Instalasi Mushaf Al Quran Virtual dalam Ingatan Penghafal

Hafal Quran Sebulan

Instalasi Mushaf Al Quran Virtual dalam Ingatan Penghafal

Ketika seseorang sedang bengong sebenarnya dia sedang sibuk berkonsentrasi pada sesuatu di dalam pikirannya.

Bisa jadi itu potensi kecerdasan yang belum digunakan secara kreatif.

Saat Coaching khusus 9 peserta akhwat yang kesulitan menggunakan metode dan mushaf Al Quran Yadain alhamdulillah semuanya bisa diatasi sesuai dengan keluhan masing-masing peserta.

Perlu diketahui sebelumnya bahwa setoran hafalan akhwat ke ustadzahnya masing-masing tetapi dalam hal kejadian luar biasa misalnya karena kesulitan menghafal Al-Qur’an maka Coaching khusus melalui Dewan Pembina.

Angkatan karantina tahfizh ini ada seorang peserta akhwat mempunyai kebiasaan bengong dan berkhayal bahwa ia berkhayal ada seseorang yang mengikutinya dari depan, belakang, kadang di samping.

Saya tanya, “Bentuknya seperti apa?…”

Seperti laki-laki berjubah putih tapi tidak jelas wajahnya.

Mungkin pembaca curiga bahwa itu jin, syetan, iblis?…

Wallahu a’lam, yang jelas peserta ini dan saya memahami hanyalah sekedar khayalan di dalam imajinasi.

Dalam kajian terapi pikiran The Davis-Husband Scale bahwa itu dinamakan sebagai Positive Visual Halusinasi yaitu melihat sesuatu yang tidak ada menjadi ada di dalam pikiran (padahal rill wujud kenyataannya secara nyata tidak ada).

Sudah pernah diruqiyah, sudah diterapi psikolog tetapi masih saja begitu adanya. Suka melihat dalam bayangannya ada sosok berjubah putih padahal cuma khayalan dan klien ini pun sadar bahwa itu cuma khayalan dalam keadaan bengong.

Jika Anda mendengar ceritanya mungkin Anda akan menganggapnya (mohon maaf) seperti orang kurang sehat. Tetapi dihadapan Practitioner Neuro Linguistic Programming tentu ini adalah kesempatan langka bagi saya untuk belajar.

Penulis masih ingat dengan teknik Milton Erickson bahwa hal itu bisa dilakukan dengan ACCEPT AND UTILIZE maksudnya adalah terima keadaan yang tidak memberdayakan dan manfaatkan untuk sesuatu yang memberdayakan/manfaat.

Terima keadaanya bahwa klien merasakan halusinasi imajinasi yang tidak memberdayakan untuk kemudian digunakan sebagai halusinasi imajinasi yang memberdayakan.

Terapi pun dimulai:

Baiklah… Bu Lydia..

“Silakan ibu Lydia bayangkan sosok dalam pikiran ibu Lydia yang selalu mengikuti kemana pun ibu Lydia pergi.”

“Sudah ustadz dia ada di depan,” (dalam keadaan klien menutup mata)

“Coba buka mata, sosok itu tidak ada kan?” (klien membuka mata dan memastikan sosok imajinasinya tidak ada)

“Iya ustadz, tidak ada.” Jawab Ibu Lydia

“Coba pejamkan mata lagi.”

“Ustadz dia ada di belakang saya.” Jawab Ibu Lydia

“Coba buka mata dan lihat ke belakang, tidak ada kan.” Saya mencoba mengarahkan agar ibu Lydia menghapuskan halusinasi imajinasinya oleh pikirannya sendiri.

“Iya ustadz, sudah tidak ada.” Jawab Ibu Lydia

Sampai dipastikan samping kiri dan kanan juga sudah tidak ada.

“Apakah menurut ibu Lydia itu sekedar imajinasi,” Tanya saya.

“Memang benar, cuma khayalan saya saja ketika saya bengong.” Jawab Ibu Lydia

jurus Ericksonian : ACCEPT AND UTILIZE(teknik terima keadaannya dan manfaatkan)

“Dia hanyalah imajinasi Ibu Lydia saja, sebenarnya dia cuma khayalan saja dan sebenarnya itu adalah potensi kecerdasan ibu yang belum digunakan.”

“Lalu bagaimana cara menggunakan kecerdasan itu”

Baiklah…

“Silakan ibu pejamkan mata dan lihat bayangan kain putih yang dibentangkan…”

Hal ini pun saya lakukan pada peserta akhwat yang juga saat itu Coaching kesulitan menghafal Al-Qur’an.

“Sudah ustadz”

“Silakan tuliskan huruf Alif, Ba, Ta, Tsa, Jim dst.”

“Sudah ustadz lengkap, tinta hitam ada di kain putih”

“Bagus, coba ubah warna kainnya dengan warna lain?”

“Sudah ustadz warna kainnya ungu.”

“Bagus Alhamdulillah, sekarang tuliskan surat Al-Fatihah secara lengkap”

“Sudah ustadz warna kainnya ungu berkilauan.”

“Alhamdulillah bagus, lanjutkan surat Al-Baqarah 5 ayat di halaman ke-2”

“Sudah ustadz warna kainnya ungu berkilauan.”

“Buka setiap halaman Al-Qur’an di dalam imajinasi, apakah tulisannya sudah ada?” tanya saya.

“Sebagian tulisannya ada tapi buram dan belum bisa di baca kemudian masuk ke Juz ‘Amma tulisannya jelas dan bisa di baca”

“Alhamdulillah bagus, bersyukur pada Allah bahwa imajinasi Ibu sekarang adalah lembaran ayat Al-Qur’an Virtual dalam memory pikiran yang dapat dibaca dengan lancar disertai tadabbur metode yadain dalam keadaan mata tertutup maupun terbuka.”

Berikut ini adalah testimoni tulisan tangan beliau Ibu Lydya Octora:

Ayat-ayat Allah yang begitu berkilauan saat dibaca dengan tadabbur.

Bismillah subhanallah alhamdulillah untuk setiap anugrah ini. Allah masih memberi saya kesempatan bisa se Intens ini bersama Al-Quran di tengah-tengah kesibukan saya sebagai seorang istri dan ibu dua anak serta mahasiswa di pascasarjana dan aktivitas mengajar saya yang terasa begitu padat di Jakarta.

Tadabbur dan metode menghafal bisa seolah-olah saya memiliki mushaf Al Quran virtual yang bisa saya buka kapan saja dan ayat-ayat Allah begitu berkilauan seperti butiran butiran mutiara yang melunakkan hati yang keras membatu, membantu linangan air mata jatuh.

Subhanallah walhamdulillah…
Istiqomahkan kami untuk terus membaca, menghafal, murojaah dan tadabbur Quran serta beri kekuatan untuk mampu mengamalkan apa yang terdapat di dalam kalam Allah ini.

Amin Allahumma Amin Tersenyumlah,… Tersenyumlah,…  karena Allah telah memilihmu menjadi seorang penghafal Al-Quran.

Dari seorang penghafal Al-Quran yang sedang berusaha menjaga Kalamullah Lidya Octora mahasiswa pascasarjana universitas negeri Jakarta guru dan ibu rumah tangga Bekasi Jawa Barat saat ini ditulis hari terakhir di Karantina Tahfizh Shubuh 5 Maret 2017 tahajud menjelang wisuda.

Alhamdulillah, terima kasih atas pembelajaran yang sangat berharga ini. Bersyukur pula 9 peserta yang waktu itu coaching kesulitan menghafal rata-rata mampu merasakan penglihatan imajinasi Al-Qur’an Virtual di dalam pikiran masing-masing para penghafalnya.

Metode ini tidak serta merta membayangkan langsung hafal melainkan ada proses sunatullah yang harus dilakukan yaitu membaca Al-Qur’an disertai tadabbur maknanya dan “memotret” bentuk tulisan arabnya. Sedangkan untuk memahami alur maknanya lebih konsentrasi pada inti metode Yadain yaitu membayangkan siapa pelakunya, di mana tempatnya dan bagaimana sifatnya.

Semakin rajin muraja’ah, pengulangan membaca hafalan Al-Qur’an akan semakin memperjelas khat penulisan mushaf Al Quran virtual di dalam pikiran dan tadabbur semakin nikmat. Insyaa Allah.

Instalasi mushaf Al Quran virtual dalam ingatan penghafal dilakukan secara massal dalam pembekalan metode Yadain Litahfizhil Quran. Apabila ada beberapa peserta yang belum paham metodenya maka dilakukan pembekalan ulang dengan materi khusus sesuai dengan bagian yang belum berhasil dipahami. Selain mushaf Al Quran virtual, peserta juga harus menguasai teknik visualisasi tadabur.

Memuji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala bahwa ini adalah ilmu yang layak untuk dikembangkan dan dimanfaatkan seluas-luasnya bagi umat Islam yaitu pemberdayaan imajinasi sebagai alat untuk menghafal dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Semoga semakin bertambah para penghafal Al-Qur’an. Aamiin.

Informasi dan pendaftaran peserta Karantina Hafal Al-Qur’an Sebulan, hubungi 081312700100 atau langsung mengisi formulir online di www.hafalquransebulan.com

Yadi Iryadi
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Licensed Practitioner Neuro-Linguistic Programming

2 Responses

  1. Laily Rosdawati berkata:

    Semoga saya sekeluarga bisa punya kesempatan untuk ikut program ini Aammiin Allahumma Aamiin
    Saya Laily dari Sumbawa Barat NTB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *