4 Tips Menghafal Al-Qur’an di Karantina Tahfizh

Hafal Quran Sebulan

4 Tips Menghafal Al-Qur’an di Karantina Tahfizh

menghafal alquran dengan mudah

Meskipun Al-Qur’an menyatakan diri mudah dipelajari namun kenyataanya tidak mudah. Al-Qur’annya yang dijamin kemudahannya namun kemudahan ini hanya ada pada orang yang mau mempelajarinya. Banyak orang yang sudah mencoba menghafal Al-Qur’an di luar karantina tahfizh, namun tak kunjung bisa menghafalnya. Kalaupun berhasil, biasanya lebih mudah hilang lagi. Lalu bagaimana rahasianya agar bisa menghafal Al-Qur’an dengan konsisten?

Perkara yang harus diutamakan jika ingin hafal Al-Qur’an yaitu dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Mau memperbaiki niat ikhlas Lillahi ta’ala, memiliki keyakinan positif terhadap Allah, diri sendiri dan semua orang kemudian disiplin menjalani sistem dan metodologi yang tepat.

Ketakwaan

Pertama,  kita yang ingin menghafal Al-Qur’an harus berupaya meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Allah yang memiliki Al-Qur’an maka mintalah kepada-Nya dengan berdoa. Al-Qur’an merupakan kalamullah dan mintalah agar dimampukan untuk menghafalkannya. Orang yang bertakwa akan dimudahkan segala urusannya. Firman Allah:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرًا

Artinya: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. At-Thalaq: 4)

Ikhlas

Kedua, ikhlaskan niat. Seorang calon penghafal Al-Qur’an harus memiliki niat yang jelas dan spesifik yaitu sebagai ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Niat ini bukan timbul dari dorongan orang tua, bukan dari dorongan guru melainkan minat secara pribadi yang didukung oleh orang tua dan guru. Menghafal Al-Qur’an hendaknya diniatkan agar bukan untuk mendapatkan gelar Al-Hafizh, kejuaraan, jabatan, beasiswa, jodoh, maupun hal-hal duniawi lainnya. Niatkan Lillahi ta’ala maka itu semua Allah akan berikan pada para penghafal Al-Qur’an.

Menghafal Al-Qur’an jangan diniatkan untuk bisa hafal Al-Qur’an yang kemudian menyombongkan diri dihadapan orang-orang yang belum hafal Al-Qur’an. Bertakwalah dan luruskan niat untuk beribadah kepada Allah maka segala kemudahan akan dibukakan oleh Allah Subhanahu Wata’ala bahkan biasanya para penghafal Al-Qur’an akan diberikan sesuatu yang lebih baik dibandingkan orang yang meminta.

Lalu mengapa kita menghafal Al-Qur’an? Menghafal Al-Qur’an bagi orang-orang beriman yaitu untuk menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan. Target utama penghafal Al-Qur’an yaitu untuk mengejar kehidupan di akhirat. Adapun kebutuhan manusia di dunia akan dipenuhi oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20)

Menurut keterangan Tafsir Al-Muyassar, “Barangsiapa ingin amal ibadahnya mendapatkan pahala akhirat, maka kebaikannya akan dilipatgandakan sebanyak 70 kali lipat. Barangsiapa yang menginginkan amal ibadahnya hanya untuk urusan dunia dan memenuhi syahwatnya, bukan untuk akhirat, maka Kami akan memberikan hal itu, namun tidak ada apapun yang tersisa baginya di akhirat, karena dia mengabaikan persiapan untuk menghadapinya.”

Keyakinan Positif

Ketiga, keyakinan dan nilai-nilai yang positif terhadap Allah Subhanahu Wata’ala bahwa proses menghafal Al-Qur’an dapat dilakukan atas pertolongan-Nya. Jika mengalami kesulitan menghafal Al-Qur’an maka tetap berprasangka baik yaitu dengan meyakini bahwa ayat tersebut sedang proses dihafal atau sedang proses dilancarkan kembali dari hafalan-hafalan yang baru dihafalkan maupun pengulangan.

Ikhtiar dan Istiqamah

Keempat, mulai berikhtiar dengan pengaturan waktu menghafal Al-Quran. Manusia dibekali waktu sehari semalam dalam 24 jam. Bagaimana jika 22 jam digunakan untuk urusan dunia yang halal dan berkah. Adapun 2 jam fokus setiap hari untuk belajar Al-Qur’an bersama guru.

Apabila seseorang tanpa melakukan karantina tahfizh pun mau berproses menghafal Al-Qur’an dalam waktu 2 jam per hari maka Insyaa Allah dalam 2 tahun mampu menghafal Al-Qur’an 30 juz. Asalkan konsisten dan disiplin sebenarnya dalam satu tahun delapan bulan ditambah empat hari dilakukan terus menerus untuk menghafal 604 halaman Al-Qur’an yaitu 30 juz. Sementara tiga bulan 26 hari sisanya digunakan untuk tahsin pada awal sebelum menghafal atau sekaligus waktu untuk muraja’ah juga.

Kendala paling utama dalam menghafal Al-Qur’an, yaitu kurang konsisten dan disiplin dalam menjalankannya. Maka harus ada sistem dan metodologi yang digunakan sebagai pembiasaan mendisiplinkan diri dalam belajar Al-Qur’an. Program Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional dirancang untuk membiasakan peserta belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an dalam durasi panjang. Setidaknya jadwal belajar di karantina tahfizh meliputi 12 jam per hari. Setelah program menghafal Al-Qur’an 30 juz, tahap selanjutnya yaitu memuraja’ah hafalan Al-Qur’an. Cara muraja’ah setelah karantina tahfizh yaitu dengan melancarkan kembali di rumah setiap hari minimal 5 halaman (Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis). Adapun Jum’at Sabtu untuk muraja’ah satu juz. Hari Ahad khusus untuk memuraja’ah seluruh juz. Jika konsisten 2 jam per hari dengan target 5 halaman per hari maka dimungkinkan untuk bisa selesai dalam waktu 3-6 bulan saja. Insyaa Allah.

Yadi Iryadi, S.Pd.

Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Licensed Neuro Linguistic Programming (NLP)
Master Coach Hipnotahfizh
www.hafalquransebulan.com
www.karantinatahfizh.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *