6 Rahasia Sukses Belajar Al Quran di Karantina Tahfizh

Hafal Quran Sebulan

6 Rahasia Sukses Belajar Al Quran di Karantina Tahfizh

Ulama terdahulu berhasil memperoleh ilmu dari hasil belajar karena memenuhi 6 persyaratan. Meskipun ini merupakan konsep zaman dahulu tetapi masih relevan dengan zaman sekarang. Beliau adalah Syaikh Az-Zarnuji di dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim seorang ulama yang mengutamakan pendidikan tentang etika saat proses belajar. Hal ini bertujuan agar pengetahuan yang dimiliki dapat bermanfaat di dalam kehidupan bermasyarakat. Tujuan pendidikan merupakan terbentuknya kepribadian yang baik.

Agar proses belajar Al Quran berhasil maka beliau menulis sebuah syair dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu., dua bait syair:

أَلَا لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ # سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ

ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍوَبُلْغَةٍ # وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

Artinya: “Ingatlah! Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memenuhi enam syarat. Saya akan beritahukan keseluruhannya secara rinci. Yaitu: (1) KECERDASAN; (2) KEMAUAN; (3) SABAR; (4) BIAYA; (5) BIMBINGAN GURU dan (6) WAKTU BELAJAR YANG LAMA.”

Yayasan Karantina Tahfizh Al-Quran Nasional yang membuka program Karantina Hafal Quran Sebulan tidak bertentangan dengan 6 syarat tersebut. Diantaranya:

  • Kecerdasan dalam Belajar Al Quran

Karantina tahfizh tidak melakukan seleksi terhadap calon peserta sehingga dalam waktu sebulan belajar Al Quran hasilnya variatif sesuai dengan potensi yang dimiliki. Asalkan peserta sudah mampu membaca Al-Quran sesuai tajwid, biasanya hasilnya maksimal. Apabila belum mampu membaca Al-Quran sesuai kaidah tajwid maka fokus belajar memperbaiki bacaan Al-Quran. Kecerdasan setiap orang dapat dilatih seiring dengan kemauan belajar.

  • Kemauan

Terkadang beberapa peserta yang masuk karantina tahfizh awalnya merupakan paksaan dari orang tua, sekolah, adapun di pertengahan karantina tahfizh mereka menikmati bacaan Al-Quran kemudian menjadi penyesalan, mengapa tidak berkemauan sejak awal sehingga hasilnya maksimal. Kemauan untuk mengikuti Standar Operasional Prosedur karantina tahfizh merupakan serangkaian proses yang sudah didesain sedemikian rupa sehingga terselenggara program menghafal Al-Quran. Orang yang diberikan kemauan dengan kesadarannya sendiri untuk belajar Al Quran merupakan orang yang mendapatkan karunia dari Allah Subhanahu Wata’ala.

  • Sabar

Saat peserta kesulitan menghafal Al-Quran seharusnya sabar dengan terus menghafal, saat banyak ayat mirip atau sama juga seharusnya bersabar terus menghafal, saat mudah menghafal Al-Quran pun tetap sabar dengan kesabaran yang sama. Kenyataannya saat sulit menghafal Al-Quran yang dirasakan yaitu stres, cemas, tertekan, gelisah, putus asa, sampai datangnya hidayah melalui ikhtiar coaching konseling untuk membuka kesadaran mengikuti sistem dan metodologinya kemudian barulah ia dapat menikmati proses menghafal Al-Quran.

  • Biaya

Karantina tahfizh tidak disubsidi oleh negara/donatur lain sehingga diri pesertalah yang berinfak untuk kepentingan pendidikan dan belajar Al-Quran. Fasilitas berupa penginapan, makan 3 kali sehari, seragam wisuda, Al-Quran, buku bacaan motivasi, blocknote, alat tulis, rihlah, dan wisuda.

  • Bimbingan Guru

Ada muhaffizh dan muhaffizhah yang siap menyimak hafalan Al-Quran setiap waktu belajar Al Quran dalam waktu durasi intensif 10-12 jam per hari selama sebulan (35 hari).

  • Waktu Belajar yang Lama

Meskipun peserta telah mengkhatamkan 30 juz atau sekian juz dalam waktu sebulan di karantina tahfizh tetapi itu bukan berarti akhir dari proses menghafal Al-Quran. Setelah khatam setoran hafalan Al-Quran per 1 halaman, maka harus ditingkatkan menjadi setoran hafalan per 5 halaman sehingga dalam waktu 1 minggu kembali lancar 1 juz. Kemudian ditingkatkan lagi menjadi setoran hafalan per juz, 5 juz, 10 juz, dan seterusnya. Apabila peserta tidak melanjutkan pada program mutqin 3 bulan, maka proses belajar Al Quran seyogyanya dilanjutkan sambil aktivitas kehidupan sehari-hari.

Banyak diantara peserta yaitu santri dari Pondok Pesantren atau pelajar Sekolah Islam Terpadu (SIT). Setelah peserta belajar Al Quran hafalan 30 juz di karantina tahfizh kemudian khatam juga di sekolah maka ini akan menjadi bekal prestasi dia di sekolah tersebut. Waktu belajar yang panjang hendaknya berkelanjutan setelah membiasakan diri belajar Al-Quran di karantina tahfizh.

Semoga Allah memudahkan kita semua dalam mempelajari Al-Quran di mana pun Anda belajar.

Informasi dan Pendaftaran www.hafalquransebulan.com

WA 081312700100

Yadi Iryadi, S.Pd.
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Quran Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Quran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *