Metode Cepat Hafal Al-Quran Bukan dengan Tergesa-gesa

Hafal Quran Sebulan

Metode Cepat Hafal Al-Quran Bukan dengan Tergesa-gesa

Metode Yadain Li Tahfizhil Quran - Karantina Tahfizh

Menghafal Al-Quran Tidak Boleh Tergesa-gesa

Banyak orang mengira bahwa metode cepat hafal Quran dilakukan dengan ketergesaan. Bagaimana tidak, sebab program karantina tahfizh menawarkan menghafal Al-Quran dalam waktu singkat yakni sebulan. Lalu fenomena apakah yang sesungguhnya terjadi?…

Memang benar umumnya mencetak para penghafal Al-Quran tidak dapat dilakukan secara instan. Oleh karena itu, memerlukan cara efektif agar dapat meringkas waktu tiga tahun menjadi sebulan dan agar dimudahkan oleh Allah saat memuraja’ah hafalannya baik dimuraja’ah di rumah maupun pada program karantina tahfizh mutqin 3 bulan.

Bukan sulap bukan sihir, metode cepat hafal Quran agar khatam setoran hafalan Al-Qur’an 30 Juz ada sistem dan metodologinya. Tidak mudah jika tidak melakukan segala ketentuan yang diberlakukan di karantina tahfizh yakni memfokuskan diri hanya untuk satu kegiatan inti yaitu menghafal Al-Quran. Persiapan bacaan Al-Quran sesuai kaidah tajwid, penerapan kedisiplinan yang ketat, menjaga kesehatan secara optimal, dan penerapan metode menghafal Al-Quran semua harus sesuai dengan ketentuan. Jika masih ada peserta karantina tahfizh yang menghafal Al-Quran karena tergesa-gesa maka dipastikan peserta tersebut tidak akan selesai 30 juz. Adapun jika selesai 30 juz dengan ketergesaan maka biasanya sulit untuk mengembalikan hafalan yang sudah dihafalkan. Karena itu pahamilah bahwa menghafal Al-Quran tidak perlu tergesa-gesa.

Menikmati Sejak Awal Proses Menghafal Al-Quran Sebulan

Saat praktik menghafal Al-Quran agar cepat hafal ternyata bukan dengan ketergesaan melainkan dengan menikmati alur terjemah ayat-ayat yang sedang dihafalkan. Selain nikmat saat prosesnya juga lebih betah berlama-lama membacanya sehingga hafal tanpa rasa penat. Apabila menghafal Al-Quran terasa nikmat maka waktu terasa begitu cepat dan tahu-tahu sudah belasan halaman bahkan dua puluhan halaman hafalan yang disimak setiap harinya.

Sebaliknya apabila hafalan Al-Quran dilakukan dengan ketergesaan maka yang ada adalah kejengkelan karena hafalan tidak hafal-hafal. Semakin jengkel semakin sulit hafalan Al-Quran menempel dalam hafalan. Namun apabila dibaca dengan tartil hadr disertai visualisasi tadabur terjemah dan membayangkan Al-Quran Virtual maka akan menjadi lebih mudah lagi. Insya Allah.

Metode cepat hafal Al-Quran harus sesuai dengan standar bacaan yang benar. Apabila cepat hafal Al-Quran namun bacaannya salah-salah maka tidak dianggap sebagai penjaga kemurnian ayat-ayat Al-Quran.

Khatmil Quran 30 juz Sebulan sebagai Awal Muraja’ah

Menghafal Al-Quran sebulan bukan berarti setelah khatam sebulan 30 juz kemudian meninggalkannya tanpa dibaca. Justru sebaliknya, menghafal Al-Quran sebulan merupakan awal dari komitmen untuk terus membaca dan mengulang hafalan agar bacaan tersebut ditadaburi dan dijadikan motivasi berbuat baik di masyarakat.

Seseorang yang cepat hafal Al-Quran belum tentu mau setia muraja’ah. Maka keberhasilan karantina tahfizh tolak ukurnya bukan pada kecepatan khatam 30 juz melainkan pasca karantina tahfizh agar lebih rajin tilawah Al-Qur’an. Sadarilah bahwa menghafal Al-Quran pahalanya bukan dihitung dari berapa banyak hafalan yang dapat disimak dalam satu waktu melainkan berapa huruf ayat-ayat Al-Quran yang dibaca.

Metode Cepat Hafal Quran dengan Berlama-lama 10-12 Jam Per Hari

Karakteristik unik karantina tahfizh, setoran hafalan selama sebulan dengan durasi 10-12 jam/hari. Jika peserta karantina sudah lancar tajwidnya biasanya bisa mendapatkan antara 20-30 halaman hafalan setiap harinya. Namun jika tajwidnya masih perlu banyak belajar dan latihan maka setiap hari biasanya hanya mampu menghafal 1-3 halaman saja.

Kuncinya bukan tergesa-gesa namun tadabbur terjemah Al-Qur’an perkata bacaan tartil dengan ketukan hadr atau tadwir. Bacaan cepat sesuai kaidah tajwid dan tidak tergesa-gesa ini akan dicontohkan pada saat orientasi peserta karantina tahfizh.

Bacaan Al-Quran boleh dibaca cepat apabila masih memenuhi standar tajwid yang tepat. Namun tetap tidak boleh tergesa-gesa dan harus bersabar dengan prosesnya.

Cepat Hafal Quran Karunia dari Allah atau Pekerjaan Syetan?

Banyak ulama penghafal Al-Qur’an yang lancar hafalannya dan mendalam pemahamannya di bidang agama mengatakan bahwa cepat hafal Al-Qur’an merupakan karunia dari Allah Subhanahu Wata’ala namun jika ingin cepat-cepat hafal Al-Qur’an merupakan gangguan syetan karena terjebak pada sifat tergesa-gesa. Sedangkan tergesa-gesa itu merupakan pekerjaan syetan.

Inilah sifat yang juga disampaikan dalam Al-Quran sebagai sifat yang hina dan bahkan dikatakan bagian dari sifat syetan.

التَّأَنيِّ مِنَ اللهِ وَالعُجْلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Sifat perlahan-lahan teliti (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari syetan.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shoghir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Allah juga berfirman kepada Nabi Muhammad:

لَاتُحَرِّكْ بِهِ ۦ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِۦٓ

Artinya: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya.” (QS. Al-Qiyamah: 16)

Sebagaimana ‘Aisyah ketika ditanya, bagaimana Rasulullah?… Akhlaknya adalah Al-Qur’an. Beliau berakhlak dan beretika dengan Al-Qur’an, oleh karenanya beliau berkomitmen dengan pengarahan Allah ini dengan tidak terburu-buru, dan beliau berhati-hati dan bersabar. Oleh karena itu, Rasulullah juga memberikan petunjuk kepada umatnya dengan sabdanya:

Makna tergesa-gesa dalam bahasa Arab adalah “isti’jal”, “ajalah”, dan “tasarru”. Keseluruhannya bermakna sama dan lawan kata dari isti’jal adalah anaah dan tatsabbut, yang artinya adalah perlahan-lahan, dan tidak terburu-buru.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitabnya Ar-Ruh bahwa tergesa-gesa adalah keinginan untuk mendapatkan sesuatu sebelum tiba waktunya yang disebabkan oleh besarnya keinginannya terhadap sesuatu tersebut, seperti halnya orang yang memanen buah sebelum datang waktu panennya.

Firman Allah Agar Tidak Terburu-buru dalam Membaca Al-Quran

Berkaitan menghafal Al-Qur’an terdapat peringatan dari Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar tidak terburu-buru dalam membaca Al-Quran. Firman Allah:

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (18) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ (19)

Artinya: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)-nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya” (QS. Al-Qiyamah: 16-19).

Pada waktu itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat bersemangat untuk menghafal ayat yang diturunkan melalui malaikat Jibril ‘alaihissalam kepadanya, sehingga beliau saling mendahului bacaannya Jibril ‘Alaihissalam. Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memperhatikan dan mendengarkan apa yang dibacakan Jibril kepadanya. Karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala  telah menjanjikan kepadanya bahwa beliau akan dimudahkan dalam menghafal dan mengamalkannya. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berjanji memberikan penjelasan terhadap apa yang dibacakan Jibril untuknya tersebut.

Di dalam Al-Quran juga terdapat ayat yang menyifati manusia dengan sifat tergesa-gesa, sehingga menyebabkan manusia itu mendoakan keburukan bagi dirinya sendiri di saat kondisi marah sebagaimana dia mendoakan kebaikan untuk dirinya sendiri. Yaitu yang terdapat pada surat

وَيَدْعُ الإنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الإنْسَانُ عَجُولا

Artinya: “Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa” (QS. Al-Isra’ ayat 11).

Keyakinan Sulit Hafal Quran Akibat dari Tergesa-gesa

Hindari mengatakan kepada diri sendiri,

“Aduh susah”,

“Koq susah ya ngafal Al-Qur’an,”

“Saya mudah hafal tapi mudah lupa,”

“Saya sulit menghafal dan mudah lupa,”

“Menghafal al quran sendiri susah”

“Cara menghafal al quran yang efektif itu gak ada”

“Saya sudah tua, sibuk, susah hafal Al-Qur’an”

“Metode tahfidz gak cocok buat saya”

“Tidak mungkin saya hafal Quran,”

“Muraja’ah lebih sulit dari ngafal ayat baru”

dan keluhan-keluhan sejenisnya.

Ucapan tersebut muncul karena kekhawatiran, ketergesa-gesaan, dan kurangnya kesabaran. Bisa juga makna dari ayat di atas adalah manusia yang berlebih-lebihan dalam meminta sesuatu dalam doa yang dia yakini merupakan yang terbaik untuknya. Sedangkan pada hakikatnya hal itu adalah sebab kebinasaan dan keburukan baginya dikarenakan ketidaktahuan akan keadaan yang sebenarnya. Hal ini hanyalah terjadi karena sifat ketergesa-gesaan dan sudut pandangnya yang sempit terhadap sesuatu.

Padahal jika saja bersabar dengan sisi baiknya terus membaca Al-Qur’an maka pahala membacanya saja sudah banyak kebaikan yang diperoleh. Metode cepat menghafal Al-Qur’an bukan dengan tergesa-gesa melainkan dengan membacanya berulang-ulang sambil menikmati, memahami, dan mengamalkan isi kandungannya.

Sampai jumpa di karantina tahfizh. Insyaa Allah.

Hubungi 081312700100 (Pak Jajang) untuk informasi pendaftaran.

Yadi Iryadi
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *