangkan zona hijau adalah manakala kemudahan sudah dibukakan oleh Allah dengan ikhtiar yang dilakukan yaitu menghafalkan minimal 5 juz disertai tadabbur terjemah Al-Qur’an.

Berikut ini gambaran zona merah dan zona hijau:

Perhitungan ini tidaklah pasti namun rata-rata demikian yang terjadi di Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional selama 26 angkatan ini.

Keyakinan yang melemahkan diri sendiri hanya berakibat melemahkan potensi yang sudah ada. Namun dengan mengubah mindset / keyakinan menjadi lebih berdaya maka kemampuan menghafal Al-Qur’an akan semakin dimudahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Hati-hatilah dalam berkata-kata baik secara lisan, tulisan maupun sikap atau bahkan pembicaraan dalam hati. Jangan sampai ada perkataan yang dapat melemahkan ingatan sebab itu sangat merusak potensi kemampuan yang sudah ada.

Ada seorang peserta yang mengeluhkan bahwa separuh karantina tahfizh yang itu berarti sekitar 15 – 16 hari karantina tahfizh baru mencapai hafalan 7 juz dan berkeinginan untuk menyelesaikan setoran hafalan sebanyak 30 Juz.

Awalnya hampir putus asa bahwa hafalannya tidak akan khatam pada angkatan ini namun setelah konsultasi dengan muhaffizh dan meyakinkan diri bahwa potensi yang diikhtiarkan belum 100% maka mulai mengoptimalkan waktu setiap 25 menit target lancar setoran 1 halaman. Maka di luar dugaan justru 1 jam mampu menyetorkan hafalan sebanyak 5 halaman sehingga pada hari terakhir sebelum besoknya wisuda peserta tersebut dimampukan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk menyetorkan hafalan 30 Juz.

Mengetahui pola-pola yang sering kali berulang ini maka dapat diambil kesimpulan bahwa sikap berikut ini mungkin Anda akan pertimbangkan atau langsung ambil keputusan untuk mulai detik ini sekarang juga…

  • Berpikir dan percayalah bahwa semua orang yang terus menghafalkan Al-Qur’an akan mampu menghafal Al-Qur’an 30 Juz. Iringilah dengan doa dan ikhtiar maksimal agar dimampukan oleh Allah Subhanahu Wata’ala agar mampu menjaga kalam-Nya.
  • Perbaiki keyakinan yang memperdayakan agar lebih memberdayakan. Hindari perkataan negatif thingking atau suudzhan yang dapat melemahkan akal dan pikiran. Yakinlah bahwa setiap kali Anda menghafal Al-Qur’an pasti ada progres penambahan hafalan atau penambahan kelancaran hafalan.
  • Bangkitlah dari keterpurukan dan bergaulah dengan orang-orang yang hafal Al-Qur’an maupun ahli ilmu dan yakini bahwa Anda bisa seperti mereka jika Anda mau berproses menuju cita-cita yang diharapkan.
  • Mulai saat ini ubahlah sikap sehingga bisa berproses menuju impian terdalam yang ingin diwujudkan. Usahakan meskipun awalnya sulit tetapi ubahlah seluruh aktivitas agar semuanya menuju kepada kesuksesan menghafalkan Al-Qur’an jika benar itu adalah cita-cita tertinggi Anda di dunia dan akhirat Anda
  • Sadarilah bahwa perasaan yang berulang-ulang akan membentuk pemikiran, pemikiran yang berulang dapat mewujud menjadi tindakan dan tindakan yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Sedangkan kebiasaan menghafal Al-Qur’an akan mewujud menjadi hafalan Al-Qur’an. Mulailah dari perasaan dan wujudkan dalam langkah nyata menghafalkan Al-Qur’an.
  • Jika Anda serius untuk menghafalkan Al-Qur’an di karantina tahfizh maka seriuslah dalam menjalaninya. Jangan setengah-setengah melainkan ikuti saja proses dan tahapan-tahapannya sesuai dengan standar operasional prosedur yang diterapkan.
  • Allah Subhanahu Wata’ala sudah memudahkan hafalan Al-Qur’an. Sedangkan kesulitan menghafal Al-Qur’an adalah hal yang mustahil bagi orang yang serius mau menghafalkannya. Sebab kesulitan apa pun akan tetap dihadapi dengan senang hati demi mencapai cita-cita tertinggi kemuliaan di dunia sampai akhirat.
  • Cintailah Al-Qur’an dan orang-orang yang berkhidmah pada Al-Qur’an. Takdzimlah / hormati guru ngaji Anda sehingga setiap nasehatnya akan merasuk kedalam jiwa raga Anda dan mendorong serta menarik dengan kuat agar Anda bisa menghafal Al-Qur’an dengan penuh semangat.
  • Hindari mengeluh terhadap diri sendiri baik di hadapan orang lain maupun dalam keadaan sendirian. Jangan biarkan Anda meracuni pikiran orang lain dengan pikiran negatif terhadap hafalan Al-Qur’an.

Semoga apa yang dituangkan di sini yang berdasarkan riset selama 3 tahun terhadap lebih dari 4700 orang ini bermanfaat bagi penulis buah pahala dan bagi pembaca mendapat manfaatnya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamain.

Yadi Iryadi
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Licensed Practitioner Neuro Linguistic Programming (NLP)
Master Coach HypnoTahfizh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *