Bagaimana Adab Muslim Membaca Al-Quran?

Hafal Quran Sebulan

Bagaimana Adab Muslim Membaca Al-Quran?

Setiap muslim harus beradab dengan Al-Quran sebagaimana Rasulullah dan para sahabat memperlakukan Al-Quran. Tulisan ini disusun sebagian berdasarkan buku rujukan Ensiklopedia Akhlak Mulia: Teladan Akhlak Rasulullah untuk meraih Kemuliaan, Keberkahan, keselamatan, serta Kebahagiaan Hidup di Dunia dan Akhirat karya Abdillah Firmanzah Hasan terbitan Tinta Medina.

Al-Quran secara bahasa berarti bacaan. Kata Al-Quran berasal dari bahasa Arab asal kata Qara’a artinya membaca. Al-Quran diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melalui Jibril secara berangsur-angsur kemudian dihafalkan dan ditulis kembali oleh para shahabat sesuai petunjuk Rasulullah mulai dengan Surah Al-Fatihah dan ditutup dengan Surah An-Nas. Mempelajari dan membaca Al-Quran merupakan ibadah. Muhammad Ali Ash-Shabuni memberikan definisi pada Al-Qur’an bahwa ini merupakan firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad penutup para nabi dan rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril ‘Alaihi Salam kemudian ditulis pada mushaf yang kemudian diajarkan sehingga sampai kepada kita secara mutawatir. Membaca Al-Quran dinilai sebagai ibadah.

Belajar Membaca Al-Qur’an dengan niat mencari Ridha Allah

Bacaan Al-Quran hanya dinilai pahala apabila membacanya didasari oleh niat karena Allah. Membaca Al-Quran merupakan sarana termudah untuk mengumpulkan pahala kebaikan. Membaca Al-Qur’an dari setiap satu huruf-huruf itu berpahala 10 kebaikan. Sebagaimana Rasulullah bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, baginya satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan dilipat-gandakan menjadi sepuluh kali. Aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” (HR. At-Tirmidzi).

Agar mendapatkan balasan dari Allah, seorang muslim hendaklah membaca Al-Qur’an dengan niat ikhlas, mencari Ridha Allah, bukan untuk mencari perhatian orang lain. Sebab, Allah hanya memberi balasan pada lurusnya niat. “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)” (Q.S. Al-Bayyinah: 5).

Suci dari Hadas Besar dan Hadas Kecil

Salah satu adab utama dalam membaca Al-Qur’an (termasuk menyentuh mushafnya) adalah bersuci terlebih dahulu, sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an, “Dan (ini) sesungguhnya Al-Qur’an yang sangat mulia, dalam kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz), tidak ada yang menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan, diturunkan dari Tuhan seluruh alam” (QS. Al-Waqiah: 77-80).

Apabila ingin menyentuh Al-Quran maka hendaknya bersuci terlebih dahulu. Baik dengan ‘mandi besar’ jika hadas besar atau pun berwudhu apabila berhadas kecil. Teladan dari sahabat Nabi mengenai wajibnya bersuci sebelum memegang Al-Qur’an. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibali r.a. bahwa Ibnu Umar r.a. tidak menyentuh mushaf, kecuali dalam keadaan suci. Menurut Ibnu Taimiyah, ketika menyentuh mushaf, pendapat yang benar adalah wajib berwudhu sebelum menyentuhnya sebagaimana pendapat jumhur fuqaha. Namun, sebagian ulama membolehkan tidak bersuci selama tidak memegang mushafnya dengan bagian telapak tangan atau bagian tubuh lainnya. Namun apabila mushaf tersebut bercampur dengan terjemah atau dengan tafsir maka disunnahkan berwudhu terlebih dahulu.

Membaca Isti’adzah Sebelum Membaca Al-Qur’an

Agar ketika membaca Al-Quran pikiran tidak melayang-layang maka hendaknya membaca isti’adzah atau istilah populernya ta’awudz, yaitu ucapan ‘audzubillahi minasyaithanir rajiim, sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an, “Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk” (Q.S. An-Nahl: 98).

Membaca Al-Quran dengan Tartil

Membaca Al-Qur’an dengan tartil berarti membaca dengan susunan bacaan yang jelas, baik makhraj maupun tajwidnya. Allah memerintahkan dalam Al-Qur’an, “… Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”(Q.S al-Muzzammil:4).

Menurut Imam Syaukani dalam tafsirnya, yakni bacalah Al-Qur’an dengan pelan-pelan disertai dengan tadabur. Adapun makna tartil itu adalah memperjelas bacaan semua huruf dalam Al-Qur’an dan memenuhi hak-hak huruf tersebut dengan sempurna tanpa ditambah atau dikurangi.

Ibnu Hajar berpendapat bahwa orang yang membaca (Al-Qur’an) dengan tartil dan mencermatinya, ibarat orang yang bersedekah dengan satu permata yang sangat berharga, sedangkan orang yang membaca dengan cepat ibarat bersedekah beberapa permata, tetapi nilainya sama dengan satu permata. Boleh jadi, satu nilai lebih banyak daripada beberapa nilai atau sebaliknya.

Keutamaan orang yang tartil dan tidak dalam membaca Al-Qur’an digambarkan dalam hadits, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir dalam membacanya maka ia dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan ia masih terbata-bata serta merasa berat dalam membacanya maka ia mendapat dua pahala” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak Perlu Membaca Keras

Membaca Al-Qur’an hendaklah dilakukan dengan tenang, khusyu’, pelan, dan tidak perlu bersuara dengan keras karena bisa mengganggu orang lain. Terlebih jika dibaca di masjid yang ada jamaah lain sedang salat, tentu akan membuyarkan konsentrasinya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan, -Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, hendaknya tidak mengganggu yang lain dan tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an)” (HR Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi, dan Hakim) Hal itu berbeda jika ada acara atau kegiatan keagamaan di kampung misalnya, yang mengharuskan seorang qad untuk membaca Al-Qur’an dengan alat pengeras suara agar terdengar oleh seluruh undangan yang hadir.

Memperindah Bacaan Al-Qur’an

Al-Qur’an yang dibaca tartil dan suara merdu akan lebih memberi pengaruh jiwa pendengarnya. Tidak jarang hingga membuat orang yang membaca ataupun yang mendengar menangis. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam suatu hari mendengarkan Abu Musa al-Asy’ari r.a. membaca Al-Qur’an sampai malam. Sebabnya di rumah, beliau ditanya oleh Aisyah r.a. tentang hal yang menyebabkannya pulang sampai larut malam. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab bahwa beliau terpikat oleh kemerduan suara Abu Musa al-Asy’ari saat membaca Al-Qur’an, seperti merdunya suara Nabi Dawud a.s. Oleh karena itu. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan, “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu karena suara yang bagus menambah kebaikan Al-Qur’an” (HR Nasa’i dan Hakim).

Memikirkan Isi Kandungan Al-Qur’an

Seorang muslim yang membaca Al-Qur’an akan mendapat pahala. Namun, jika ia mau memikirkan kandungannya, bukan hanya pahala, ia juga akan mendapatkan petunjuk-petunjuk yang akan menjadi penerang dalam hidupnya. Tatkala turun ayat 190-191 Surah Ali ini, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua Ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam lalu bersabda, “Celakalah bagi orang yang membacanya, tetapi tidak memikirkannya” (HR. lbnu Hibban).

Itulah sebabnya mengapa banyak orang mampu membaca Al-Qur’an, tetapi akhlaknya masih belum mencerminkan nilai-nilai qurani. Mengapa demikian? Sangat mungkin karena ia tidak memikirkan kandungan Al-Qur’an sehingga tidak tahu mana perintah dan mana larangan.

Tidak Mengharapkan Keuntungan Duniawi dalam Membaca Al-Quran

Seorang muslim yang diberi karunia Allah berupa kemampuan dalam membaca Al-Qur’an dengan tartil dan indah hendaklah bersyukur atas nikmat tersebut. Sebab, tidak semua orang mampu melakukannya. Dengan kelebihannya tersebut, ia seyogianya bersikap hati-hati dan menjaga diri serta tidak bermaksud menyombongkan diri apalagi mencari keuntungan duniawi atas kemampuannya itu.

Tidak Terlalu Cepat Mengkhatamkan Al-Qur’an: Paling Cepat 3 Hari

Para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sosok yang sangat antusias dalam membaca Al-Qur’an sampai ada di antara mereka yang mengkhatamkannya dalam beberapa waktu saja. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tatkala ditanya amalan apakah yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab, wal murtahal.” Orang tersebut bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir setiap kali selesai, ia mengulanginya lagi dari awal” (HR At-Tirmidzi).

Memang tidak ada kewajiban untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu singkat. Hanya saja, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam membatasinya tidak kurang dari tiga hari. Sabdanya, “Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatani) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami”(HR Ahmad).

Menurut Imam Ibnu Rajab, memang ada larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari, tetapi larangan itu berlaku jika menjadikannya sebagai kebiasaan secara terus-menerus. Adapun pada momen-momen tertentu seperti datangnya bulan Ramadhan yang mempunyai keutamaan waktu atau di Makkah dan Madinah yang mempunyai keutamaan tempat, dianjurkan untuk membacanya sebanyak mungkin yang kita mampu.

Menghafal Al-Qur’an dan Rajin Muraja’ah

Sesungguhnya Allah telah menurunkan Al-Qur’an dan Dialah yang akan menjaganya. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya” (QS Al-Hijr: 9). Di antara penjagaan Allah terhadap Al-Qur’an adalah dengan menganugerahkan orang-orang yang mampu menghafalnya. Menghafal Al-Qur’an butuh perjuangan, bahkan ada yang butuh waktu tahunan untuk menghafalkan satu surah dalam Al-Qur’an.

Beruntunglah seorang muslim yang bersedia menjadi penghafal Al-Qur’an. Kelak ia akan mendapat penghormatan di sisi Allah. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Orang yang hafal Al-Qur’an nanti akan datang dan Al-Qur’an akan berkata, ‘Wahai Tuhan, pakaikanlah dia dengan pakaian yang baik lagi baru.’ Maka orang tersebut diberi mahkota kehormatan. Al-Qur’an berkata lagi, Wahai Tuhan, tambahkanlah pakaiannya.’ Maka orang itu diberi pakaian kehormatannya. Al-Qur’an berkata lagi, ‘Wahai Tuhan, ridhailah dia.’ Maka kepadanya dikatakan, ‘Baca dan naiklah.’ Dan untuk setiap ayat, ia diberi tambahan satu kebajikan” (HR At-Tirmidzi).

Mendengar bacaan Al-Qur’an

Saat ada orang yang membaca Al-Qur’an, seorang muslim dianjurkan untuk mendengarkannya dengan tenang. Dalam Al-Qur’an telah dijelaskan, “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diam1ah agar kamu mendapat rahmat” (QS Al-A’raf: 204).

Suatu hari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah meminta Abdullah bin Mas’ud ra. membacakan Surah untuknya. Ketika sampai pada ayat, “Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka” (QS. An-Nisa: 41). Abdullah bin Mas’ud mendapati air mata Rasulullah saw berlinang karena terharu (HR Bukhari dan Muslim).

Seorang muslim yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan khusyu’ akan menenangkan jiwanya sehingga makin meningkatkan keimanannya kepada Allah. Dikatakan dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal” (Q.S. Al-Anfal: 2).

Belajar Al-Qur’an dan Mengajarkannya

Kewajiban mencari ilmu berlaku mutlak bagi setiap kaum muslimin, termasuk dalam hal ini adalah belajar tentang ilmu Al-Qur’an. Jika seorang muslim mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, wajib baginya untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sampai bersabda, “Sebaik-baik kahan adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang (HR Bukhari). Menurut Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Qur’an, dia mengatakan bahwa maksud dari sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkan kepada orang lain” bahwa itu adalah sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengikuti dan meneladani para rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain.

Yadi Iryadi, S.Pd
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Quran Nasional

Informasi dan Pendaftaran Karantina menghafal Al-Quran Sebulan www.hafalquransebulan.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terimasih telah subcribe website kami

There was an error while trying to send your request. Please try again.

PUSAT KARANTINA TAHFIZH AL-QURAN NASIONAL will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.