Menghadapi Hoax, Ilmu dan Menghafal Al-Qur’an

Hafal Quran Sebulan

Menghadapi Hoax, Ilmu dan Menghafal Al-Qur’an

Agar pikiran tetap jernih menghadapi Informasi fitnah-fitnah hoax akhir zaman selektiflah dalam mencerna Informasi yang belum pasti kebenarannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian. [al-Hujurât/49:6].

Menghadapi Hoax, Ilmu dan Menghafal Al-Qur’an

Tidak semua hal harus diketahui cukuplah hal-hal yang bermanfaat saja misalnya mengenai kemaslahatan diri sendiri, keluarga, umat, masyarakat dan negara maupun alam semesta.

Informasi yang maslahat tersebut misalnya karena memang betul-betul informasi itu bermanfaat atau sekadar diketahui untuk mencegah timbulnya bahaya dan mewaspadai persiapan sikap apa yang perlu dilakukan agar tidak timbul bahaya yang lebih besar.

Bahkan kita diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk mencari ilmu namun tidak semua ilmu wajib dipelajari.

Cukuplah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan akhirat dan ilmu-ilmu yang bermanfaat menambah keimanan ketika dipelajari dan maanfaat ketika digunakan selama hidup di dunia untuk menuju akhirat.

Berlindunglah kepada Allah Subhanahu Wata’ala dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam mengajarkan doa yang bagus sekali:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima“. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu as-Sunni).

Selain mempelajari ilmu yang bermanfaat dan mengamalkan dengan profesi apapun hendaknya kita memiliki hafalan Al-Qur’an yang juga sudah tentu akan menjadi penguat ilmu apapun untuk menunjang kehidupan dunia akhirat.

Semoga Allah karuniakan nikmat mampu menghafalkan Al-Qur’an.

بَلْ هُوَ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآَيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

Artinya: Bahkan, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim (QS. al-Ankabut: 49).

Kitab Al-Qur’an ini tidak mengandung keraguan, bahkan kitab ini adalah ayat-ayat yang jelas dan terjaga di dalam hafalan orang-orang yang dikaruniai ilmu oleh Allah. Tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Allah–setelah mengetahuinya–kecuali orang-orang yang zalim terhadap kebenaran dan diri mereka sendiri.

Orang-orang yang diberikan ilmu adalah manusia yang sempurna akalnya. Apabil ayat-ayat Al-Qur’an itu telah terdapat dalam dada orang-orang mulia tersebut maka menjadi hujjah dari selain ayat Al-Qur’an.

Maksud “dalam dada” adalah bahwa ayat-ayat Al-Quran terpelihara dengan dihapal oleh banyak kaum muslimin secara turun-temurun dan dipahami oleh mereka, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat mengubahnya.

Sedangkan orang yang zalim dalam ayat tersebut maksudnya adalah setelah jelas bagi mereka ayat-ayat Al-Qur’an mereka menolaknya dan berbicara tanpa ilmu, tidak mau mengikuti ahli ilmu, padahal ia mampu mengetahuinya secara hakiki, atau orang yang pura-pura bodoh padahal mengetahui yang hak, namun menolaknya dan mengetahui kebenarannya tetapi menyelisihinya. Naudzubillahi mindzalik.

Semoga Allah menggolongkan kita dari ahli ilmu dan menjauhkan kita dari katagori orang-orang yang zalim.

Idealnya menghafal Al-Qur’an dapat dilakukan di Pondok Pesantren maupun Sekolah Islam Terpadu. Namun Alhamdulillah saat ini menghafal Al-Qur’an sudah banyak alternatif bahkan akselerasi menghafal Al-Qur’an dapat dilakukan bagi orang sibuk tanpa dibatasi usia dengan mengikuti Karantina Hafal Qur’an Sebulan kemudian muraja’ah seumur hidup.

Yadi Iryadi, S.Pd.
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *