12 Tips Menghafal Al-Quran

Hafal Quran Sebulan

12 Tips Menghafal Al-Quran

hafal quran sebulan

1. Ikhlas

Syarat diterimanya suatu amal ibadah yaitu dengan meniatkan ikhlas karena ibadah berharap keridhaan dari Allah Subhanahu Wata’ala. Segala ibadah termasuk menghafal Al-Qur’an diwajibkan agar ikhlas dalam niat, memperbaiki keinginan, dan penuh perhatian terhadap Al-Qur’an.

Firman Allah Subhanahu Wata’ala:

فَاعْبُدِ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ . أَلَا لله الدِّينُ الْخَالِصُ

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)” (QS. Az-Zumar: 2-3)

Betapa sia-sia amalan ibadah yang tidak dilakukan karena Allah. Oleh karena itu, penting ditekankan bahwa memperbaharui niat sangat diperlukan oleh para penghafal Al-Qur’an. Jika berbelok keinginan maka kembalikan niat menghafal Al-Qur’an adalah untuk kebahagiaan abadi di akhirat. Mengingat bahwa hidup di dunia hanya sementara dan amalan shaleh yang akan berguna selamanya.

2. Berguru Kepada Orang yang Fasih Membaca Al-Qur’an

Idealnya penghafal Al-Qur’an menyimakkan hafalan mereka pada guru yang hafal Al-Qur’an dengan bacaan yang fasih. Namun jika tidak ada guru yang hafalannya lancar maka minimal bisa dilakukan dihadapan guru yang fasih dan teliti terhadap bacaan Al-Qur’an. Kefasihan bacaan Al-Qur’an menunjang kemudahan dalam menghafalkannya. Agar bacaan dapat fasih maka tidak ada cara lain kecuali harus bertatap muka secara langsung atau talaqi dihadapan guru. Kesalahan sekecil apapun pada bacaan Al-Qur’an hendaknya dikoreksi agar hafalan yang dihasilkan berdasarkan bacaan yang benar atau haqqa tilawatih.

Cara menghafal Al-Qur’an Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam talaqi langsung kepada malaikat Jibril. Kemudian para shahabat belajar langsung dari Rasulullah. Begitu juga generasi umat ini mendengarkan dan mengambil sanad bacaan dan hafalan melalui guru-guru yang fasih dalam bacaan hafalan Al-Qur’an.

Kesalahan sekecil apapun hendaknya ada kerelaan hati untuk dikoreksi agar bacaan bisa sesuai dengan bacaan yang sesungguhnya.

3. Menentukan Target Hafalan dan Setoran Hafalan

Target hafalan hendaknya tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Target hendaknya realistis sesuai dengan kemampuan masing-masing penghafal Al-Qur’an. Apabila mampu menghafal Al-Qur’an 1 halaman per hari maka lakukanlah 1 halaman per hari. Namun apabila mampu menghafal Al-Qur’an 20 halaman per hari maka yang terpenting adalah konsisten setiap hari dengan target yang sudah ditentukan.

Berbeda dengan program karantina tahfizh Al-Qur’an. Karantina tahfizh mentargetkan bukan berdasarkan hasil harian, melainkan berdasarkan durasi menghafal Al-Qur’an. Dalam hal ini di Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional menerapkan target harian berdasarkan jam belajar 12 jam per hari. Adapun mengenai perolehannya maka disesuaikan dengan level belajarnya masing-masing. Hendaknya orang yang ingin menghafal Al-Qur’an  harus menentukan berapa jam atau berapa halaman yang diinginkan setiap menghafalkannya. Target tidak boleh terlalu ringan dan tidak perlu terlalu berat. Sesuaikan saja dengan preferensi masing-masing penghafal.

4. Hafalkan Ayat Per Halaman Hingga Lancar Tanpa Kesalahan

Proses menghafal Al-Quran tidak dibolehkan berpindah pada hafalan baru kecuali dia telah menyempurnakan hafalan sebelumnya. Hal ini dilakukan agar hafalan tersimpan dengan kuat dalam memori sebelum ditambah dengan memori hafalan berikutnya.

5. Membaca Dengan Berbagai Tempo Bacaan

Tempo membaca Al-Qur’an yang termasuk tartil ada 3 macam: (1) Tahqiq, bacaan lambar; (2) Hadr, yaitu bacaan cepat; dan (3) Tadwir, yaitu bacaan antara Tahqiq dan Hadr.

Pengulangan hafalan Al-Qur’an diawali dengan Tahqiq yaitu bacaan dengan tempo lambat. Saat membaca dengan tahqiq ini hanya di awal saja yaitu secara detail mata seolah melakukan rekaman dalam kamera mata. Lihatlah mushaf Al-Qur’an pada ayat-ayat yang sedang dihafalkan seolah sedang shooting menggunakan mata. Setelah tulisannya terbayang kemudian baca tulisan tersebut dalam Mushaf Al-Qur’an Virtual. Mengenai hal ini ada pembekalan khusus agar mampu menghafal satu kata dalam satu detik, satu baris mampu dihafalkan dalam satu menit dan disertai visualisasi tadabur terjemah, yaitu Metode Yadain Litahfizhil Qur’an.

6. Hafalan Sesekali Dilagukan dengan Meniru Syeikh

Hafalan yang indah, baik, dan benar membuat pembaca dan pendengarnya merasakan kenikmatan. Pengulangan hafalan yang dilagukan juga dapat menghilangkan kepenatan. Tentu saja dengan volume suara tidak terlalu nyaring dan juga tidak terlalu pelan.

Karena melagukannya termasuk sesuatu yang enak didengarkan sehingga membantu untuk menghafal dan membiasakan lisan dengan nada tertentu sehingga dapat diketahui kesalahannya secara langsung ketika tidak sesuai dengan nada bacaan. Apalagi Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالقُرْآنِ

“Bukan dari golongan kami orang yang tidak melagukan dengan Al-Qur’an.” (HR. Bukhari)

Nada muratal dapat menguatkan hafalan dengan catatan saat membacanya juga tetap terbayang bentuk-bentuk tulisannya dan tadabur terjemah. Jika nada muratal hafal sementara bentuk tulisannya tidak tahu dan tadaburnya tidak ada maka hafalan hanya menempel pada lidah saja. Ini pun sudah bagus tetapi tentu saja kita ingin lebih baik lagi agar hafalan lebih melekat pada long term memory (ingatan jangka panjang).

7. Membaca Hafalan Al-Qur’an dalam Bacaan Shalat Sunnah dan ketika Menjadi Imam Shalat

Hafalan Al-Qur’an yang sering dibaca ketika shalat sunnah atau bahkan ketika menjadi imam tahajud maka akan lebih melekat lagi. Hafalan yang senantiasa dibaca dan dijadikan sebagai kesibukan sepanjang siang dan malam akan membuat hafalan melekat dengan kuat.

Hafalan dibaca ketika shalat sunnah dengan pelan. Sementara ketika menjadi imam shalat maka dibaca jahr (nyaring).

8. Menggunakan Mushaf Satu Model Cetakan

Mushaf Al-Qur’an secara fisik akan menjadi Al-Qur’an Virtual dalam ingatan hafalan para penghafal Al-Qur’an. Oleh karena itu, maka penggunaan satu jenis cetakan mushaf harus dilakukan secara tegas. Efeknya mungkin belum terasa ketika hafalan masih di bawah satu juz. Namun apabila sudah lebih dari satu juz maka harus memilih jenis mushaf yang direkomendasikan oleh mayoritas penghafal Al-Qur’an yaitu mushaf 15 baris per halaman.

Seorang penghafal Al-Qur’an akan melihat dan mendengarkan gambar letak-telah ayat pada tempat mushaf tersebut. Bisa jadi ayat tersebut letaknya di sebelah kanan atas, kanan tengah, dan kanan bawah. Sementara ayat berikutnya di halaman sebelah kiri mushaf yaitu kiri atas, kiri tengan, dan kiri bawah.

Mushaf 15 baris memudahkan 5 baris bagian atas, 5 baris bagian tengah, dan 5 baris bagian bawah. Penghafal Al-Qur’an yang konsisten menghafal Al-Qur’an dengan satu mushaf maka akan dapat membayangkan hal tersebut.

9. Memahami Visualisasi Tadabur Terjemah

Kebanyakan orang menganggap bahwa hafalan ayat Al-Qur’an saja susah apalagi ditambah beban menghafalkan terjemahnya. Mitos tersebut ternyata salah. Bahkan sebaliknya justru dengan memahami terjemah akan dapat memudahkan menghafal Al-Qur’an karena di dalam Al-Qur’an terkandung banyak kosakata yang mirip atau sama yang akan memudahkan proses menghafal Al-Qur’an.

Pada Metode Yadain Litahfizhil Qur’an proses menhafal Al-Qur’an lebih disederhanakan lagi yaitu isi kandungan Al-Qur’an 30 juz isinya hanya ada dua bagian saja yaitu bagian kiri (kejahatan) dan bagian kanan (kebaikan).

10. Mengulang Hafalan Secara Rutin dan Istiqamah

Menghafal Al-Qur’an berbeda dengan mengahafal syair atau prosa. Karena Al-Qur’an cepat hilang dari ingatan. Nabi sallallahu alaiahi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنْ أَحَدِكُمْ مِنَ الْإِبِلِ مِنْ عُقُلِهِ 

(متفق عليه)

“Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya. Dia (hafalan Al-Qur’an) lebih cepat lepas dibandingkan unta dari ikatannya.” (H.R. Muttafaq ‘alihi).

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ، إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا وَإِنْ طَلَّقَهَا ذَهَبَتْ

(متفق عليه)

“Sesungguhnya perumpamaan pemilik  Qur’an seperti pemilik unta yang tertambat. Kalau dia menjaganya akan terikat, kalau dibiarkan akan lepas.” (H.R. Muttafaq alaihi).

Hal itu mengharuskan penghafal  mempunyai wirid tetap minimal satu juz  setiap hari. Maksimal membaca 10 juz. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ لَمْ يَفْقَهْهُ 

(متفق عليه)

“Siapa yang membaca  kurang dari tiga (hari) maka dia tidak mengerti.” (Muttafaq alaih)

Dengan ikhtiar mengulang terus menerus hafalan Al-Qur’an maka hafalan akan terjaga. Justru dengan pengulangan bacaan inilah proses mendulang pahala kebaikan dari setiap hurufnya.

Satu hurufnya diganjar dengan 1 kebaikan dan dilipatkan menjadi 10 kebaikan. 

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ». “Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

11. Menghafalkan dengan Jeli Ayat-ayat yang Mirip

Al-Qur’an Karim dalam arti dan lafaznya memiliki kemiripan (mutasyabih). Allah ta’ala berfirman:

اللهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللهِ  (سورة الزمر: 23)

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Al-Qur’anQur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. A-Zumar: 23)

Penghafal Al-Qur’an harus memiliki perhatian khusus terkait dengan (ayat-ayat) yang mirip (mutsayabihat). Yang kami maksud adalah kemiripan dalam lafaznya.  Seberapa besar perhatiannya dalam masalah ini sebesar itupula kualitas hafalannya.

12. Memanfaatkan Kesempatan Hidup untuk Menghafal Al-Qur’an

Menghafal Al-Qur’an bukan hanya untuk anak-anak dan remaja saja melainkan siapapun dengan profesi apa pun berkesempatan untuk meluangkan waktu sebulan kemudian memuraja’ah hafalan pasca karantina tahfizh.

Semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberikan hidayah dan taufiq kepada kita semua sehingga dimampukan untuk menghafal Al-Qur’an sebulan di Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional www.hafalquransebulan.com kemudian memuraja’ahnya seumur hidup dalam aktivitas sehari-hari. Aamiin.

Yadi Iryadi, S.Pd
Dewan Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *