5 Prinsip Mencapai Kesuksesan Menghafal Al-Qur’an disertai Keimanan

Hafal Quran Sebulan

5 Prinsip Mencapai Kesuksesan Menghafal Al-Qur’an disertai Keimanan

Sukses bukanlah mencapai apa diinginkan oleh orang lain. Sukses berarti berhasil mencapai apa yang ia inginkan secara personal. Hanya orang-orang yang memiliki tujuan yang akan mengetahui seberapa sukses ia dalam mencapai tujuannya. Jika ada orang yang hidup tanpa tujuan maka ia tidak dapat dikatakan sebagai orang sukses karena dia sendiri tidak mengetahui apa yang ia inginkan dalam hidupnya.

Jika menghafal Al-Qur’an merupakan salah satu tujuan hidup Anda dalam beribadah pada Allah maka kesuksesan dapat diukur dengan pencapaian satu juz, dua juz, tiga juz, atau bahkan sampai 30 juz. Adapun orang yang tidak memiliki tujuan untuk menghafal Al-Qur’an maka ia tidak bisa dikatakan gagal dan mustahil juga mendapatkan kesuksesan menghafal Al-Qur’an walaupun setengah juz.

Baiklah kita akan fokus membahas mengenai 5 prinsip agar dapat mencapai kesuksesan dalam menghafal Al-Qur’an dan dalam bidang apa pun.

Mengetahui apa yang benar-benar Anda inginkan

Jika seseorang telah memutuskan untuk fokus menghafal Al-Qur’an maka hendaknya segala keingintahuan dan aktivitasnya harus tertuju pada apa yang ia inginkan.

Mengambil tindakan nyata untuk mencapainya

Tidakan merupakan hal penting dalam melakukan sesuatu. Keinginan yang menggebu-gebu jika tanpa tindakan nyata maka tidak akan berpengaruh pada pencapaian impian/cita-cita.

Menginderai seluruh proses untuk mencapai tujuan

Menyadari diri bahwa aktivitas yang dilakukan menuju pada cita-cita yang diharapkan. Apabila ada aktivitas yang tidak menuju pada tujuan maka dapat segera berbalik arah yaitu kembali melakukan aktivitas yang berkaitan dengan tujuan.

Memiliki fleksibilitas

Mampu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi agar tetap mengarah kepada tujuan. Misalnya ketika belajar tiba-tiba datang tamu maka sejenak melayani tamu sampai tuntas dan kembali mengganti waktu yang terbuang tersebut untuk ikhtiar pencapaian cita-cita.

Berada pada kondisi fisik dan mental yang terbaik

Pada saat melakukan aktivitas pencapaian cita-cita maka seseorang harus berada pada performa terbaiknya baik secara fisik maupun mental bahkan spiritual.

Menghafal Al-Qur’an memerlukan keinginan untuk melakukannya. Mau berproses dalam mencapainya. Hafalan Al-Qur’an tidak dapat dicapai tanpa tujuan menghafalnya. Sebenarnya dalam proses menghafal Al-Qur’an bisa dibedakan antara proses dan tujuan. Hendaknya calon-calon penghafal Al-Qur’an meniatkan dalam hatinya bahwa menghafal Al-Qur’an merupakan suatu jalan untuk mencapai keridhaan Allah Subhanahu Wata’alan  dan mendapatkan surga-Nya serta dijauhkan dari api neraka.

Jika tujuannya Allah maka Allah akan membantu proses menghafal Al-Qur’an. Persiapan yang matang sebelum mencapai hafalan Al-Qur’an sebaiknya yaitu keimanan kepada Allah Subhanahu Wata’ala bahwa Ialah Sang Pencipta alam semesta dan segala isinya.

Keimanan pada adanya malaikat-malaikat yang diantaranya yaitu malaikat Jibril yang menurunkan wahyu-wahyu. Salah satu wahyu akhir zaman yang sampai pada saat ini terus lestari melalui hafalan yaitu kitab Suci Al-Qur’an. Mengimani kitab suci wajib dan termasuk pada rukun iman. Jika kita percaya bahwa iman kepada Kibtabullah merupakan hal yang pokok dalam agama Islam maka seseorang akan serius dalam menghafal kitab sucinya.

Berikutnya beriman kepada hari kiamat bahwa kehidupan ini merupakan sementara saja sedangkan akhirat selamanya. Al-Qur’an akan mengekalkan kita dalam kenikmatan surga paling tinggi sehingga menjadi prioritas dan tujuan utama untuk bias bahagia hidup di dunia dan akhirat.

Selanjutnya yaitu beriman kepada Qada dan Qadar. Bahwa segala sesuatu telah tercatat dalam Lauhul Mahfuzh. Seseorang sudah ditentukan segala sesuatunya sedangkan manusia dinilai ibadah dari usaha yang dikerjakannya. Tidak ada yang dapat mengubah takdir kecuali doa. Untungnya manusia diberikan pahala bukan dari hasil yang ia capai melainkan dari usaha yang ia kerjakan untuk mencapai suatu yang diinginkan.

Menghafal Al-Qur’an pahala didapatkan dari banyaknya ayat yang dibaca sehingga sekalipun sebulan mendapatkan 10 juz, 20 juz atau bahkan 30 juz maka yang terpenting adalah pasca karantina tahfizh Al-Qur’an semakin rajin memuraja’ah hafalannya.

Yadi Iryadi, S.Pd.

Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Licensed Neuro Linguistic Programming (NLP)
www.hafalquransebulan.com
www.karantinatahfizh.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *