Bukan Soal Sulit Hafal Al-Qur’an tapi Lancarkan dulu Bacaannya

Hafal Quran Sebulan

Bukan Soal Sulit Hafal Al-Qur’an tapi Lancarkan dulu Bacaannya

Banyak orang mengeluh kesulitan menghafal Al-Qur’an padahal itu bukan karena sulit menghafal melainkan belum mampu tahsin tilawah Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid. Ini merupakan salah satu syarat agar peserta karantina tahfizh mampu menghafalkan Al-Qur’an 30 juz sebulan.

Definisi Tahsin Tilawah

Tahsin ( تحسین ) semakna dengan kata tajwid (تجويد) berasal dari bahasa Arab yang berarti “membaguskan”. Tilawah artinya “membaca” atau “bacaan”. Maka tahsin tilawah Al-Qur’an artinya membaguskan bacaan Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid. Para ulama mendefinisikan tahsin tilawah Al-Qur’an berarti mengeluarkan huruf-huruf Al-Qur’an dari tempat keluarnya huruf dengan memberikan haq dan mustahaq-nya.

Haq maksudnya menegaskan perbedaan cara membaca suatu huruf dengan disertai penerapan sifat-sifatnya seperti mengalirnya nafas atau tanpa nafas (hams atau jahr). Menebalkan pembacaan huruf ataukah menipiskannya (isti’la atau istifal). Makharijul huruf selengkapnya ada 17. Sedangkan yang dimaksud dengan istilah mustahaq, yaitu mengaplikasikan hukum-hukum tambahan disebabkan terjadinya pertemuan huruf dengan huruf lainnya seperti idgham, iqlab, ikhfa, serta konsisten dalam pembacaan mad sesuai kaidah tajwid.

Hukum Memperbaiki Bacaan Al-Qur’an

Menurut As-Syuyuti, etika membaca Al-Qur’an dengan tartil hukumnya sunnah, yaitu membaca Al-Qur’an secara perlahan-lahan sambil memperhatikan huruf-huruf dan barisnya. Apabila ada pendapat wajib maka itu mengacu pada hukum zahir perintah itu. Bahwa semua perintah dalam Al-Qur’an hukumnya wajib. Pada surah Al-Muzzammil ayat empat, “Bacalah Al-Qur’an dengan tartil”. Menurut Az-Zarkasyi hukum membaca tartil adalah wajib bagi Rasulullah dan umatnya.

Seorang muslim jika tidak menguasai kaidah tajwid dapat menyebabkan salah dalam membaca Al-Qur’an. Bahkan dapat mengubah terjemahnya, yang itu berarti tidak ikut menjaga keaslian bacaan Al-Qur’an. Terlebih bagi calon-calon penghafal Al-Qur’an hanya boleh menghafalnya apabila telah dinilai mampu membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid. Karena selain bertujuan menjaga kemurnian Al-Qur’an, menguasai tajwid membuat Al-Qur’an menjadi mudah dihafal.

Kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan modal utama bagi para pemula sebelum maju pada tahapan menghafal Al-Qur’an. Jika membaca Al-Qur’an dilakukan dengan lancar, baik, dan benar maka intensitas pengulangan bacaan hafalan menjadi lebih cepat hafal. Sedangkan bacaan Al-Qur’an yang tidak sesuai kaidah tajwid dianggap tidak memenuhi standar tahfizh Al-Qur’an. Jika memaksakan diri menghafal Al-Qur’an dengan bacaan yang salah maka akan mempersulit saat memperbaikinya.

Oleh karena itu, belajar tajwid diwajibkan terutama bagi orang yang ingin membaca dan menghafal Al-Qur’an dengan baik dan benar. Lebih fatal lagi membaca Al-Qur’an tanpa kaidah tajwid dapat mengubah terjemah dari ayat Al-Qur’an padahal salah satu tugas para penghafal Al-Qur’an adalah menjaga keaslian Al-Qur’an sebagaimana ia diturunkan. Adapun membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang salah tetap mendapatkan pahala selama masih ada kemauan mempelajari bacaan yang benar demi menjaga keotentikan Al-Qur’an.

Perbaiki Bacaan Al-Quran Memudahkan Hafalan

Kemampuan membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid memudahkan hafalan Al-Qur’an. Indikator kemampuan membaca sesuai tajwid rinciannya sebagai berikut:

  1. memfasihkan pengucapan huruf dengan cara belajar kepada guru tahfizh yang fasih dan benar dalam pengucapan huruf sesuai sifatul huruf, menguasai 17 makharijul huruf teori dan praktiknya;
  2. mampu membaca dengan teliti berupa fathah, kasrah, dhamah, sukun, tanda mad, waqaf, dan bacaan pada rangkaian kalimat;
  3. mampu membaca mad sesuai ukuran, yaitu bacaan yang dibaca panjang dua harakat, empat harakat, lima harakat, dan enam harakat. Jenis mad ada dua, yaitu mad tabi’i atau mad ashli dan mad far’i. Adapun mad far’i, yaitu mad cabang yang terdiri dari 13 macam hukum diantaranya mad wajib muttashil, mad jaiz munfashil, mad ‘aridh lis-sukun, mad badal, mad ‘iwadh, mad lazim mutsaqqal kalimi, mad lazim mukhaffaf kalimi, mad lazim harfi musyba’, mad lazim mukhaffaf harfi, mad lïn, mad shilah terdiri dari: mad shilah qashirah & mad shilah thawilah, mad farqi, dan mad tamkin;
  4. bacaan murattal Al-Qur’an terasa lebih nikmat ketika pengucapan ghunnah-nya tepat sesuai dengan ketentuan. Bacaan seperti pada saat huruf nuun (نّ) atau miim (مّ) yang ber-tasydid demikian pula pada idgham bi ghunnah, iqlab, ikhfa, ikhfa syafawi, idgham mim bacaanya ditahan sekitar dua harakat atau kurang lebih dua detik tergantung tempo tartil yang dilakukan;
  5. mampu mempraktikkan cara membaca tafkhim dan tarqiq, kejelian membaca tebal dan tipis pada bacaan lafzhul jalalah, atau lafazh الله, juga pada hukum bacaan ra’ (ر), tebal maupun tipis, membuat bacaan hafalan Al-Qur’an yang dihafal terasa ringan dan mudah. Membaca Al-Qur’an sesuai kaidah menjadikan ringan pengucapan ayat sehingga melancarkan hafalan;
  6. mampu berhenti secara konsisten tepat pada tanda-tanda waqaf maupun memulai bacaan atau ibtida’ dengan tepat dapat memudahkan konsistensi hafalan sehingga hafalan lebih melekat dan menghindari kesalahan dalam pemahaman ketika membaca Al-Qur’an disertai tadabur terjemah;
  7. mampu membaca ayat gharib dan musykilat, yaitu bacaan asing di dalam Al-Qur’an yang kaidahnya tidak seperti pada umumnya. Seorang penghafal Al-Qur’an tentu saja harus menguasai bacaan gharib sebab ini merupakan tanda kefasihan seseorang dalam membaca Al-Qur’an. Begitu juga dengan bacaan musykilat, yaitu antara tulisan dan bacaan terdapat perbedaan cara membacanya. Agar lebih tepat pembacaannya maka harus melalui guru ngaji yang bersanad;
  8. stabil, selaras, dan tartil dalam tempo kecepatan bacaan ayat Al-Qur’an, yaitu bacaan perlahan atau pun cepat tetap haru sesuai kaidah tajwid dan tidak tergesa-gesa dalam membacanya sehingga membantu dalam memahami dan menghayati Al-Qur’an, menurut Ibnu katsir.

Kecepatan Tempo Bacaan Al-Qur’an

Adapun mengenai tempo atau kecepatan dalam membaca Al-Qur’an dibedakan menjadi beberapa tingkatan sebagai berikut:

  1. attahqiq : bacaan dengan tempo tenang, lambat, penuh penghayatan, baik dari segi bacaannya sesuai kaidah tajwid maupun saat upaya memahami isi kandungannya. Saat karantina tahfizh hal ini dilakukan oleh pemula yang sedang belajar membaca Al-Qur’an. Hal ini dimaksudkan agar bacaan lebih mudah diperhatikan secara detail;
  2. al-hadr : membaca Al-Qur’an dengan tempo cepat namun tetap memperhatikan kaidah-kaidah tajwid. Tempo al-hadr ini cocok dengan sistem karantina tahfizh karena identik dengan akselerasi menghafal Al-Qur’an. Membaca al-hadr bukan berarti tergesa-gesa dalam membacanya, melainkan tetap memperhatikan haq dan mustahaq-nya;
  3. at-tadwir : tempo pertengahan antara at-tahqiq dan hadr, bacaan ini dilakukan oleh peserta karantina tahfizh pada saat menyetorkan hafalan Al-Qur’an dihadapan muhaffizh/ah atau saat imam membaca ayat Al-Qur’an dalam bacaan salat jahr.

Para penghafal Al-Qur’an hendaknya mau mengajarkan Al-Qur’an pada orang lain. Sebab dengan mengajarkan berarti me-muraja’ah bacaan dan hafalan Al-Qur’an yang meliputi tahsin tilawah. Telinga yang biasa dilatih untuk mengoreksi bacaan yang keliru maka akan lebih peka dalam membimbing dan mengajarkan kaidah tajwid agar bacaan Al-Qur’an terpelihara yang berefek pada hafalan yang fasih. Adapun mengajarkan ilmu tajwid berarti memelihara pengetahuan dengan baik.

Yadi Iryadi, S.Pd
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Quran

Daftar Pustaka

Abdulwaly. 2016. Ramzuttikrar Kunci Nikmatnya Menjaga Hafalan Al-Qur'an. Yogyakarta: Diandra.
____. 2018. The Real Hafizh Karena Al-Qur’an tidak cukup hanya sekedar dihafal. Sukabumi: Diandra.
Al-Mahfani, M. Khalilurrahman. 2008. Juz Amma Tajwid Berwarna & Terjemahannya. Jakarta: WahyuMedia.
Kembar3HMI dan Fitriyanihanda. 2015. Lakukan!. QultuMedia.
Nizhan, Abu. 2008. Buku Pintar Al-Qur’an. Tangerang: Kultum Media.
Machmud, Ammar. 2015.  Kisah Penghafal Al-Qur`an. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Mansur, Ahmad. 2017. Iqro Al-Mansury: Panduan Membaca Al-Qur'an untuk Anak. Jakarta: Gramedia Widiasarana.
Qaradawi, Yusuf.  1999. Berinteraksi dan al qur'an. Jakarta: Gema Insani Press.
Ramadhani, Airin. 2017. 17 Menit Sehari Bisa Baca, Tulis, dan Hafal Al-Qur`an. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Suwarno. 2016.Tuntunan Tahsin Al-Qur’an. Yogyakarta: Deepublish.

Informasi dan Pendaftaran

www.hafalquransebulan.com

Hub. WA +6281312700100

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Copyright 2014-2019.