“Ini Bukan Pencitraan” tetapi ternyata janji Allah Subhanahu Wata’ala

Hafal Quran Sebulan

“Ini Bukan Pencitraan” tetapi ternyata janji Allah Subhanahu Wata’ala

 

Beberapa alumni mengatakan, “Alhamdulillah saya terjebak pencitraan mudah menghafal Al-Qur’an di Karantina Hafal Al-Qur’an Sebulan yang mengawali saya bisa setoran hafalan 10 juz Al-Qur’an meski belum seperti puluhan teman lainnya yang khatam 30 Juz dalam waktu kurang dari sebulan.”

Beratus tahun lamanya masyarakat beranggapan bahwa orang yang pantas mendapatkan hafalan Al-Qur’an adalah hanya kalangan santri dan kyai saja di pondok pesantren. Namun anggapan tersebut saat ini telah pudar sehingga siapa pun saat ini Anda berkesempatan untuk mampu menghafalkan Al-Qur’an dengan syarat sudah mampu membaca Al-Qur’an sesuai dengan kaidah tajwid.

Memang benar bahwa kalangan santri dan kyai mendapatkan porsi yang memungkinkan untuk berlama-lama interaksi bersama Al-Qur’an tetapi bukan hal yang mustahil jika orang sibuk sekalipun memanfaatkan kesempatan waktu luang untuk menghafal Al-Qur’an beberapa juz atau bahkan 30 Juz.

Banyaknya bermunculan metode menghafal Al-Qur’an merupakan indikasi bahwa menghafal Al-Qur’an dapat dilakukan dengan berbagai cara. Banyak alternatif cara cepat menghafalkan Al-Qur’an dari mulai cara yang wajar hingga cara yang “agak kurang ajar” dalam menghafalkan Al-Qur’an.

Cara “kurang ajar” ini misalnya penggunaan teknik memory asosiasiimajinasivisualisasi tadabbur, ilustrasi, gambar, mind mapping, anchoring, kartu flash, sensory acuity, submodality, mnemonic, subliminal message, photo-reading, super genius state dan cara-cara inovatif lainnya untuk mendapatkan hafalan secara cepat, instan dan permanen.

Bagi sebagian orang dengan pikiran otak kanan hal ini sah-sah saja dilakukan meskipun terkadang mendapatkan “protes” dari pemikiran sebagian yang mendominasi otak kiri. “Tetapi ya sudahlah toh tujuannya sama mulia yaitu untuk mempelajari dan menghafalkan Al-Qur’an.”

Hal yang tidak mungkin dihilangkan dari kemunculan metode-metode baru yaitu pada metode apa pun tahfizh pasti harus ada membaca Al-Qur’an secara berulang-ulang disertai tadabbur. Tanpa pengulangan muraja’ah hafalan mustahil hafalan dapat disimak dengan baik sekalipun sudah pernah dihafal sebelumnya. Sedangkan tanpa tadabbur menyebabkan hafalan Al-Qur’an kosong dari kenikmatan menerima pesan-pesan dari Allah.

Jangan sampai karena alasan cepat hafal lagi, lantas tidak mau berlama-lama mengulang hafalan Al-Qur’an. Padahal pahala didapatkan bukan dari hasil hafalan Al-Qur’an melainkan dari banyaknya membaca Al-Qur’an.

Semua metode menghafalkan Al-Qur’an adalah mulia dan bagus karena dikaitkan dengan Al-Qur’an Al-Karim yang penuh kemuliaan. Begitu pula para penghafalnya hendaklah memuliakan Al-Qur’an dengan cara menjaga hafalan dan tidak mengotori perbuatan mereka dengan secara sengaja bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Kita berlindung pada Allah dari hal demikian.

Mudahnya menghafal Al-Qur’an ternyata bukanlah pencitraan semata justru itu merupakan janji Allah Subhanahu Wata’ala. Hal ini terkait dengan ayat Al-Qur’an surah Al-Qamar:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran” (QS. 54:17, 22, 32, 40)

Saat tausiyah dan motivasi di hadapan 400 peserta karantina tahfizh yang disampaikan oleh KH. Muslih Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Bobos Cirebon beliau menyampaikan analisa tata bahasa dari ayat di atas seperti ini:

1). Huruf lam ( ل ) pada kata laqod ( لَقَدْ ) adalah untuk menunjukkan penegasan/penekanan (taukid). Bermakna “sungguh”.

2). Kata setelah Qod ( قَدْ ) adalah yassarna ( يسرنا – telah Kami mudahkan; Allah yang berkata) yang berbentuk fi’il madhi (past tense); juga bermakna penegasan. Bermakna “sungguh”.

3). Kata yassarna – يسرنا berbentuk fi’il madhi, yang menunjukkan peristiwa yang telah terjadi maksudnya “telah dimudahkan”.

4). Pada surat Al-Qamar, kalimat tersebut diulang sebanyak 4 kali (dengan susunan kalimat sama persis 100%) yaitu pada ayat 17, 22, 32, dan 40, yang dapat bermakna penegasan.

Dari ayat ini jika diungkapkan dalam bentuk lain seakan-akan Allah Subhanahu Wata’ala berkata:

“Wahai orang-orang beriman, Sungguh…sungguh….sungguh…sungguh…. telah Kami mudahkan Al Qurán untuk pelajaran, adakah orang yang mau mempelajarinya?”.

Pada pembicaaran antar sesama manusia misalnya pengulangan seperti itu tentu saja dalam rangka meyakinkan dan menunjukkan bahwa apa yang diucapkan itu benar-benar penegasan seperti apa yang diucapkan.

“Jika menghafalkan Al-Qur’an mudah mengapa banyak orang yang belum hafal Al-Qur’an?…”

Ya, itulah karena tidak setiap orang bersedia untuk menghafalkannya sekalipun sudah ada kemauan.

Berikutnya bahwa Allah yang mengajarkan Al-Qur’an. Janganlah tergesa-gesa dalam melafalkannya. Sebab jika tergesa-gesa akan mudah putus asa ketika belum mencapai target yang diinginkannya. Sebaliknya dengan menyesuaikan metodologi yang Allah ajarkan maka hal itu akan lebih dimudahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ مُوسَى بْنِ أَبِي عَائِشَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
فِي قَوْلِهِ تَعَالَى
{ لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ }
قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَالِجُ مِنْ التَّنْزِيلِ شِدَّةً وَكَانَ يُحَرِّكُ شَفَتَيْهِ فَقَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ فَأَنَا أُحَرِّكُهُمَا لَكَ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَرِّكُهُمَا فَقَالَ سَعِيدٌ أَنَا أُحَرِّكُهُمَا كَمَا كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يُحَرِّكُهُمَا فَحَرَّكَ شَفَتَيْهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
{ لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ }
قَالَ جَمْعُهُ فِي صَدْرِكَ ثُمَّ تَقْرَؤُهُ
{ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ }
قَالَ فَاسْتَمِعْ لَهُ وَأَنْصِتْ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا أَنْ تَقْرَأَهُ قَالَ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام اسْتَمَعَ فَإِذَا انْطَلَقَ جِبْرِيلُ قَرَأَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا أَقْرَأَهُ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah, dari Musa bin Abu ‘Aisyah dari Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas tentang firman Allah: ‘(Jangan kamu gerakkan lisanmu) ‘ (Qs. Al Qiyamah: 16),

Ibnu Abbas katakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merasa sangat kepayahan mengikuti wahyu yang diturunkan sehingga beliau gerak-gerakkan kedua bibirnya.” Ibnu Abbas lantas berkata kepadaku, “Maka aku gerakkan keduanya bagimu sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggerakkan keduanya.” Sa’id berkata, “Dan aku menggerakkan keduanya sebagaimana Ibnu Abbas menggerakkan keduanya, ” maka ia gerakkan kedua bibirnya sehingga Allah menurunkan ayat: ‘(Jangan engkau gerakkan lisanmu untuk membacanya agar kamu tergesa-gesa, sebab Kewajiban Kamilah yang mengumpulkannya dan membacakannya) ‘ (Qs. Al Qiyamah: 16-17). Ibn Abbas berkata, ‘Mengumpulkan yang dimaksud adalah, mengumpulkan di dadamu, lantas kamu membacanya: ‘(Maka jika kami telah membacanya, maka ikutilah bacaannya) ‘ (Qs. Al Qiyamah: 18). Ibn ‘Abbas berkata, ‘Maka dengar dia baik-baik dan diamlah, kemudian Kami berkewajiban agar kamu mampu membacanya.” Ibn Abbas berkata, “Jika Jibril menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau mendengarnya baik-baik, dan jika Jibril telah pulang, maka beliau membacanya sebagaimana Jibril membacakannya.”

Berikutnya hal yang biasa dilakukan oleh para shahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam adalah menegaskan pembacaan yang benar sehingga tidak ada keraguan saat membacanya.

حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ قَالَ رَأَيْتُ رَجُلًا سَأَلَ الْأَسْوَدَ بْنَ يَزِيدَ وَهُوَ يُعَلِّمُ الْقُرْآنَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ كَيْفَ نَقْرَأُ هَذَا الْحَرْفَ
{ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ }
أَذَالٌ أَمْ دَالٌ فَقَالَ لَا بَلْ دَالٌ ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَؤُهَا
دَالًا { مُدَّكِرٍ }

Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, ia berkata, “Aku melihat seorang laki-laki bertanya kepada Al Aswad bin Yazid, saat itu ia sedang mengajarkan Al Qur`an di masjid. Laki-laki itu bertanya, “Bagaimana engkau membaca huruf ini: FAHAL MIN MUDDAKIR? Menggunakan dzal atau dal?” Al Aswad menjawab, “Tidak, tapi dengan huruf Dal.” Kemudian Al Aswad berkata, “Aku mendengar Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca MUDDAKIR, dengan huruf Dal.”

Baiklan Insyaa Allah kita akan bahas bab lainnya di website ini update setiap hari, semoga Allah Subhanahu Wata’ala meridhai.

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah :

1. Pencitraan kemudahan menghafal Al-Qur’an justru timbul dari janji Allah yang tidak mungkin Allah Subhanahu Wata’ala mengingkarinya.
2. Kemudahan menghafal Al-Qur’an hanya akan terjadi bagi orang yang mau dan bersedia mempelajari, menghafalkannya menggunakan alternatif metode apa pun yang mendukung hafalannya.
3. Menegaskan benarnya pengucapan hafalan sehingga tidak ada kesalahan dalam melafalkan Al-Qur’an. Jika bacaan sudah sesuai dengan kaidah tajwid dan makharijul huruf maka pasti lebih memudahkan hafalan Al-Qur’an.

 

www.hafalquransebulan.com Semoga bermanfaat, Aamiin.

 

Yadi Iryadi
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Praktisi Neuro-Linguistic Programming
Master Coach Hypno Tahfizh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *