Bukan Dibentak tapi Dibimbing Metode Belajarnya

Hafal Quran Sebulan

Bukan Dibentak tapi Dibimbing Metode Belajarnya

Halaqoh Hafal Quran Karantina Tahfizh

Mental anak zaman sekarang berbeda dengan zaman dahulu saat ustadz dan ustadzah belajar pada guru ngaji. Jika zaman dahulu dimarahi guru ngaji biasanya ngaji semakin rajin. Akan tetapi, berbeda dengan anak zaman sekarang, yaitu ketika murid dibentak, dimarahi karena tidak mampu belajar Al-Qur’an maka kebanyakan menjadi putus asa dan tidak mau belajar ngaji lagi.

Saat murid kesulitan menghafal Al-Quran sebenarnya mereka telah merasakan kesedihan dan kesusahan. Sehingga lantas apa jadinya jika kesulitan mereka ditambah dengan pembicaraan yang meremehkan, mengecilkan hati calon penghafal Al-Qur’an?… tentu itu tidak memberdayakan.

Saat peserta karantina tahfizh merasakan kesulitan menghafal Al-Quran maka tugas dari muhaffizh dan muhaffizhah yaitu membesarkan hatinya bahwa sebenarnya ia mampu menghafal Al-Quran saat ada kemauan untuk terus berusaha mengikuti seluruh sistem dan metodologinya. Besarkan rasa percaya diri calon penghafal Al-Qur’an dan yang terpenting adalah membesarkan keyakinan pada Allah Subhanahu Wata’ala bahwa menghafal Al-Qur’an itu dijamin kemudahannya oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Jika pada zaman dahulu saat ustadz dan ustadzah sering dipukul, dibentak, dikecilkan, diremehkan oleh guru ngaji dengan perkataan, “Masa satu halaman gitu saja tidak hafal?” Kala itu santri akan semakin rajin menghafalkan Al-Qur’an. Namun sekali lagi ini zaman yang berbeda sehingga daripada mengatakan hal yang tidak bermanfaat maka lebih baik mendoakan anak didik calon-calon penghafal Al-Qur’an dengan mengatakan bahwa, “Sebenarnya kamu sudah hafal ayat ini dengan baik sebelum maju ke depan, namun masih perlu tambahan pengulangan lagi sampai lancar silakan dibaca lagi 15 menit lagi atas izin Allah pasti mudahkan dan kamu pun bertambah senang.”

Komunikasi Dua Arah

Pastikan saat ustadz dan ustadzah berbicara dengan peserta, yaitu dengan cara menatap matanya. Hindari berbicara saat salah satu dari keduanya melakukan aktivitas lain. Misalnya sambil bermain gedget, memainkan alat tulis, atau melihat ke arah lain.

Setelah perhatian terpusat, mulailah ajak berbicara dengan lembut misalnya, “Kamu punya kemampuan yang Allah titipkan tapi kamu baru menyadarinya sekarang bahwa kamu benar-benar ingin menghafalkan Al-Qur’an.

“Pada awalnya menghafal Al-Qur’an memang tidak mudah, itu hanya awalnya saja jika kamu membaca lagi dan menghafal terus dengan Al-Quran Virtual dan Tadabbur Terjemah tanpa henti maka setelah menghafal 3 Juz selanjutnya akan dimudahkan oleh Allah. Dan mulai sekarang pun kemudahan ini sudah mulai kamu rasakan”

“Dilihat dari semangat kamu menghafal Al-Qur’an nampaknya kamu patut bersyukur bahwa ada banyak pahala dari banyaknya membaca Al-Qur’an.”

dan sebagainya.

Peraturan yang Jelas

Buat peraturan yang jelas dan tidak ada multi tafsir serta konsekuensinya nyata. Misalnya, saat setoran hafalan Al-Quran terjadi kesalahan 3 kali dalam 1 halaman maka siap mundur dan membaca ulang sampai lancar dalam durasi 5-15 menit sebelum maju kembali. Saat aturannya jelas maka konsekuensi ini tidak akan membuat sakit hati pada diri murid sehingga dia akan menyiapkan hafalan yang lancar. Dan sekalipun belum lancar maka ketika konsekuensinya harus membaca ulang lagi maka tetap terjaga semangatnya untuk merevisi kesalahan hafalan. Adanya tata tertib yang disosialisasikan pada peserta akan menciptakan suasana kondusif dalam menghafal Al-Quran.

Nada Suara & Senyum

Gunakan suara datar, senyuman, dan bahasa yang mudah dimengerti sesuai usia peserta penghafal Al-Quran. Sebisa mungkin, berkomunikasilah dengan suara yang ramah, lemah lembut, atau tanpa berteriak dan tanpa bentakan. Meskipun dalam kondisi lelah, hendaknya ustadz dan ustadzah harus tetap menggunakan nada yang ramah penuh semangat dalam mengajar.

Ingatlah bahwa kesulitan menghafal Al-Quran bukan berarti tidak bisa belajar Al-Quran. Murid-murid yang belajar dengan kesungguhan hendaknya diberikan motivasi keutamaan-keutamaan menghafal Al-Quran.

Gunakan nasihat yang lembut tanpa teriakan saat membetulkan bacaan Al-Quran. Teriakan justru akan membuat hafalan menjadi buntu dan setoran hafalan Al-Quran tidak dapat dilanjutkan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lise Gliot pada anaknya sendiri. Bahwa ia memasang kabel perekam otak yang terhubung dengan monitor komputer untuk bisa melihat setiap perubahan respon di dalam otak anaknya. 

Hasilnya sungguh mencengangkan, rangkaian indah yang terbentuk saat anaknya disusui ibunya tiba-tiba menggelembung seperti balon dan pecah berantakan serta terjadi perubahan warna. Hal ini terjadi baru karena sebuah teriakan saja, apalagi jika anak terus dibentak dan dimarahi secara tak terkendali bukan tidak mungkin akan mengganggu struktur otak dari sang anak, bahkan organ tubuh penting lainnya di dalam tubuh seperti hati dan jantung.

Dibimbing Sistem & Metodenya

Saat murid kesulitan menghafal Al-Quran hendaknya diberitahukan salah satu dari penyebabnya kemudian ditangani dengan baik sebagaimana standar operasional prosedur yang telah ditetapkan di karantina tahfizh.

Saat peserta mengikuti program Karantina Hafal Quran Sebulan di Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional, peserta dibekali metode tahsin dan metode menghafal Al-Quran. Jika ada peserta yang belum mengerti metodenya maka lebih disarankan untuk konsultasi dengan pembimbingnya atau foundernya langsung.

Metode menghafal Al-Qur’an hanyalah pintu masuk untuk menghafal Al-Qur’an. Adapun orang yang melangkahkan menjalaninya adalah peserta itu sendiri didampingi para muhaffizh/muhaffizhah dalam durasi 12 jam/hari. 

Metode Yadain Litahfizhil Qur’an didesain untuk dapat menghafal Al-Qur’an disertai Al-Quran Virtual dan Visualisasi Tadabbur Al-Quran terutama bagi peserta yang sudah lancar membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid.

Informasi dan pendaftaran Hubungi 081312700100 atau langsung isi formulir online di website www.hafalquransebulan.com

Yadi Iryadi, S.Pd.
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Licensed Practitioner Neuro Linguistic Programming

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *