Efek Tidak Menikmati Bacaan Al-Qur’an

Hafal Quran Sebulan

Efek Tidak Menikmati Bacaan Al-Qur’an

 

Jika dari kemarin selalu berbagi pengalaman mengenai kenikmatan menghafal Al-Qur’an maka saat ini penulis akan berbagi pengalaman menangani berbagai macam keluhan selama penyelenggaraan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional dalam program Karantina Hafal Al-Qur’an Sebulan.
 
Alhamdulillah atas kehendak Allah Subhanahu Wata’ala keluhan-keluhan di bawah ini dapat diatasi dengan berbagai macam ikhtiar teknik yang penulis sampaikan dalam coaching satu per satu sesuai dengan keluhan peserta.
 
Diantara sekian banyak keluhan tersebut yaitu:
 
– Tertekan dengan target 30 Juz sebulan sehingga tidak mau menghafal Al-Qur’an karena baru memikirkan saja sudah berat rasanya.
 
– Tertekan dengan durasi belajar 10-13 jam setiap hari setiap malam selama sebulan dan merasa sakit dengan segala kekhawatiran yang ada padanya.
 
– Merasa pusing karena tidak ngafal Al-Qur’an tetapi hanya memikirkan hafalan yang tidak dihafalkannya abila sebulan tidak sampai target 30 juz. Terkadang masih ada yang merasa gagal apabila sebulan hanya mencapai 15 juz.
 
– Tertekan dengan motivasi dari para muhaffizh dan muhaffizhah yang terus menuntut agar bisa setoran hafalan Al-Qur’an sehingga tidak bisa konsentrasi.
 
– Merasa tidak sanggup membaca ayat Al-Qur’an karena banyaknya persepsi negatif yang ada dalam pikiran dan perasaannya
 
– Merasa pusing tujuh keliling karena tidak berusaha ngafal Al-Qur’an tetapi hanya memikirkan hafalan yang tidak dihafalkannya
 
– Lebih mementingkan obrolan mengenai hafalan Al-Qur’an dibandingkan hafalan itu sendiri sehingga habis waktu hanya untuk ngobrol
 
– Merasa tidak betah berada di asrama tinggal bersama teman-teman lain yang hafalannya terus bertambah sementara dirinya enggan membaca Al-Qur’an
 
– Membandingkan diri dengan kemampuan orang lain sehingga menjadi semakin minder, merasa tidak mampu, merasa sangat terpuruk dan pecah nangis bombay sehari semalam tanpa melibatkan Allah Subhanahu Wata’ala yang telah menjanjikan kemudahan menghafal Al-Qur’an.
 
– Pikiran tidak fokus karena tidak membaca Al-Qur’an dan lebih sibuk memikirkan pekerjaan di rumah, bisnis maupun sekolah sehingga waktu lebih banyak terbuang untuk bengong.
 
– Bacaan tahsin belum bagus tetapi ngotot ingin setoran hafalan Al-Qur’an tanpa mau memperbaiki bacan Al-Qur’an sehingga berjam-jam ngafal Al-Qur’an tidak dapat-dapat tanpa mau introspeksi diri bahwa targetnya bukan ngafal Al-Qur’an melainkan tahsin tilawah Al-Qur’an.
 
– Meyakini bahwa menghafal Al-Qur’an itu sulit, susah, membosankan dan tidak meyakini manfaat pahala dari setiap hurufnya 10 kebaikan sehingga apa yang diyakininya menjadi kebenaran sulit susah dan membosankan.
 
– Meyakini menghafal Al-Qur’an susah tetapi pantang menyerah sehingga pengulangan bacaan 200-500 kali terhadap 12 ayat pendek tidak menyebabkan hafalan tersebut hafal padahal sudah dilakukan 2 hari 2 malam diulang-ulang.
 
– Mengeluhkan berbagai macam fasilitas karantina tahfizh yang sebenarnya sudah cukup nyaman bagi peserta lain tetapi karena standar kehidupan yang di rumahnya berbeda sehingga dijadikan alasan enggan menghafal Al-Qur’an.
 
– Merasa bahwa fasilitas karantina tahfizh terlalu nyaman sehingga nyaman untuk tidur dan bersantai-santai.
 
– Tenggorokan sakit, suara serak, mata merah karena kelelahan membaca Al-Qur’an sementara teman-teman lain yang menggunakan metodenya tidak merasakan hal tersebut.
 
– Merasa sakit, pegal, encok, rematik, keram karena terlalu banyak duduk kurang bergerak. Sementara peserta lain yang sakit jantung koroner, diabetes di atas 400 mg/dl merasa sehat-sehat saja atas izin Allah melalui bacaan Al-Qur’an.
 
– Membawa problem pribadi seperti stres, frustrasi, depresi, cemas, galau yang dibawa dari rumah sehingga ketika di karantina tahfizh tidak bisa optimal menghafal Al-Qur’an
 
Kami beriman bahwa Al-Qur’an dimudahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Semoga Allah membuka pembatas diri kami (mental block) dari mukjizat kemudahan Al-Qur’an untuk dipelajari. Mustahil Allah mengingkari janjinya.
 
Janganlah berprasangka bahwa menghafal Al-Qur’an itu susah, siapa tahu justru belum pernah mencoba untuk menghabiskan durasinya 10-13 jam per hari untuk menghafalkan Al-Qur’an Al Karim.
 
Hanya kepada Allah kami memohon pertolongan semoga ditunjukan jalan bagi orang-orang yang telah menerima nikmat Al-Qur’an dari-Nya, Amiin Ya Rabbal ‘Alamin.
 
Yadi Iryadi
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Licensed Practitioner Neuro Linguistic Programming
Master Coach HypnoTahfizh
www.hafalquransebulan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *